Ini Tiga Cara DKI Temukan Kasus Positif Covid-19

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus meningkatkan kemampuan tes Covid-19 untuk mengetahui jumlah warga yang sudah terpapar Covid-19. Pemprov DKI yakin, semakin banyak warga yang dites, maka semakin cepat memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Pasalnya, warga yang ditemukan konfirmasi positif, segera diminta untuk dirawat atau melakukan isolasi mandiri agar penyebarannya bisa dikendali.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengungkapkan tiga cara Pemprov DKI menemukan orang yang terkonfirmasi positif Covid-19. Pertama, kata Anies, melakukan active case finding atau proaktif menemukan kasus-kasus positif Covid-19.

“Kita gencar melakukan active case finding untuk menemukan kasus-kasus positif, bahkan 30 persen dari temuan kasus positif kita kini adalah hasil dari active case finding yang dilakukan Puskesmas,” ujar Anies dalam Youtube Pemprov DKI, sebagaimana dikutip , Sabtu (25/7/2020).

Kedua, kata Anies, melalui contact tracing dari kasus yang sudah ditemukan positif sebelumnya. Jumlah kasus positif yang ditemukan dari contact tracing sebesar 20 persen.

“Setiap kita ketemu kasus positif, lalu di-track sejarahnya, di- track orang-orang berinteraksi, di situ dilakukan testing,” tandas dia.

Langkah ketiga lanjut Anies, passive case finding artinya orang yang bergejala, lalu datang ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan untuk dites Covid-19. Jumlah kasus yang ditemukan dari passive case finding sebanyak 50 persen.

Anies menegaskan, bahwa active case finding telah ikut menaikkan grafik kasus positif di Jakarta belakangan ini. Namun, kata dia, tujuan pihaknya bukan untuk menurunkan grafik kasus positif Covid-19.

“Tujuan kita bukan menurunkan grafiknya. Tapi kita ingin senyatanya menghentikan penularan di lapangan, karena itu, bila Jakarta hanya dinilai dari satu parameter saja, yaitu penambahan kasus positif tanpa melihat kasus yang lain lalu dianggap bahwa Jakarta kasusnya tambah, bagi kami itu bukan masalah,” pungkas Anies. 

 

 

Berita terkait: