Kemendikbud Pastikan Evaluasi Proposal POP Objektif

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memastikan seluruh tahapan proses evaluasi terhadap proposal Program Organisasi Penggerak (POP) berlangsung objektif.

Proposal program yang diajukan oleh organisasi kemasyarakatan (ormas) yang bergerak di bidang pendidikan ini dievaluasi oleh tim independen SMERU Institute.

Tahapan evaluasi yang dilakukan juga mengacu pada Peraturan Sekjen Kemendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang Petunjuk Teknis Penyaluran Bantuan Pemerintah dan Peraturan Sekjen Kemendikbud Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pedoman POP.

Demikian pernyataan Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemendikbud Iwan Syahril pada webinar Bincang Sore, Senin (20/7/2020).

“Penentuan organisasi kemasyarakatan yang lolos seleksi dilakukan oleh tim independen yang berintegritas tinggi, di mana Kemendikbud tidak melakukan intervensi. Hal ini dilakukan untuk menjamin transparansi dan akuntabilitas POP,” ungkap Iwan.

Seperti program Kemendikbud pada umumnya, POP memiliki tujuan akhir peningkatan hasil pembelajaran. Untuk itu, ormas yang terpilih diwajibkan memiliki rekam jejak program yang berdampak positif pada praktik mengajar guru dan kepala sekolah.

“Khususnya praktik-praktik (mengajar) yang berhasil mengasah bidang literasi, numerasi, dan karakter siswa,” jelas Iwan.

Kebenaran dari rekam jejak program tersebut juga diverifikasi melalui visitasi lapangan oleh SMERU Institute.

Adapun organisasi penggerak ini terbagi menjadi tiga kategori berdasarkan jumlah sasaran satuan pendidikan (PAUD/SD/SMP), yakni Gajah, Macan, dan Kijang.

Kategori Gajah akan menjalankan program yang telah diajukan di lebih dari 100 satuan pendidikan. Kategori Macan memiliki jumlah sasaran yang lebih rendah yakni 21 hingga 100 satuan pendidikan. Sementara itu, organisasi berkategori Kijang akan menjalankan programnya di 5 hingga 20 satuan pendidikan.

Nantinya, organisasi tersebut akan diberikan dana bantuan yang jumlahnya sesuai dengan kategori. Misalnya, kategori Gajah akan mendapatkan bantuan maksimal Rp 20 miliar per tahun, Macan dengan Rp 5 miliar per tahun, serta Kijang dengan Rp 1 miliar per tahun.

Diketahui, total anggaran yang dialokasikan untuk program ini mencapai Rp 595 miliar. Berdasarkan hasil evaluasi SMERU Institute, sebanyak 183 proposal dari 156 ormas dinyatakan lolos seleksi dengan rincian 28 Gajah, 43 Macan, dan 11 Kijang.

Iwan melanjutkan, pihaknya akan melakukan asesmen secara berkala ( baseline , midline maupun endline ) selama keberlangsungan masing-masing program.

Hal ini dilakukan untuk melihat benar adanya peningkatan baik dari segi motivasi, pengetahuan, dan praktek mengajar yang berdampak pada literasi, numerasi, dan karakter siswa.

“Jika berdampak signifikan, ini tentunya akan menjadi knowledge atau pengetahuan bagi komunitas pendidikan,” pungkas Iwan.

Sebagai informasi, POP diluncurkan pada pertengahan Maret 2020 sebagai bagian dari program Merdeka Belajar.

Berita terkait: