Insurance Day 2020, Momentum Transformasi Digital Industri Asuransi

Industri asuransi merayakan “Insurance Day”, Minggu 18 Oktober 2020. Hari khusus industri asuransi tahun ini terasa spesial karena dirayakan di tengah pandemi Covid-19. Pada momentum tersebut, industri asuransi ditantang untuk beradaptasi dengan tuntutan bisnis modern, termasuk tren transformasi digital, sebagai respons tuntutan new normal.

Pada era new normal, interaksi secara digital ( online ) semakin luas dan tidak lagi bersifat individual. Media virtual sudah menjadi kelaziman untuk keperluan pertemuan bisnis, marketing, bahkan penyelenggaraan event seperti seminar dan konser secara virtual.

Industri asuransi dalam beberapa tahun terakhir sudah menerapkan digitalisasi dalam proses bisnis, baik untuk kebutuhan pemasaran, operasional, juga layanan. Banyak perusahaan sudah memiliki aplikasi yang memudahkan konsumen atau nasabah untuk mengakses informasi mengenai produk asuransi yang dibeli bahkan hingga proses klaim.

Kendati demikian, sejauh ini proses penjualan yang menggunakan sarana digital masih terbatas untuk produk-produk asuransi sederhana dengan nilai premi yang tidak terlalu besar. Sementara produk-produk berbasis investasi atau produk yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) masih mengharuskan tatap muka. Karena itu, saat pandemi Covid-19 merebak dan pemerintah mengharuskan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), perusahaan-perusahaan asuransi yang dominan pada produk-produk PAYDI terdampak secara signifikan dalam penjualan bisnis baru.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merespons permintaan industri agar memberikan kelonggaran dalam pemasaran PAYDI dengan mengeluarkan Surat Edaran No 18/D.05/2020 terkait penyesuaian teknis pelaksanaan pemasaran Produk Asuransi Yang Dikaitkan Dengan Investasi (PAYDI) / unit link bagi perusahaan asuransi. Ketentuan tersebut mendapat sambutan positif dari para pelaku yang memang ingin terus mendorong penjualan produk asuransi agar bisnis tetap bergerak. Ada enam perusahaan yang sudah mendapatkan izin dari OJK terkait penjualan PAYDI secara virtual tersebut. Sedangkan ada empat perusahaan lainnya tengah dalam proses.

President Director Prudential Indonesia Jens Reisch mengungkapkan, pihaknya bangga telah memperoleh izin dari OJK untuk memasarkan produk unit link melalui tatap muka virtual. Prudential secara khusus merilis PRU Cekatan sebagai sistem pemasaran unit link secara tatap muka virtual. PRU Cekatan yang merupakan kependekan dari Cepat Tanpa Harus Berdekatan menjadi solusi bagi masyarakat yang menginginkan produk berbasis investasi tapi terkendala physical distancing. “Kini nasabah dan juga calon nasabah dapat berkonsultasi dengan tenaga pemasar terkait kebutuhan asuransinya dan melakukan Pengajuan Asuransi Jiwa (SPAJ) kapan pun dan di wilayah Indonesia mana pun secara nyaman dan yang terpenting aman.” tutur Jens.

Kebutuhan untuk menjaga koneksitas antara tenaga pemasar dengan nasabah atau calon nasabah juga dirasakan PT Sun Life Financial Indonesia (Sun Life) yang merilis Sun Connect. Kehadiran Sun Connect sejalan dengan kebijakan OJK terkait penjualan unit link secara tatap muka virtual. Presiden Direktur Sun Life Elin Waty menyebut, selain berusaha untuk terus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya proteksi dan asuransi, berbagai inovasi yang Sun Life hadirkan juga berpangkal pada keinginan untuk memberikan kenyamanan dan keamanan layanan dan perlindungan terbaik.

Dengan Sun Connect tenaga pemasar dapat memanfaatkan media komunikasi seperti video call atau video conference untuk berkomunikasi dan memasarkan produk Sun Life kepada nasabah. Dokumen pendukung yang diperlukan pun dapat dilampirkan secara online serta disahkan melalui surat pernyataan nasabah serta rekaman audio dan video.

PT Asuransi Allianz Life Indonesia (Allianz Life Indonesia) terbilang sukses dalam proses tranformasi digital dengan Allianz Discover-nya. Hal tersebut terlihat dari peningkatan penggunaan digital untuk surat pengajuan asuransi jiwa (SPAJ) maupun pembayaran. Sebagai gambaran, SPAJ secara digital pada tahun 2019 meningkat menjadi 92% dibandingkan 62% di tahun 2018. Sedangkan pembayaran digital meningkat dari 44% menjadi 75%, serta rata-rata waktu penanganan bisnis baru menjadi 99% lebih cepat.

Country Manager dan Direktur Utama Allianz Life Indonesia Joos Louwerier menuturkan, Allianz Discover adalah inovasi digital yang menggabungkan perangkat tablet yang digunakan dalam proses penjualan, dengan berbagai layanan yang mendukung hubungan jangka panjang dengan agen dan nasabah. “Di tengah himbauan untuk menjaga jarak fisik, digital tools menjadi lebih relevan dari sebelumnya, dan kami tidak akan berhenti di sini. Kami senantiasa beradaptasi dan berinvestasi dalam teknologi. ” tuturnya.

Manulife Asia secara khusus membuat survei terhadap perilaku masyarakat terkait dengan pandemi Covid-19 di kawasan Asia termasuk Indonesia. Terkait masyarakat di Indonesia, Survei Manulife Asia Care menemukan beberapa hal menarik mengenai kecenderungan peningkatan dalam pola hidup sehat, ketergantungan pada layanan e-commerce, online dan digital, serta keinginan berasuransi.

Survei menunjukkan mereka beralih dari belanja secara offline ke online (65%), menggunakan layanan online seperti pembayaran, belanja dan pengiriman makanan (71%) dan khususnya menggunakan media online untuk mencari berita dan bersosialisasi (keduanya sebesar 69%). Covid-19 telah mempercepat tren yang sudah ada terutama digitalisasi dalam gaya hidup. Pola dan kebiasaan seperti ini bahkan memberikan alasan tersendiri untuk meyakini bahwa perubahan kebiasaan ini, setidaknya sebagian, akan bersifat permanen.

Momentum Tumbuh
Pandemi seringkali memberikan pelajaran kepada masyarakat mengenai berbagai hal. Dikatakan Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank Otoritas Jasa Keuangan Riswinandi, ada tiga tahap atau dampak dengan terjadinya pandemi. Pertama, reduction in demand, ditandai dengan pengurangan bisnis karena daya beli masyarakat turun. Hal ini tergambar dari data selama kuartal kedua 2020, di mana premi asuransi mengalami penurunan hingga 10,9%.

Tahap kedua ditandai dengan increase in claim. Hal ini disebabkan kondisi masyarakat membutuhkan uang sehingg menarik asuransinya. Di sisi lain juga terkait risiko Covid-19. Data asosiasi Maret-Juni industri membayarkan klaim terkait Covid-19 senilai Rp 216 miliar atau sebanyak 1.642 kasus klaim. Tahap ketiga, increase in demand atau kenaikan permintaan.

Belajar dari kasus pandemi SARS yang terjadi di Hong Kong beberapa waktu lalu. Setalah terjadi pandemi, ada peningkatan premi asuransi hingga lebih dari dua kali lipat. “Ini tentu diharapkan setelah pandemi selesai nanti kita juga demikian. Tentu ini perlu dibangun dalam periode saat ini supaya nanti pada saatnya akan dapat menikmati manfaat dari upaya yang dilakukan selanjutnya,” tuturnya.

Riswinandi juga meyakini akan ada revolusi besar dalam layanan di bidang kesehatan meski tanpa adanya secara tatap muka. Layanan telemedis menjadi layanan yang diminati di masa pandemi. Start up yang menyediakan bisnis di bidang telehealth mengalami lonjakan kunjukan hingga 600%. “Hal ini tentu luar biasa karena data juga menunjukkan dalam beberapa bulan belakangan ini setelah muncul data membesarkan ada 32 juta pengguna baru yang menggunakan fasilitas kesehatan online,” imbuhnya.

Selain peningkatan layanan telemedis, pandemi juga mendorong orang untuk menginginkan asuransi. Menurut survei Manulife Asia Care sebanyak 72% nasabah yang telah memiliki asuransi di Indonesia mengatakan bahwa mereka berencana membeli tambahan asuransi dalam 18 bulan ke depan. Hal ini jauh lebih tinggi dari rata-rata di kawasan yakni sebesar 62%. Produk terkait penyakit kritis mencapai (34%), asuransi jiwa (30%), kesehatan (30%) dan rawat inap (29%) adalah produk-produk asuransi baru utama yang dipertimbangkan oleh para nasabah asuransi Indonesia.

President dan CEO Manulife Indonesia Ryan Charland mengatakan, ia merasa senang karena berdasarkan survei ini, para nasabah di Indonesia mulai beralih menuju gaya hidup sehat. “Selama pandemi, kami telah menerapkan social distancing dengan memberikan layanan kepada nasabah tanpa mengharuskan mereka mengunjungi kami secara langsung. Bagi nasabah yang ingin mengunjungi kami secara langsung, mereka dapat mengunjungi pusat layanan nasabah kami di area nusantara di mana kami telah menerapkan protokol kesehatan yang ketat,” tuturnya.

Berita terkait: