Kebijakan The Fed Antiklimaks, IHSG dan Bursa Asia Memerah

Kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed) yang antiklimaks, membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan indeks di bursa Asia memerah pada penutupan perdagangan Kamis (17/9/2020).

Meskipun sempat bergerak di zona hijau pada sesi awal perdagangan, IHSG akhirnya terperosok ke zona merah dan ditutup melemah 20.08 poin atau 0,40% ke level 5.038,401. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG sempat menyentuh level terendah di 5.013,186 dan tertinggi di level 5.099,577.

Data RTI menunjukkan volume saham yang ditransaksikan pada perdagangan hari ini sebanyak 10,221 miliar dengan frekuensi 605,067 kali dan total nilai transaksi mencapai Rp 6,679 triliun.

Tekanan jual yang masih dilanjutkan investor asing membuat 269 saham mengalami penurunan harga, 155 saham stagnan, dan hanya 149 saham yang mengalami kenaikan harga. Total jual bersih investor asing di pasar reguler tercatat mencapai Rp 445,12 miliar.

Pelemahan IHSG hari ini dipicu sentimen negatif kebijakan The Fed yang dinilai antiklimaks. Meskipun menyatakan optimisme bahwa perekonomian Amerika Serikat (AS) akan segera pulih dari resesi, The Fed tetap mempertahankan suku bunga acuan sebesar <0,25%.

The Fed juga memutuskan nilai pembelian aset (quantitative easing/QE) tidak akan ditingkatkan, namun nilainya tak terbatas. Kebijakan QE tanpa batas tersebut membuat pelaku pasar tidak dapat memastikan berapa nilai QE yang digelontorkan The Fed per bulannya.

Keputusan The Fed tersebut, dinilai akan diikuti oleh rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang diperkirakan akan tetap mempertahankan suku bunga acuan di angka 4%, meskipun ada desakan agar BI menurunkan suku bunga.

Hal itu, membuat investor kembali melakukan tekanan jual terhadap saham-saham potensial, terutama di sektor perbankan, seperti saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).

Saham BBRI mengalami penurunan sebesar Rp 60 atau 1,84% menjadi Rp 3.200 per saham, BMRI juga turun sebesar Rp 75 atau 1,33% menjadi Rp 5.575 per saham, dan BBNI terkoreksi Rp 150 atau 3,08% menjadi Rp 4.720 per saham.

Sementara itu, indeks di bursa regional pada perdagangan hari ini juga terkoreksi ke zona merah. Indeks Nikkei 225 di Bursa Tokyo melemah 156,160 poin atau 0,67% ke level 23.319,369, Hang Seng Index di Bursa Hong Kong juga melemah 384,781 poin atau 1,56% ke posisi 24.340,850 dan Straits Times Index di Bursa SIngapura terkoreksi 3,950 poin atau 0,16% ke level 2.501,200.