Kepemimpinan Wanita Perlu Dikembangkan untuk Dorong Kemajuan Bangsa

Di era informasi dan digital ini, kepemimpinan tak hanya identik dengan pria, tetapi juga wanita. Analis Kebijakan Madya Deputi Bidang Pengkajian Strategik Lemhanas, Dr Indira Santi Kertabudi MSi mengatakan perlunya menyiapkan kemampuan leadership kaum wanita dalam membangun bangsanya.

“Saya melihat bagaimana kita bisa menyiapkan kaum wanita di era globalisasi ke depan, di mana sekarang sudah 4.0. Jadi penyiapannyan itu kuncinya adalah di leadership , di kepemimpinan itu sendiri. Bangsa kita harus dipimpin oleh seorang yang kompeten,” ungkap Indira┬ádalam momen bincang-bincang dengan tema “Peranan Wanita di Era Baru” yang di selenggarakan di Cimahi, Jawa Barat, belum lama ini.

Wakil Ketua Asosiasi Analis Kebijakan Indonesia (AAKI) itu juga menegaskan bahwa kaum wanita Indonesia sebenarnya mampu mengembangkan leadership , dan mengambil contoh dari tokoh wanita Indonesia seperti RA Kartini. Terlebih die ra keterbukaan informasi seperti saat ini, wanita punya peran penting dalam kemajuan kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kita akui Kartini memberikan inspirasi pada kaum wanita dan banyak tokoh lain. Saya melihat waktu kecil ada karangan beliau yang diterjemahkan oleh Stella dari Belanda sahabatnya yang mengungkap Habislah Gelap Terbitlah Terang. Ini adalah jalan awal bagi kemajuan wanita di Indonesia dan ini kontribusi yang sangat positif karena era globalisasi ini sudah ditandai dengan adanya presiden dari kalangan wanita yaitu Ibu Megawati,” lanjutnya.

Menurutnya hal ni juga menandai bahwa masyarakat Indonesia tidak alergi dengan kepemimpinan wanita. “Ini juga harus diikuti oleh seluruh kaum wanita di Indonesia. Jadi bagaimana nanti kita akan menyiapkan leadership tokoh kaum wanita itu dalam membangun bangsanya,” tegasnya.

Meski begitu, sebagai tokoh wanita Indonesia. Ia mengakui bahwa tak mudah memegang tamggung jawab sebagai seorang tokoh wanita di era ini. Lantaran pemimpin itu bukanlah sekedar pengakuan pribadi, namun harus dari seluruh masyarakat Indonesia.

“Kuncinya adalah sebuah kejujuran. Jadi bagaimana kita berbicara sesuatu untuk memajukan republik ini kalau kita tidak punya suatu karakter bangsa. Itu salah satunya adalah jujur. Masalah leadership memang dikaitkan dengan globalisasi, kulturasi lalu provokasi, kemudian tak bisa mengelak dengan kemajuan IT yang artinya kondisi saat ini sangat complicated . Selain itu, untuk bisa menjadi wanita leadership , kita juga harus punya rasa tanggung jawab dan karakter yang kuat untuk menjalankan kepentingan bangsa, bukan untuk dirinya sendiri,” tandasnya.

Berita terkait: