Kejaksaan Tangkap Buronan Korupsi Pelabuhan Awerangne, Sulsel

Tim Tangkap Buronan (Tabur) Kejaksaan Agung bersama Tim Tabur Kejaksaan Negeri Makassar, Tim Tabur Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan (Sulsel), dan Kejaksaan Negeri Barru menangkap buronan perkara korupsi fasilitas Pelabuhan Awerangne Oenardi. Buronan bernama alias Ayong itu ditangkap di Kota Makassar, Sulsel.

“Keberhasilan penangkapan buronan pelaku kejahatan oleh Tim Tabur Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan dan Kejaksaan Negeri Barru ini merupakan buronan ke 113 sepanjang 2020 yang berhasil ditangkap oleh Tim Tabur Kejaksaan dari berbagai wilayah, baik kategori tersangka, terdakwa, maupun terpidana,” ujar Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Hari Setiyono dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu (22/11/2020).

BACA JUGA

Kejaksaan Eksekusi Buronan Kasus Jembatan Fiktif

Dikatakan, Tim Tabur langsung menangkap Ayong di rumah yang baru ditempatinya di Perumahan Taman Toraja, Jalan Danau Poso Nomor 75, Kota Makassar. Penangkapan itu berlangsung tanpa perlawanan. Selanjutnya, Ayong dibawa ke Kejaksaan Negeri Barru dan dimasukkan ke Rutan Kelas II B Barru guna menjalani hukuman penjara sesuai putusan tersebut.

Terpidana selaku Direktur PT Ardywira Primakarsa adalah terdakwa dalam perkara korupsi pembangunan fasilitas Pelabuhan Awerangnge Tahap I Tahun Anggaran 2005 di Kabupaten Barru. Akibat perbuatannya, negara mengalami kerugian sebesar Rp 300 juta.

Setelah melalui proses persidangan dan upaya hukum, terdakwa diputuskan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama melanggar Pasal 3 UU Tipikor Jo Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP. Terpidana dihukum dengan pidana penjara selama dua tahun sesuai dengan putusan Mahkamah Agung Nomor: 254 K/Pid.Sus/2011 tertanggal 27 Mei 2011.

BACA JUGA

Kejaksaan Berkomitmen Amankan Kegiatan Pembangunan Strategis

Ketika putusan MA tersebut hendak dilaksanakan Jaksa pada Kejaksaan Negeri Barru, terpidana tidak kunjung memenuhi panggilan jaksa untuk hadir ke kantor Kejaksaan Negeri Barru, kendati sudah dipanggil tiga kali berturut-turut. Oleh karena itu, Ayong kemudinan dimasukkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) dan dinyatakan buron.

Program Tangkap Buronan (Tabur) 3.11 digulirkan oleh Bidang Intelijen Kejaksaan untuk memburu buronan pelaku kejahatan, baik yang masuk DPO Kejaksaan maupun instansi penegak hukum lainnya dari berbagai wilayah di Indonesia. “Melalui program ini, kami menyampaikan pesan bahwa tidak ada tempat yang aman bagi pelaku kejahatan,” kata Hari.

Berita terkait: