Kapolres SIgi: Pembunuhan di Wilayah Transmigran Diduga Oleh MIT Poso

Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Sigi , AKBP Yoga Priyahutama menyatatakan, pelaku pembunuhan yang menyebabkan kematian di Desa Lembantongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng) diduga dilakukan oleh kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso.

“Terindikasi seperti itu ada kemiripan dari saksi-saksi yang melihat langsung saat kejadian yang kami konfirmasi dengan foto-foto (DPO MIT Poso) ada kemiripan,” kata Kapolres Sigi AKBP Yoga Priyahutama, Sabtu (28/11/2020).

Kapolres Yoga mengatakan situasi terakhir saat ini kondusif. Satgas Operasi Tinombala sedang mengejar terduga pelaku. “Satgas juga telah melakukan trauma healing agar jangan sampai warga ketakutan terkait dengan kejadian itu,” ujarnya.

BACA JUGA

Pembunuhan Sekeluarga di Sigi, Mayor Erik Minta Aparat Segera Tangkap Pelakunya

atinya disiapkan oleh Polres Sigi.

Anton S, warga Palolo Kabupaten Sigi, saat dihubungi melalui telepon, Sabtu malam, membenarkan bahwa empat korban yang dibunuh OTK, diduga adalah kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT). “Semua korban adalah laki-laki sudah dikebumikan. Rencana awal pemakaman dijadwalkan berlangsung pada Sabtu pukul 13.00 Wita, tetapi baru bisa dilaksanakan sekitar pukul 15.00 Wita,” ujar Anton

Proses pemakaman didahului dengan ibadah singkat yang dipimpin oleh Komandan Divisi Bala Keselamatan (BK) dari Palu, ibu kota Sulteng. Selain pihak keluarga korban, pemakaman itu juga dihadiri masyarakat yang ada di Desa Lembantongoa dan sejumlah aparat keamanan.

Prosesi pemakaman berjalan lancar disertai isak tangis dari keluarga dan sahabat dekat korban.

Diketahui, keempat korban, kata Anton, adalah satu rumpun keluarga yang selama ini bermukim di wilayah transmigrasi Dusun Tokelemo, Desa Lembantongoa, Kecamatan Palolo. Pada Jumat (27/11/2020) sekitar pukul 08.00 Wita, sejumlah OTK mendatangi permukiman warga transmigrasi dan membunuh empat orang serta membakar beberapa buah rumah. Hingga kini sekitar ratusan warga transmigrasi di wilayah tersebut mengungsi sementara, karena merasa takut akan keselamatan jiwa mereka.

Berita terkait: