Kasus Covid-19 di Solo dari Empat Klaster

Solo menjadi kota dengan angka penularan yang cukup tinggi, setelah Kota Semarang, di Jawa Tengah. Kasus penularan Covid-19 di Kota Solo berasal dari empat klaster.

Keempat klaster itu adalah klaster RSUD Moewardi, klaster tahu kupat Purwosari, klaster Pasar Harjodaksino, dan klaster Penumping-Karangasem.Di luar empat klaster itu, ada juga yang dari kasus mandiri atau hasil tracing kasus sebelumnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo Siti Wahyuningsih kepada , Jumat (24/7/2020) mengatakan, angka penularan klaster tahu kupat Purwosari sebanyak 16 orang.

Klaster berikutnya yakni Pasar Harjodaksino menyumbang 4 kasus positif. Ketiganya merupakan kontak erat pedagang empon-empon yang meninggal akibat Covid-19 dan sempat membantu kerikan. Total kasus positif dari klaster ini empat orang, termasuk pasien asal Sukoharjo yang meninggal dunia.

Pedagang yang positif Covid-19 dari klaster Pasar Harjodaksino tersebut hanya satu yang domisili Solo. Pedagang lain masing-masing berdomisili di Sukoharjo dan Boyolali.

Klaster Penumping-Karangasem menyumbang kasus positif sebanyak 6 orang. Mereka ini anggota keluarga pasien anak asal Semarang yang berkunjung ke Solo. Pasien anak tersebut terkonfirmasi positif kemudian dirawat di salah satu rumah sakit swasta di Solo.

Klaster berikutnya adalah tenaga kesehatan atau nakes RSUD dr Moewardi Solo yang masih terkait kasus positif Covid-19 sebelumnya, dari 25 kasus positif, jumlahnya meningkat menjadi 32 kemudian menjadi sekitar 100 orang, setelah dilakukan tracing .

Selain dokter dan tenaga medis, staf direksi hingga bagian administrasi rumah sakit juga turut terinfeksi.

Direktur RS dr Moewardi Solo, Cahyono Hadi, menjelaskan bahwa mereka diketahui positif Covid-19 setelah rumah sakit melakukan contact tracing terhadap sekitar 2.000 karyawan.

“Hasilnya selama sepekan lebih kita tracing itu ada seratus lebih karyawan yang positif. Tapi sebagian sudah dinyatakan sembuh dan sudah boleh pulang,” ujar Cahyono.

Contact Tracing besar-besaran ini dilakukan setelah 25 mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Universitas Sebelas Maret (UNS) yang tengah menjalani residensi di rumah sakit itu positif Covid-19. Pihak rumah sakit kemudian melakukan tes polymerase chain reaction (PCR) atau swab test terhadap dokter, perawat, tenaga medis lain, hingga karyawan yang kontak fisik dengan para residen itu.

Contact tracing terus dilakukan. Hingga kemudian pihaknya melakukan swab test  terhadap semua karyawannya. Uji PCR itu dilakukan bertahap.

Meski jumlah karyawan yang positif cukup banyak, Cahyono memastikan RSDM tetap dapat melayani pasien Covid-19 dari masyarakat secara maksimal. Pasalnya, sebagian besar karyawan positif corona hanya mengalami gejala ringan bahkan tanpa gejala sama sekali.

“Banyak dokter dan karyawan kami yang karantina mandiri di rumah masing-masing,” katanya.

Hingga Jumat (24/7/2020) sore, berdasarkan data laman surakarta.go.id, kasus positif Covid tercatat 231 orang (sembuh 121 orang, meninggal dunia 7 orang, rawat inap 46 orang dan karantina 57 orang).

Suspect Covid tercatat 324 orang (19 orang dirawat, 263 sembuh dan 42 meninggal dunia), serta 669 orang kontak erat (ODP).

Berita terkait: