Indonesia Investment Authority Segera Beroperasi Akhir Q1 2021

Pembentukan Sovereign Wealth Fund (SWF) yang dinamakan Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Indonesia Investment Authority (INA) akan segera rampung dan mulai beroperasi sebelum akhir kuartal I 2021. Apalagi, Presiden Joko Widodo telah mengirim nama-nama calon dewan pengawas (Dewas) SWF ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Selasa (12/1) dan telah disambut baik. Sehingga, diperkirakan pada pekan depan, Dewas SWF telah terbentuk.

Staf Khusus Bidang Perumusan Kebijakan Fiskal dan Makro Ekonomi Kementerian Keuangan Masyita Crystallin menjelaskan bahwa saat ini Peraturan Pemerintah (PP) 73 dan PP 74 mengenai modal dan dewan pengurus saat ini sudah ada. Di mana, dewan pengawas terdiri dari lima orang, dua di antaranya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Menteri BUMN Erick Thohir dan tiga orang dari unsur profesional.

“Jadi, akan segera diumumkan Insyaallah minggu depan dan akan langsung membentuk komite-komite untuk meng- hire (mempekerjakan) dewan direktur yang akan dipilih dari profesional dan juga jumlahnya lima orang. Mudah-mudahan sebelum kuartal I berakhir SWF ini sudah up and running ,” katanya dalam Zooming With Primus “SWF Effect Bagi Ekonomi” yang disiarkan secara langsung di Bayu pun memprediksi, jika SWF ini terbentuk maka Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan terdorong ke level psikologis barunya yakni di level 7.000. Pasalnya, saat ini penguatan IHSG masih cenderung terbatas dan belum mencapai titik yang pernah dicapainya sebelum pandemi yang mencapai 6.600.

Sementara itu, SWF dinilai memberi katalis positif bagi perusahaan infrastruktur untuk membantu daur ulang aset. Hal ini diakui Direktur Utama PT Waskita Karya (Persero) Tbk Destiawan Soewardjono.

“SWF harapan besar bagi perusahaan kontraktor yang ingin juga investasi untuk recurring income. Kebutuhan infrastruktur kan masih sangat besar, meski APBN untuk infrastruktur meningkat tiap tahun, tapi untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur itu dana pemerintah belum cukup. Dengan adanya SWF ini harapan kami, kami bisa lebih leluasa untuk dapatkan pendanaan selain dari komersial seperti perbankan,” ujar dia.

Perseroan, sambungnya juga membutuhkan pendanaan jangka panjang sehingga proses bisnis utamanya di jalan tol akan terus berputar. Di mana, untuk investasi jalan tol rata-rata membutuhkan waktu 10-15 tahun untuk balik modal.

“Dari 2010-2019 kebutuhan Rp 4.900 triliun, baru bisa dipenuhi 40% dari anggaran pemerintah, sisanya dari anggaran BUMN maupun swasta. Karena pasti kedepan akan lebih besar, pertumbuhan ekonomi membutuhkan infrastruktur yang bagus. Dalam 5 tahun depan diperkirakan berlipat. Apalagi Jawa konektivitas toll road -nya kebutuhannya makin banyak, belum Sumatera, Sulawesi, Kalimantan,” pungkasnya.

Berita terkait: