JPMorgan: Bitcoin Cuma “Selingan”, Bintang Sebenarnya adalah…

Menurut analis dari JPMorgan , bitcoin hanyalah “selingan ekonomi” sementara bintang sesungguhnya adalah inovasi teknologi finansial ( fintech ) yang akan mendominasi jasa keuangan.

Meskipun bitcoin mengalami reli yang sangat cepat belakangan ini, tetapi cryptocurrency masih memiliki sejumlah tanda tanya yang menghalanginya menjadi aset mainstream .

“Bitcoin melesat sejak diterima oleh Tesla, BNY Mellon, dan Mastercard,” tulis JPMorgan dalam risetnya baru-baru ini.

“Tetapi, dengan semakin banyaknya start-up online dan perkembangan platform digital, maka inovasi teknologi finansial dan meningkatnya permintaan akan jasa digital adalah bintang sesungguhnya dari cerita Covid-19.”

Harga bitcoin menembus kisaran US$55.000 pada Jumat (19/2/2021) sehingga mengukir rekor kapitalisasi pasar US$ 1 triliun atau setara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Bitcoin sering dibanding-bandingkan dengan emas karena persediannya yang terbatas. Produksi atau penambangan bitcoin mentok di 21 juta unit, sedangkan saat ini yang sudah ditambang sekitar 18,5 juta unit.

BACA JUGA

Demam Bitcoin Picu Kekhawatiran Spekulasi

JPMorgan memperkirakan bitcoin bisa menembus angka US$ 146.000 “dalam beberapa tahun ke depan”. Bitcoin bersaing dengan emas sebagai instrumen investasi lindung nilai terhadap inflasi.

Ekonom-ekonom terkenal masih skeptis akan bitcoin. Nouriel Roubini mengatakan bitcoin dan cryptocurrency sejenis tidak memiliki nilai intrinsik. Survei Deutsche Bank juga menemukan bahwa bitcoin adalah gelembung investasi yang sangat rawan.

Analis JPMOrgan mengatakan kenaikan harga bitcoin akhir-akhir ini tidak berkelanjutan, kecuali bitcoin menjadi tidak terlalu volatil. Cryptocurrency juga memiliki manfaat diversifikasi yang meragukan dan dianggap sebagai instrumen lindung nilai yang paling buruk terhadap koreksi di pasar modal.

JPMorgan sendiri tengah mengembangkan teknologi blockchain dengan cryptocurrency yang dinamakan JPM Coin dan unit bisnis baru yang dinamakan Onyx.

“Kompetisi antara perbankan dan fintech semakin ketat, di mana perusahaan teknologi besar memiliki platform digital paling ampuh karena akses mereka ke data konsumen,” kata JPMorgan.

“Kerja sama antara pemain di sektor keuangan dan teknologi adalah masa depan kita, dengan perbankan meningkatkan investasi untuk menjembatani kesenjangan teknologi dan perang antara perbankan AS dan perusahaan fintech terjadi di medan regulasi,” tambahnya.

Perusahaan seperti Apple dan Google tengah mengembangkan jasa keuangan mereka sendiri. Apple baru-baru ini meluncurkan kartu kredit bekerja sama dengan Goldman Sachs. Google bekerja sama dengan Citigroup sehingga pengguna Google dapat membuka rekening sendiri.

BACA JUGA

Menkeu AS Peringatkan Investor akan Bahaya Bitcoin

Berita terkait: