Ikhtiar menahan kesenangan demi kemenangan

kewaspadaan tingkat tinggi selayaknya dimiliki semua pihak Jakarta – Dengan keyakinan dan percaya diri, beberapa waktu lalu Pemerintah India menyatakan telah mampu mengendalikan penyebaran virus corona (COVID-19) di negara itu.

Saat pernyataan itu disampaikan, angka kasus baru rata-rata masih 11 ribu per hari, jauh dari sebelumnya yang mencapai 50 ribuan kasus. Yang juga menambah keyakinan India adalah kemampuan memproduksi vaksin sendiri dan kemampuan memacu vaksinasi.

Karena itu, pelonggaran aktivitas publik mulai dilakukan di masyarakatnya. Kegiatan ekonomi dan sosial dilonggarkan, bahkan perayaan keagamaan juga diperbolehkan secara massal.

Pelonggaran yang dilakukan secara luas dan tak terkendali menyebabkan orang melupakan protokol kesehatan yang sudah dilakukan lebih setahun lalu. Masker ditinggalkan, tidak lagi menjaga jarak fisik dan lupa kebiasaan cuci tangan.

Baca juga: India laporkan rekor baru kasus COVID, Mumbai tutup pusat vaksinasi

Semua seperti larut dalam pesta-pesta setelah sekian bulan dikekang untuk menekan penularan virus corona. Pernyataan itu disambut suka cita yang memicu pesta, makan dan minum bersama serta menggelar kegiatan di Sungai Gangga dalam skala luas.
 

Sejumlah penumpang dengan mengenakan masker duduk di dalam bus sebelum waktu keberangkatan dari Terminal Kalideres di Jakarta Barat, Senin (26/4/2021). Meski Pemerintah telah menetapkan larangan mudik mulai dari 22 April – 24 Mei 2021, sejumlah armada Perusahaan Otobus (PO) tetap beroperasi di Terminal Kalideres. FOTO/M Risyal Hidayat/wsj.

Tetapi mulai April 2021, dunia terkejut dan tersentak ketika terjadi lonjakan kasus baru di negara berpenduduk 1,4 miliar itu. Lonjakan kasus baru itu diiringi dengan ketidakberdayaan dunia kesehatan dan kematian.

Krisis
Beragam platform media telah memberitakan dalam skala lebih rinci mengenai tsunami corona di India yang masih berlangsung hari-hari ini. Rumah sakit yang penuh dan tak berdaya sedang terjadi negara itu.

Tempat kremasi jenazah tak mampu lagi mengatasi antrean sehingga harus dilakukan kremasi di tempat terbuka. Krisis kesehatan di India pun menyentuh pula ke krisis kayu bakar.

India pada Jumat (30/4) melaporkan 386.452 kasus baru COVID-19 yang sekaligus rekor baru. Menurut data Kementerian Kesehatan setempat jumlah kematian akibat virus itu melonjak sebanyak 3.498 orang selama 24 jam terakhir.

Para ahli medis percaya bahwa angka COVID-19 di negara terpadat kedua di dunia itu sebenarnya mungkin mencapai lima hingga 10 kali lebih besar dari hitungan resmi.

Baca juga: China larang kapal dari India setelah 11 awak positif COVID

India sejak akhir Februari 2021 telah mencatat sekitar 7,7 juta kasus lagi ketika gelombang kedua meningkat. Sebelumnya, menurut Reuters, India mencatat 7,7 juta kasus COVID dalam masa lebih lama, yakni hampir enam bulan.

India adalah negara produsen vaksin terbesar di dunia namun tak punya cukup persediaan untuk mengimbangi gelombang kedua COVID-19 yang banyak menelan korban jiwa.

Di negeri tersebut, dinamika penyebaran dan penanganan virus corona seperti drama dalam film-filmnya; semula kadang tertawa, tetapi tiba-tiba menangis, kadang penuh canda tetapi juga ada air mata.

Mudik
Itulah fakta di India yang sedang menjadi perhatian dunia. Fakta itu menjadi pembelajaran bagi siapapun mengenai penanganan virus corona.

Dari sisi percepatan penyebarannya, virus corona sama sekali tidak mengenal jarak wilayah. Kecepatan penyebarannya juga tidak mengenal jarak tempuh.

India di bagian Asia Selatan, sedangkan Indonesia di kawasan Asia Tenggara. Tidak terlalu jauh bukan?
 

Kerabat menyiapkan jenazah seseorang, yang meninggal karena penyakit virus corona (COVID-19), untuk dikremasi di tempat krematorium di New Delhi, India, Rabu (28/4/2021). REUTERS/Danish Siddiqui/AWW/sa. (REUTERS/DANISH SIDDIQUI)

Karena itu, kewaspadaan tingkat tinggi selayaknya dimiliki semua pihak. Apalagi telah ada ratusan warga negara India masuk ke Indonesia yang masalahnya sedang ditangani pihak Kepolisian.

Pun demikian dengan potensi lonjakan penyebarannya bisa terjadi di arus mudik menjelang lebaran. Dalam konteks inilah urgensi pelarangan mudik menjadi semakin penting untuk benar-benar dilaksanakan.

Baca juga: Wali Kota Jakarta Utara minta warga memahami esensi larangan mudik

Pelarangan mudik merupakan instrumen dari pemerintah agar tidak terjadi lonjakan kasus baru setelah lebaran. Semua orang tentu tidak menginginkan hal itu terjadi.

Lebaran ini adalah kali kedua adanya pelarangan mudik. Seperti tahun lalu, hari-hari ini tak sedikit orang berusaha keras menjebol pertahanan instrumen pelarangan mudik atau menyiasatinya dengan mudik yang dipercepat.

Itu demi bisa untuk berkumpul dengan keluarga besar di kampung halaman. Tentu ada nuansa batin yang berbeda bila bisa mudik dan berlebaran bersama keluarga besar.

Ada kebahagiaan dan rasa senang. Namun juga harus disadari bahwa situasi saat ini bisa mengubah dari suka cita menjadi duka cita karena virus corona bisa ada dimana saja.

Baca juga: Dishub DKI tetapkan 31 titik penyekatan saat pelarangan mudik

Karena itu, kini makna puasa Ramadhan semakin aktual dan kontekstual dalam pengendalian diri untuk tidak mudik. Juga pengendalian untuk menunda suka cita dan kesenangan.

Kalau itu bisa dilakukan, maka makna kemenangan tidak sekedar terkait kemampuan mengendalikan diri dalam menahan nafsu untuk mudik tetapi juga kemenangan dalam perang menghadapi virus corona.

Momentum
Tanpa ada kesadaran kolektif, pandemi virus corona ini masih jauh dari selesai. Tetapi ada banyak alasan untuk optimis bahwa pandemi bisa berakhir dengan peningkatan disiplin terhadap protokol kesehatan dan mematuhi kebijakan pemerintah.

Di Indonesia, virus ini pada 2 Maret 2020 baru menginfeksi dua orang tetapi terus naik hingga pernah belasan ribu orang dalam satu hari. Dalam beberapa pekan terakhir berada di bawah 10 ribu, bahkan berkisar 5.000 kasus.

Baca juga: Dinkes DKI: Menurun, klaster perkantoran ada kemungkinan naik lagi

Angka itu memberi sinyal kuat agar upaya keras tidak kendor. Juga agar seluruh warga bangsa ini tidak teledor sehingga momentum penurunan kasus secara signifikan dapat terjaga dan tidak terjadi tsunami corona.

Semua ingin berlebaran dalam perasaan suka cita dan perasaan seperti itu tidak mesti ada di kampung halaman. Dimana pun kita berada juga ada lebaran.

Kini kita dihadapkan pada tantangan untuk sekali lagi berlebaran “di rumah saja” agar momentum penurunan kasus bisa terus terjaga.

Berita terkait: