Ini Pembagian Peran Kaki Tangan Mafia Tanah

Mafia tanah merupakan sekelompok orang yang bekerja secara sistematis untuk mengambil alih lahan seseorang secara ilegal. Masing-masing oknum tidak pernah bekerja sendirian melainkan sebuah komplotan yang anggotanya memiliki peran masing-masing dalam upaya menguasai lahan milik orang lain.

“Yang jelas kalau dari segi fakta, ada timnya. Ada metode kerja, ada pembagian kerja. Misalnya ada yang kebagian mencari mangsa dan seterusnya,” kata Dino Patti Djalal , mantan Wakil Menteri Luar Negeri dan Dubes Indonesia untuk Amerika dalam wawancara khusus dengan , di Jakarta, Sabtu (20/2/2021).

Kasus praktik mafia tanah mengemuka setelah Dino melalui akun twitter-nya mengunggah sepak terjang komplotan yang hendak menjarah tanah ibundanya. Dino juga menyebut Fredy Kusnadi sebagai dalang sindikat mafia tanah .

Kasus tanah yang menimpa ibunda Dino pun sudah dilaporkan ke Polda Metro Jaya. Aparat sudah meringkus 15 orang dalam kasus ini.

Dijelaskan Dino, dalam praktik mafia tanah biasanya ada broker, pembeli tanah palsu, penyandang dana ( funder ), dan lain-lain. Masing-masing memiliki tugas, fungsi, dan peran sendiri-sendiri untuk memperdaya pemilik sah atas tanah.

“Ada yang menjadi pembeli palsu. Kemudian, ada yang bagian membuat KTP palsu, NPWP palsu, dokumentasi palsu,” ucap Dino.

BACA JUGA

Dalang Mafia Tanah Ditangkap, Dino Berikan Apresiasi kepada Presiden Jokowi

Tidak tanggung-tanggung, untuk memuluskan aksinya, mafia tanah malah juga ada yang bertugas mencari figur palsu yang mirip dengan pemilik tanah. Tujuannya, untuk memperlancar pembuatan identitas atau KTP palsu yang nantinya akan dipergunakan untuk balik nama kepemilikan tanah.

Dino juga yakin bahwa dalam sindikat ini ada penyandang dana. Funder inilah yang akan menggelontorkan dana hingga miliaran rupiah antara lain untuk memberikan deposit demi kesepakatan jual-beli.

“Karena untuk membujuk ibu saya memberi sertifikat, untuk (harga) rumah Rp 20 miliar itu harus deposit Rp 2 miliar,” ungkapnya.

Namun demikian, terkait funder atau penyandang dana, dijelaskan Dino, tidak semuanya merupakan bagian dari mafia tanah. Ada funder yang memang benar-benar tidak mengetahui uangnya akan digunakan untuk menipu pemilik tanah.

” Funder ini ada yang nakal dan baik. Dapat 10% dari transaksi, tapi ada juga yang untuk penipuan. Ada yang bertugas menggarap PPAT. Notaris yang bisa diajak kerja sama,” ucapnya.

BACA JUGA

Kasus Mafia Tanah, Fredy Kusnadi Ditetapkan Sebagai Tersangka

Mengetahui seluk beluk mafia tanah, Dino berharap aparat dapat mengungkap keberadaan siapa tokoh utama atau “jenderal” yang berada di belakang aksi penipuan tersebut. Namun demikian, diakui Dino, cukup sulit untuk menelusuri siapa “jenderal” mafia tanah.

“Yang paling susah atau paling penting, siapa yang paling atas. “Jenderal”-nya ini, godfather -nya itu siapa. Bisa saja godfather ini menangani beberapa komplotan. Perasaan saya tuh ada di atasnya. Saya orang awam. Komplotan ini dinamis kerjanya, tapi ada yang di atasnya secara lebih strategis. Tapi ini harus dibuktkan polisi, harus diikuti semua bukti dan informasi yang ada,” ucap Dino.

Dalam setiap aksi mafia tanah, menurut Dino, biasanya juga selalu berupaya melibatkan orang dalam. Baik itu orang dalam dalam pengurusan identitas KTP, balik nama sertifikat, hingga orang dalam ketika menghadapi proses hukum.

“Ada pembagian tugas dalang-dalang ini. Bikin KTP dan macam-macam. Tapi saya juga yakin ada yang coba menggarap orang dalam. Karena gak mungkin mereka bermain tanpa mencoba menggarap orang dalam. Ada orang yang ditugaskan. Orang dalam jajaran pemerintah yang relevan bagi upaya mereka,” kata Dino.

Berita terkait: