Kemenparekraf: Pandemi Covid-19 Mengubah Tren Berwisata

– Sekretaris Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Oneng Setyaharini, menyampaikan pandemi Covid-19 diprediksi mengubah tren berwisata.

Ke depan, masyarakat akan lebih memilih berwisata dalam kelompok kecil atau solo traveler, serta lebih melihat keunikan atau adat istiadat dari destinasi wisata, dan juga pemandangan alamnya. Perubahan tren tersebut menurutnya bisa menjadi peluang bagi wisata daerah.

Menurut Oneng, saat ini pemerintah juga tengah fokus pada proses pemulihan atau recovery pariwisata melalui berbagai kegiatan, antara lain meningkatkan standar kebersihan, kesehatan, dan juga keselamatan melalui program Clean, Health, Safety & Environmental Sustainability (CHSE).

Dalam pengembangan desa-desa wisata, yang saat ini digalakkan adalah menyiapkan desa-desa wisata untuk siap dikunjungi melalui penerapan adaptasi kebiasaan baru.

Tahun ini ada 10 desa wisata yang menjadi pilot project atau percontohan dan sudah tersertifikasi dengan logo adaptasi kebiasaan baru. Desa wisata tersebut yaitu Desa Wisata Bilibante di Lombok, Nglangeran di Gunung Kidul, Pentingsari di Yogyakarta, Candirejo di Magelang, Lerep di Semarang, Osing di Banyuwangi, Penglipuran Bali, Pujon Kidul di Malang, Kembang Kuning di Lombok, dan juga Tebara di Nua Tenggara Timur.

“10 desa wisata ini menjadi pilot project untuk tahun ini dan sudah tersertifikasi dengan logo adaptasi kebiasaan baru. Sehingga wisatawan bisa dengan nyaman dan tenang datang ke desa-desa tersebut,” kata Oneng Setyaharini, dalam acara Zooming with Primus bertajuk “Membangkitkan Wisata Daerah” yang disiarkan langsung Beritasatu TV, Kamis (17/9/2020).

Dalam pengembangan desa wisata, menurut Oneng yang paling dibutuhkan adalah sinergi dan komitmen dari seluruh stakeholder pariwisata, termasuk dari Pemerintah Daerah. Saat ini Kemparekraf juga telah bekerja sama dengan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemdes PDTT) di dalam pengembangan desa wisata, mulai dari desa wisata rintisan sampai dengan maju.

Dukungan Swasta

Pengembangan desa wisata di Indonesia juga banyak mendapat dukungan dari pihak swasta, salah satu PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), BCA saat ini memiliki 12 desa binaan yang tersebar di Jawa, Sumatera, dan Bali, termasuk di dalamnya desa wisata.

Diakui Executive Vice President CSR BCA Inge Setiawati, pandemi Covid-19 memang telah menurunkan pemasukan desa-desa tersebut yang sebelumnya banyak berasal dari kunjungan wisatawan, atau membeli produk-produk UMKM. Melalui diskusi dengan perwakilan desa-desa tersebut, berbagai inovasi telah dilahirkan agar dampak pandemi tidak semakin berat.

“Kami terus bertukar pikiran dengan mereka, akhirnya tercetuslah berbagai ide agar bisa mempertahankan income yang selama ini telah diperoleh. Berbagai upaya yang dilakukan misalnya dengan melihat lagi secara jeli produk-produk atau jasa yang masih bisa mereka jual dalam kondisi yang terbatas seperti sekarang ini. Misalnya produk kuliner yang tadinya tidak pernah dipasarkan, padahal sebetulnya sangat menarik dan bisa dinikmati masyarakat di luar desanya, itulah yang coba kami gali untuk dijual,” papar Inge.

Berbagai hambatan yang selama ini dialami setiap desa juga coba dicarikan jalan keluar. Misalnya dengan mendatangkan mentor untuk membantu mengembangkan produk yang akan dijual, dan juga mempersiapkan desa wisata tersebut untuk lebih “go online”. Melalui upaya tersebut, harapannya ketika nanti pandemi Covid-19 sudah berakhir, wisatawan yang akan berkunjung sudah mengetahui potensi di masing-masing desa tersebut melalui promosi yang dilakukan secara online.

“Kami mempersiapkan mereka untuk menghadapi kondisi nanti yang tentunya sudah berbeda dengan sekarang. Jadi mereka kita perkaya kemampuannya dengan digital, mulai dari marketing digital hingga membuat website yang menarik,” kata Inge.

Sementara itu menurut Pemerhati Pariwisata Cyrillus Harinowo, adanya pandemi Covid-19 justru memunculkan opportunity bagi industri pariwisata di daerah. Masyarakat yang dulunya lebih senang berada di kota-kota besar mulai berfikir untuk mengubah destinasi wisata, di mana destinasi wisata daerah akan akan menjadi pilihan masyarakat ke depan.

“Wisata daerah ke depannya akan menjadi pilihan. Jadi saya pikir teman-teman investor perlu mendukung pembangunan destinasi wisata di daerah, sehingga pada saat Covid-19 ini selesai, kebangkitan itu betul-betul dirasakan,” kata Cyrillus.