Ketatnya Protokol Kesehatan Saat Uji Coba Sekolah Tatap Muka Hari Pertama di Jakarta

Uji coba pembelajaran tatap muka di Jakarta dimulai hari ini, Rabu (7/4) dan akan dilaksanakan hingga 29 April mendatang. Durasi kegiatan belajar mengajar dibatasi 3-4 jam saja setiap sesinya. Selain itu jumlah peserta didik juga dibatasi maksimal 50 persen karena mereka harus menjaga jarak 1,5 meter.

Kepala sekolah SDN 15 Cipete Utara, Tri Cahyadi mengungkapkan bahwa jumlah orangtua yang mengizinkan anaknya untuk mengikuti pembelajaran tatap muka di SDN 15 lebih dari 50 persen. Padahal kata dia, pada awal wacana sekolah akan dibuka, sebagian besar orangtua murid tidak mengizinkan anaknya untuk kembali ke sekolah.

“Totalnya dari satu sekolah ini, 78 persen yang orangtuanya mengizinkan sekolah tatap muka. Padahal tadinya banyak yang tidak setuju, tapi karena orangtua juga melihat seperti apa protokol kesehatan yang kita terapkan, jadi banyak yang setuju,” kata Tri saat ditemui di SDN 15 Cipete Utara, Jakarta Selatan, Rabu (7/4).

Karena jumlah peserta didik yang dibolehkan belajar tatap muka di SDN 15 mencapai 78 persen, maka kata Tri, SDN 15 membuka 2 sesi pembelajaran. Sesi pertama dimulai pukul 07.00-09.00 WIB, sesi kedua pukul 09.30-12.30 WIB. Sebelum membuka sesi kedua pun pihak sekolah akan menyemprotkan desinfektan ke bangku dan meja peserta didik.

Tri memastikan, peserta didik yang datang ke sekolah telah mendapatkan izin orangtua, karena seperti arahan Dinas Pendidikan DKI Jakarta bahwa sekolah harus memastikan peserta didik yang datang ke sekolah sudah mendapat izin dari orangtua melalui surat pernyataan resmire, sesuai apa yang disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. Selain itu, sekolah juga harus melakukan sosialisasi terlebih dahulu kepada orangtua dan murid.

uji coba pembelajaran tatap muka di jakarta©2021 Merdeka.com/Arie Basuki

“Jadi yang tadinya orangtua itu tidak setuju, lalu berubah pikiran, boleh ganti pilihan tapi harus buat surat lagi. Nanti surat lamanya dicabut. Kita sudha sosialisasi juga,” ujarnya.

“Jadi misalnya kelas 4B yang ornagtuanya mengizinkan hanya 22 orang, nah sisanya 8 orang ini tetap kita mengikuti pembelajaran secara online. Jadi bukan berarti dia libur, karena kan gurunya ngajarnya blended learning. Online dan offline,” ujarnya.

Berdasarkan pantauan di lokasi, sarana dan prasarana protokol kesehatan yang disediakan SDN 15 Cipete Utara memang terbilang lengkap. Sekolah tersebut bahkan menyiapkan masker dan face shield bagi para guru dan peserta didik. Di setiap koridor juga terdapat beberapa tempat cuci tangan.

Bukan hanya menyediakan face shield dan masker di setiap kelas, SDN 15 juga menyiapkan ruang isolasi. Terdapat pula ruang UKS dengan guru pembina UKS dan tenaga kesehatan dari Pusekesmas Kelurahan Cipete Utara.

uji coba pembelajaran tatap muka di jakarta©2021 Merdeka.com/Rifa Yusya

“Dari rumah mereka sebenarnya sudha harus pakai masker dan face shield, tapi kami memang juga siapkan 50 masker dan 50 face shield di setiap kelas setiap harinya untuk mereka,” kata Tri.

Salah satu petugas Puskesmas Kelurahan Cipete Utara, Intan, mengatakan bahwa mereka memang ditugaskan untuk mengecek protokol kesehatan di sekolah tersebut. Bukan hanya itu, mereka juga akan membantu para guru untuk menangani jika ada murid yang sakit.

“Kita mengawasi penerapan protokol di sini, kaya tadi ada murid yang lewat dia pakai masker scuba, nah kita ingatkan gurunya supaya anak itu pakai masker bedah, tapi tadi lihat di ruang kelas sih udah disiapkan,” kata Intan saat ditemui di SDN 15 Cipete Utara, Jakarta Selatan.

“Lalu kalau urgent, guru UKS selalu stand by dan bisa langsung panggil tenaga kesehatan dari Puskesmas Cipete,” ujarnya.

Berita terkait: