Ini Sederet Kasus yang Menyeret Rizieq Menjadi Tersangka

Polda Metro Jaya telah menetapkan Rizieq Syihab sebagai tersangka terkait kasus dugaan pelanggaran protokol kesehatan pencegahaan Covid-19, yang menyebabkan kerumunan. Rizieq dianggap telah melanggar Pasal 93 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

Ternyata, bukan kali ini saja Imam Besar eks Ormas Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Syihab menyandang status tersangka. Sedikitnya ada tujuh kasus yang akhirnya menyeret nama Rizieq menjadi tersangka dan sebagian diantaranya berujung hukuman penjara.

Berikut perjalanan kasus hukum Rizieq Syihab periode 2001 sampai 2020 yang akhirnya berujung pada penetapan status tersangka.

BACA JUGA

Ustaz Maaher Meninggal di Rutan Bareskrim

Pertama, Rizieq Syihab pernah ditetapkan tersangka demo Anti-Amerika Serikat tahun 2001. Pada tahun 2001, Rizieq ditetapkan sebagai tersangka atas aksi demonstrasi anti-Amerika Serikat (AS) di sekitar Kedubes AS di Jalan Merdeka Selatan. Aksi demonstrasi itu digelar pada 15 Oktober 2001.

Rizieq ditetapkan sebagai tersangka karena diduga telah menghasut, menghina, serta menyebarkan kebencian kepada pemerintah dan Kepolisian.

Kedua, tersangka penghasutan tahun 2002. Rizieq Syihab kembali ditetapkan sebagai tersangka penghasutan atas peristiwa penyerbuan dan pengrusakan beberapa tempat hiburan di Jakarta oleh anggota FPI. Pengrusakan tempat hiburan itu terjadi pada 4 Oktober 2002.

Polda Metro Jaya kemudian memutuskan menahan Rizieq pada 16 Oktober 2002. Pada 11 Agustus 2003, Rizieq Syihab dijatuhi hukuman selama tujuh bulan penjara oleh majelis hakim yang diketuai Hery Swantoro di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Ketiga, pada 20 April 2003, Rizieq Syihab ditahan karena dianggap menghina Kepolisian Negara Republik Indonesia lewat dialog di stasiun televisi SCTV dan Trans TV. Rizieq divonis bersalah oleh Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan diganjar 7 bulan penjara.

Rizieq dianggap terbukti secara sah dan meyakinkan menghasut, melawan aparat keamanan, dan memerintahkan merusak sejumlah tempat hiburan di Ibu Kota. Yang bersangkutan kemudian menjalani hukuman di Rutan Salemba, dan mendekam di Blok R Nomor 19.

Kasus 2003 ini bermula dari kegiatan sweeping ke tempat hiburan malam yang dilakukan FPI. Kemudian pada, Sabtu (5/10/2002) dalam tayangan di sebuah stasiun televisi swasta Rizieq berkomentar, “Gubernurnya budek, DPRD-nya congek, polisinya mandul.”

BACA JUGA

Rizieq Syihab Disebut Ajak Pendukung Datang ke Acara Pernikahan Putrinya

Rizieq juga menuding dengan keras bahwa sejumlah pejabat Pemda DKI Jakarta menjadi backing tempat hiburan malam. Selang sehari, 10 orang anggota FPI ditangkap untuk diperiksa di Polres Metro Jakarta Pusat.

Keempat, Rizieq ditetapkan sebagai tersangka Kericuhan Monas pada 4 Mei 2008. Pada tahun 2008, insiden Monas terjadi. Yaitu kekerasan anggota FPI terhadap massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang tengah berdemonstrasi.

Terkait insiden Monas tersebut, polisi menahan 10 tersangka termasuk Ketua FPI Rizieq Syihab dan Munarman selaku Panglima Komando Laskar Umat Islam ketika itu.. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memvonis Rizieq hukuman 1,5 tahun penjara.

Kelima, penetapan tersangka penghinaan Pancasila pada 30 Januari 2017. Rizieq Syihab juga menjadi tersangka kasus dugaan penghinaan Pancasila dengan pelapor Sukmawati Soekarnoputri.

Rizieq ditetapkan tersangka oleh polisi pada 30 Januari 2017 dan dijerat Pasal 154a KUHP tentang tindak pidana terhadap lambang negara dan atau Pasal 320 KUHP tentang pencemaran nama baik. Adapun dua Pasal tersebut ancamannya di bawah 5 tahun bui.

Namun, pada 4 Mei 2018, polisi mengumumkan sudah menghentikan penyidikan kasus tersebut. Direktur Kriminal Umum Polda Jawa Barat saat itu, Kombes Umar Surya Fana menjelaskan SP3 diberikan sekitar bulan Februari atau Maret 2018.

Keenam, pada 29 Mei 2017 tersangka kasus chat mesum. Rizieq Syihab ditetapkan sebagai tersangka kasus pornografi dan chat seks yang melibatkannya dengan Ketua Yayasan Solidaritas Sahabat Cendana, Firza Husein.

Tidak hanya Rizieq, Firza Husein juga ditetapkan sebagai tersangka kasus pornografi berupa chat seks dan disangkakan dengan Pasal 4 ayat 1 juncto Pasal 29 dan atau Pasal 6 juncto Pasal 32 dan atau Pasal 8 juncto Pasal 34 Undang Undang RI Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi. Firza terancam hukuman di atas 5 tahun penjara. Pada 30 Mei 2017, Polda Metro Jaya bahkan menerbitkan surat penangkapan terhadap Rizieq.

Ketujuh, pada 10 desember 2020 Tersangka pelanggaran Kekarantinaan Kesehatan. Polda Metro Jaya menetapkan Rizieq Syihab sebagai tersangka terkait kasus dugaan pelanggaran protokol kesehatan pencegahaan Covid-19, yang menyebabkan kerumunan. Dianggap telah melanggar Pasal 93 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Penetapan status tersangka tersebut dilakukan beberapa minggu setelah kepulangan Rizieq dari Arab Saudi.

Laporan Polisi

Selain kasus-kasus yang akhirnya mengantarkan Rizieq sebagai tersangka, Rizieq juga banyak mendapatkan laporan polisi atas tindak tanduknya. Namun, laporan tersebut sebagian besar diantaranya tidak dilanjutkan pihak kepolisian.

Diantaranya seperti kasus dugaan penghinaan terhadap budaya Sunda yakni memplesetkan salam “Sampurasun”. Ketika itu Rizieq dilaporkan pada 24 November 2015. Selanjutnya kasus penguasaan tanah ilegal di Megamendung, Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Rizieq dilaporkan ke Bareskrim Polri pada 19 Januari 2016.

BACA JUGA

2 Tersangka Kasus Kerumunan Diperiksa, Polisi Keluarkan Surat Penangkapan

Kemudian kasus dugaan penghinaan terhadap agama Kristen terkait ceramahnya di Jakarta Timur. Rizieq dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada 27 Desember 2016. Disusul kasus dugaan penghinaan agama. Rizieq dilaporkan oleh Forum Mahasiswa Pemuda Lintas Agama ke Polda Metro Jaya pada 8 Januari 2017.

Rizieq juga pernah dilaporkan terkait kasus logo komunis yakni palu arit di mata uang pecahan Rp100 ribu. Rizieq dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada 8 Januari 2017. Selanjutnya, masih di kasus yang sama Rizieq juga pernah dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada 10 Januari 2017.

Yang terbaru, PTPN VIII juga melakukan laporan ke Bareskrim Mabes Polri terkait dugaan kasus penyerobotan lahan di Megamendung, Bogor pada 22 Januari 2021. Laporan tersebut telah teregistrasi di Bareskrim Polri dengan nomor LP/B/0041/I/2021/Bareskrim tertanggal 22 Januari 2021, dengan terlapor Muhammad Rizieq Syihab.

Berita terkait: