Kepala Perpustakaan Nasional: Literasi untuk Kesejahteraan

Literasi atau kedalaman pengetahuan seseorang pada satu tingkat pengetahuan, parameternya yang harus dilihat saat ini adalah pada kemampuan menciptakan barang dan jasa yang bermutu yang bisa dipakai dalam kompetisi global. Kemampuan literasi pada taraf inilah yang sangat dibutuhkan untuk menuju pada pencapaian kesejahteraan rakyat yang menjadi tujuan abadi bangsa Indonesia.

Demikian dikatakan Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando dalam wawancara dengan Direktur Pemberitaan BeritaSatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu , pada acara “ 60 Minutes with Muhammad Syarif Bando ”, yang disiarkan Beritasatu New Channel , baru-baru ini di Jakarta.

“Literasi harus sampai kepada kemampuan menciptakan barang dan jasa yang bermutu, yang bisa dipakai dalam kompetisi global. Karena pada akhirnya persaingan global dalam tatanan ekonomi dunia adalah, siapa yang bisa menciptakan produksi untuk konsumsi massal,” kata Muhammad Syarif Bando .

Muhammad Syarif Bando mengatakan, saat ini kita dipaksa hidup pada zaman teknologi yang sangat cepat. Ketika komputer 3 giga ((gigabita) dengan kecepatan 284 giga per menit, kata Muhammad Syarif Bando, pihaknya membutuhkan waktu 26 jam untuk mengunggah suatu film yang pernah dipresentasikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Namun, begitu ditemukan teknologi yang 4 gigabita, maka waktu 26 jam hanya butuh jadi 6 menit. Begitu 5 gigabita tinggal 3,6 detik. “Artinya sebentar lagi akan ditemukan komputer yang 6 giga yang kecepatannya bisa 0.00 sekian detik, yang itu bisa dipasang untuk menjadi pengganti driver di mobil mewah pengganti masinis di kereta mewah dan pengganti pilot di pesawat-pesawat canggih,” kata Muhammad Syarif Bando.

Pertanyaan besarnya, lanjut Muhammad Syarif Bando, apakah dunia pendidikan di Indonesia terutama perguruan tinggi sudah mereformasi kurikulumnya ke arah penciptaan barang dan jasa yang dipandu oleh kecepatan teknologi.

“Ini sebuah tantangan besar kita untuk mengubah sistem pendidikan kita untuk bersaing dengan negara- negara yang saat ini sudah maju,” kata Syarif.

BACA JUGA

Perpusnas Ciptakan Masa Depan Lewat Digitalisasi

Sebagai perpustakaan terbaik dunia, Perpustakaan Nasional telah menyediakan berbagai koleksi bacaan bermutu termasuk manuskrip. Bacaan-bacaan ini dapat diakses setiap saat pada tiga aplikasi di antaranya Kastara dengan 12 juta manuskrip dan iPusnas menyajikan 2 juta judul buku dan ribuan eksemplar termasuk di dalamnya terdapat tokoh-tokoh dunia.

Tentang manuskrip, Syarif mengatakan, ada tiga manuskrip yang disediakan yaitu Ilagaligo, Babat Diponegoro, Panji. Ketiga manuskrip ini telah diakui oleh dunia sebagai memory of the word.

“Kami pastikan bisa melayani sekitar 5 – 10 juta per detik dengan kemampuan 24 tera dengan akses internet yang cukup bagus,” ujar Syarif

Syarif mengatakan, perpustakaan nasional di seluruh Indinesia adalah sumber informasi, karena itu masyarakat Indonesia menyampaikan terima kasih kepada Presiden Joko Widodo yang telah memprioritaskan pembangunan gedung perpustakaan sebagai jantungnya pendidikan.

“Kenapa? Karena ini merupakan suatu institusi peradaban untuk memastikan sejarah panjang Indonesia, perpustakaan sebagai jembatan ilmu pengetahuan di abad lampau, kini, dan yang akan datang,” ujar Syarif.

Berita terkait: