Ini 5 Hal yang Perlu Anda Ketahui tentang Vaksin Covid-19

Data awal uji coba vaksin Covid-19 pada minggu ini telah meningkatkan harapan bahwa vaksin bisa diluncurkan pada awal tahun 2021. Hal ini adalah berita baik bagi 8 miliar penduduk di bumi dalam mengakhiri pandemi global corona yang telah menginfeksi lebih 14 juta orang dan merenggut 610.000 nyawa di seluruh dunia.

Vaksin umumnya bertujuan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Untuk Covid-19, sebanyak 23 vaksin sedang dalam uji coba ke manusia. Ini termasuk vaksin tidak aktif yang dibuat menggunakan partikel virus yang dibunuh sehingga mereka tidak akan menginfeksi atau mereplikasi pada relawan.

Sementara dosis dimaksudkan untuk membantu tubuh menciptakan antibodi terhadap virus mati. Perusahaan swasta Tiongkok, Sinovac Biotech di antara perusahaan farmasi yang mengejar jenis vaksin ini.

Memproduksi vaksin adalah proses yang melibatkan banyak tahapan. Hal ini termasuk tes pra-klinis yang kadang melibatkan pengujian pada hewan untuk menentukan apakah vaksin menghasilkan respons kekebalan.

Berikutnya adalah Fase 1, yaitu para ilmuwan menilai keamanan awal obat pada sejumlah kelompok kecil relawan manusia

Fase 2 menilai keampuhan vaksin pada virus. Para ilmuwan akan memberikan vaksin kepada sekelompok relawan lebih besar. Biasanya jumlahnya ratusan dan dipecah menjadi kelompok-kelompok, untuk melihat apakah vaksin merespons berbeda pada setiap kelompok. Tahap ini juga digunakan untuk menguji lebih lanjut keamanan vaksin.

Pada Fase 3, vaksin diperkenalkan kepada ribuan peserta dan darahnya dibandingkan dengan mereka yang menerima plasebo.

Kapan Bisa Mendapatkan Vaksin?
Ada lebih 140 vaksin yang sedang diuji di dunia. Dari total itu, sebanyak 23 kandidat vaksin tengah menjalani uji coba ke manusia, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 15 Juli.

Dua vaksin dalam uji coba tahap 3 atau tahap akhir. Sementara satu akan memulai tahap akhir bulan ini. Komisi Pengawasan Aset dan Administrasi milik pemerintah Tiongkok mengatakan bahwa vaksin buatan Tiongkok siap pada awal tahun 2021.

Sementara WHO mengatakan pada bulan Juni bahwa beberapa ratus juta dosis vaksin Covid-19 dapat diproduksi pada akhir tahun 2020. Vaksin ini ditargetkan pada kelompok paling rentan seperti tenaga kesehatan dan manula. “Jika kami beruntung, akan ada satu atau dua kandidat yang sukses sebelum akhir tahun ini,” kata Kepala Ilmuwan WHO, Soumya Swaminathan dalam konferensi pers virtual.

Saat ini, beberapa vaksin potensial sedang dalam tahap pengembangan fase 3. Vaksin yang sedang dikembangkan perusahaan Inggris-Swedia AstraZeneca dan Universitas Oxford salah satu di antaranya.

Data yang dirilis 20 Juli menunjukkan vaksin itu menginduksi respons kekebalan pada semua peserta studi yang menerima dua dosis tanpa efek samping serius. Laporan menunjukkan bahwa vaksin darurat dapat diberikan pada bulan Oktober.

Sementara CanSinoBiologics dari Tiongkok dan unit penelitian militer negara itu juga memberikan hasil menjanjikan. Para peneliti mengatakan uji coba menunjukkan bahwa vaksin itu aman dan memicu respons kekebalan pada sebagian besar atau 508 sukarelawan sehat yang mendapat satu dosis vaksin. Sekitar 77 persen sukarelawan hanya mengalami efek samping kecil seperti demam atau nyeri di tempat suntikan, tetapi tidak serius.

Vaksin biasanya membutuhkan waktu beberapa tahun bahkan berpuluh-puluh tahun untuk bisa diproduksi massal. Mengingat besarnya krisis kesehatan saat ini, para ilmuwan berlomba dengan waktu untuk memproduksi vaksin dalam hitungan bulan.

Namun ilmuwan harus membuktikan bahwa vaksin aman dan efektif dalam uji coba yang melibatkan ribuan subjek sebelum persetujuan diberikan. Mengingat mepetnya waktu dan sumber daya, tidak mengherankan bahwa pengembangan vaksin adalah urusan yang mahal.

Negara yang Terlibat?
Lusinan negara terlibat dalam proyek ini, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Tiongkok, dan Singapura. Lebih 75 negara menyatakan minatnya bergabung dengan skema pembiayaan Covax yang dirancang untuk menjamin akses cepat dan merata pada vaksin Covid-19, kata aliansi vaksin GAVI 15 Juli lalu.

“75 negara, yang akan membiayai vaksin dari anggaran publik, akan bermitra dengan 90 negara miskin yang didukung melalui sumbangan sukarela untuk COVAX Advance Market Commitment (AMC) GAVI,” kata aliansi itu dalam sebuah pernyataan.

Beberapa dari upaya ini bersifat transnasional. Sebagai contoh, vaksin AstraZeneca dalam uji coba tahap 2/3 di Inggris, serta uji coba tahap 3 di Brasil dan Afrika Selatan. Perusahaan milik negara Tiongkok, Sinopharm, meluncurkan uji coba tahap 3 pada bulan Juli di Uni Emirat Arab dan melibatkan 15.000 relawan.

Di Singapura, para ilmuwan menguji vaksin Covid-19 dari perusahaan AS, Arcturus Therapeutics, dan berencana memulai uji coba manusia pada Agustus setelah menjanjikan respons awal pada tikus.

Jalan Panjang Pengembangan Vaksin Lain
Berikut adalah proses perjalanan waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan vaksin pada beberapa penyakit menular.

Ayam Pocx: atau dikenal sebagai infeksi varicella primer, hanya dibedakan dari herpes zoster (herpes zoster) pada 1950-an. Vaksin ini pertama kali ditemukan di Jepang pada 1970-an.

Demam Kuning: Penyakit ini telah menjangkiti manusia selama lebih 500 tahun, dan sebuah vaksin akhirnya diciptakan pada 1937 oleh pemenang Nobel Max Theiler, yang digunakan hingga hari ini.

Influenza: Selama pandemi influenza 1918, tidak ada obat untuk virus ini. Sementara vaksin pertama muncul pada tahun 1945. Namun dua tahun kemudian, para peneliti menyimpulkan bahwa perubahan musiman membuat komposisi virus berubah, sehingga vaksin menjadi tidak efektif.

Mereka menemukan dua jenis utama virus influenza, bersama dengan beberapa jenis baru, setiap tahun. Untuk alasan ini, para ilmuwan harus mengubah vaksin setiap tahun.

SARS: Virus ini pertama kali menginfeksi manusia di provinsi Guangdong Tiongkok pada 2002 dan diidentifikasi pada 2003 sebagai virus hewan dari kelelawar, sebelum menyebar ke hewan lain dan kemudian manusia.

“Dua vaksin SARS dievaluasi pada manusia,” kata Profesor Kanta Subbarao dari University of Melbourne.

Sejumlah kandidat yang menjanjikan diuji dalam studi pra-klinis.

Berita terkait: