Indonesia Kekurangan Tenaga Pemasaran Digital

Saat ini, pasar tenaga kerja di Indonesia dinilai sangat kekurangan lulusan sarjana komunikasi dengan skill pemasaran digital .

Bahkan, kalangan perusahaan kesulitan mencari talenta sarjana komunikasi yang memiliki skill pemasaran digital yang mampu langsung bekerja.

Terlebih lagi, dunia perguruan tinggi di Indonesia masih belum dapat menyediakan talenta yang siap kerja sesuai kebutuhan industri digital.

Chief Executive Officer (CEO) PT Value Plus, 

Reikman Aritonang mengatakan, penggunaan teknologi digital sudah berkembang pesat dan menjadi andalan pelaku bisnis dalam kegiatan usahanya di tengah pandemi virus corona atau Covid-19.

“Semua sektor perekonomian termasuk perdagangan, keuangan, pariwisata, fashion, manufacturing , UMKM dan lainnya, semakin bergantung pada pemasaran digital,” kata Reikman dalam keterangan pers yang diterima , Selasa (21/7/2020).

Rektor Universitas Sahid (Usahid), Prof Kholil mengatakan, pihaknya membuka program khusus sarjana komunikasi konsentrasi pemasaran digital yang dimulai bulan September 2020. Pendaftaran dibuka bagi mahasiswa yang ingin berkarier di bidang komunikasi pemasaran digital.

“Kami sebagai penyelenggaraan program, menggandeng praktisi dengan latar belakang perusahaan industri digital dan memiliki tingkat akademik yang handal dimana proses belajar dilakukan di adaptive program Usahid, di kampus Sudirman,” jelasnya.

Menurut Prof Kholil, program tersebut merupakan yang pertama di Indonesia yang diajarkan dengan metode adaptif untuk mendidik dan melatih mahasiswa memiliki skill kompetensi komunikasi pemasaran digital siap kerja.

“Melalui program ini, kami ikut berkontribusi menjembatani peluang kerja yang tersedia di bidang komunikasi pemasaran digital dengan talenta yang siap langsung kerja,” pungkasnya.

Berita terkait: