Inovasi Teknologi untuk Mengatasi Persoalan Banjir Jakarta

Seperti diketahui, berbagai inovasi pengendali banjir sudah diterapkan di DKI Jakarta mulai sistem polder , embung, kolam olakan, sumur resapan, embung, kanal, waduk. Namun pada kenyataannya, belum sepenuhnya efektif untuk menangani bencana tersebut.

Bagi warga yang kediamannya bertetangga dengan 13 sungai di Jakarta, banjir sudah menjadi hal biasa. Setiap kali curah hujan tinggi warga berbondong-bondong pindah ke lokasi-lokasi pengungsian menjadi pemandangan lazim di Ibu Kota. Fungsi sungai seharusnya dapat mengalirkan air dari hulu ke muara dengan lancar.

Sejumlah upaya telah dilakukan pemerintah untuk menghalau banjir di Jakarta. Salah satunya, dengan mempercepat pembangunan Bendungan Ciawi, Kabupaten Bogor dan Sukamahi, Kabupaten Sukabumi, serta drainase vertikal yang digagas Pemprov DKI Jakarta. Namun, semua upaya dan metode tersebut, dianggap tak terlalu efektif di saat datang musim hujan.

Kondisi ini memacu dua orang penemu, Abdul Kadir dan Badransyah, untuk menghasilkan inovasi teknologi sistem pengendali banjir. Sebagai penemu dari sistem pengendali banjir, keduanya telah mematenkan teknologi temuannya ke Kementerian Hukum dan HAM (Kemkumham).

Adapun prinsip kerja dari teknologi ini yaitu memasukan air dari kali atau sungai sebanyak-banyaknya dengan cepat ke dalam akuifer perut bumi dan menyimpannya sebagai cadangan atau deposit air. Seperti di DKI Jakarta, air tanah banyak dimanfaatkan warga untuk kebutuhan sehari-hari mulai dari air minum, memasak makanan, mencuci, hingga mandi, dan lain sebagainya.

BACA JUGA

Ini Program Infrastruktur Pengendali Banjir Versi Anies

PT Katama Suryabumi , sebagai perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan inovasi, menggandeng penemu teknologi sistem pengendali banjir untuk mencari solusi untuk mengatasi persoalan banjir di Jakarta.

“Kerja sama ini berangkat dari keprihatinan persoalan banjir di Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia. Sehingga perlu dicari solusi banjir yang efektif tetapi juga lebih ramah lingkungan,” kata CEO PT Katama Suryabumi, Kris Suyanto di Jakarta, Rabu (7/4/2021).

Katama Suryabumi dikenal sebagai pemilik inovasi konstruksi sarang laba-laba yang dirancang untuk bangunan-bangunan tahan gempa di Sumatera Barat, Bengkulu, dan Aceh. Terkini, konstruksi ini dipakai untuk konstruksi Kampus Untirta di Sindangsari, Kabupaten Serang yang belum lama ini diresmikan Presiden Joko Widodo.

“Prinsip dari teknologi ini, dengan mengalirkan air yang di permukaan saat terjadi banjir kembali ke dalam perut bumi, sehingga bisa dipakai sebagai cadangan atau deposit air tanah,” jelas Kris.

Menurut Kris, teknologi ramah banjir ini pernah diuji coba di Tb Simatupang Jakarta Selatan tepatnya dekat dengan lokasi Sekolah High Scope. Seharusnya, uji coba teknologi ini berlangsung selama 20 tahun, setelah sebelumnya mendapat disposisi dari Pemprov DKI Jakarta.

BACA JUGA

Kampus Untirta Manfaatkan Konstruksi Sarang Laba-laba

Mengingat sifatnya masih uji coba, pembiayaan masih ditanggung penemu dengan masa pekerjaan November 2013 hingga Maret 2014. Selama uji coba itu, memang terbukti mampu mengatasi genangan yang kerap terjadi di kawasan itu. Sayang sebelum masa uji coba habis kawasan itu keburu dibangun jalan Tol Depok Antasari, sehingga seluruh teknologi itupun lenyap dibalik jalan beton.

Badransyah selaku penemu mengatakan teknologi ramah banjir yang dipergunakan berbeda dengan sumur vertikal yang dikembangkan Pemprov DKI Jakarta. “Lubang yang dibuat untuk saluran air memiliki ke dalaman tertentu hingga menembus batu tempat cadangan air,” jelasnya.

Teknologi ramah banjir ini menggunakan rangkaian pipa pralon yang disambung untuk mengalirkan air permukaan ke bawah tanah. Untuk mencapai kedalaman ideal sebelum dilakukan pengeboran dibuat tes sondir untuk mengetahui daya dukung tanah.

Kemudian, yang tak dipikirkan dalam sistem drainase vertikal termasuk biopori adalah kemungkinan dinding tanah luruh sehingga mengakibatkan sumbatan yang menghambat air masuk ke dalam tanah.

BACA JUGA

Presiden Instruksikan Penanganan Bencana di NTT dan NTB

Badran menjelaskan, sistem ini dirancang sedemikian rupa sehingga kecil kemungkinan terjadinya penyumbatan. Bahkan air dipermukaan terlebih dahulu melalui berbagai proses penyaringan sehingga yang masuk ke dalam tanah benar-benar air yang bebas partikel.

Badran juga menyampaikan teknologi ramah banjir ini sudah melalui rangkaian uji coba sebelumnya. Salah satunya biaya operasi dan pemeliharaan. Setelah dihitung-hitung dengan sistem filter yang dibuat tidak butuh biaya dan waktu untuk perawatan.

“Cukup menggunakan tenaga PPSU/ pasukan oranye yang sudah ada untuk melakukan perawatan. Perawatan juga tidak perlu menggunakan peralatan mapun keahlian khusus. Kendaraan pengangkut sampah berikut peralatan sudah cukup agar filter tetap terjaga untuk mengalirkan air,” imbuhnya.

Berdasarkan uji coba, teknologi ini mampu menggelontorkan air ke dalam perut bumi dengan cepat. Sehingga saat musim hujan menjadi tabungan bagi air tanah. Sedangkan disaat kemarau dapat menjadi sumber air bersih bagi masyarakat Jakata yang masih menggunakan pompa.

“Teknologi ramah banjir ini dapat diterapkan untuk wilayah-wilayah yang selama ini tergenang banjir. Untuk daya tampungnya dapat disesuaikan dengan debit air yang datang saat daerah itu banjir,” pungkasnya.

Berita terkait: