Hasil Abu-Abu Tes Usap Covid-19

Pesan elektronik berisi hasil tes usap (PCR Swab) dibuka Dd dengan perasaan was-was. Ini merupakan hasil tes kedua setelah menjalani isolasi mandiri. Batinnya berkecamuk. Harap-harap cemas antara positif atau sudah negatif covid-19. Hasil tes dibaca, keterangannya justru membingungkan.

Sambil mengernyitkan dahi, Dd tidak menyangka hasil diterimanya tidak memberi kepastian. Bukan tulisan positif atau negatif. Hasil tes menyebutkan kondisinya terkini adalah Presumtive positive/inconclusive. “Tiba-tiba yang keluar adalah presumtif itu. Dugaan dan tidak bisa disimpulkan,” ujar Dd kepada Rabu pekan lalu.

Dia bercerita, semua bermula ketika kantornya menggelar tes rapid. Hasil tesnya reaktif. Berbekal hasil yang tak menyenangkan itu, karyawan swasta tersebut mengambil inisiatif untuk melakukan tes PCR Swab secara mandiri. Sekitar pertengahan September, dia melakukan tes usap di Genomik Solidaritas Indonesia (GSI) Laboratorium, salah satu perusahaan penyedia jasa tes PCR Swab di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.

Tes usap pertama itu menegaskan hasil tes rapid. Dd terkonfirmasi positif Covid-19. Mendapat kepastian bahwa dirinya positif, dia meminta ibu dan adiknya melakukan tes usap. Ini dikarenakan memang tinggal serumah. Tes di tempat yang sama, hasilnya keduanya juga positif Covid-19. Mendapat hasil demikian, Dd dan keluarga kemudian menjalani isolasi mandiri di rumah.

Waktu isolasi dijalani dengan penuh harapan bahwa keadaan mereka membaik. Setelah 14 hari melakukan isolasi mandiri, Dd bersama ibu dan adiknya kembali menyambangi GSI Laboratorium untuk kembali memastikan kondisi kesehatannya. Tes kedua itulah menunjukkan hasil abu-abu. Tak dapat disimpulkan apakah mereka sudah positif atau masih negatif.

Dalam hasil tes juga dilampirkan sejumlah keterangan lain, seperti E Gene, E Gene Ct, dan RDRP Gene, yang disertai angka tertentu. Keterangan ini tidak mereka pahami. Sejauh pemahamannya sebagai masyarakat, seharusnya hasilnya berada antara positif atau negatif saja. Mengingat tes PCR Swab merupakan tes yang paling akurat. Fakta lain yang dia temui dari hasil tes membuat Dd bingung.

Hasil presumtif juga diterima Ibu dan adiknya. Ketidakjelasan hasil ini, membuat mereka disarankan GSI Laboratorium untuk kembali isolasi kembali. Kemudian kembali tes usap setelah dua pekan. “Dengan keluarnya hasil presumtif itu sangat membingungkan. Seolah hasilnya membingungkan. Karena saya merasa belum ada edukasi sebelumnya tentang hal itu,” ucap dia.

Hasil tersebut mendorong mereka untuk mendatangi Puskesmas dekat rumah. Di sana mereka bertemu dengan pihak Satgas Covid-19. Menggali keterangan mengenai hasil presumtif yang dikeluarkan GSI Laboratorium.

Dari perbincangan dengan pihak satgas, sang ibu kemudian diarahkan untuk kembali menjalani tes PCR Swab. Kondisi Ibunda yang sudah lanjut usia dan memiliki riwayat penyakit menjadi alasannya. Sedangkan Dd dan adiknya hanya perlu kembali melakukan isolasi mandiri dan tidak perlu melakukan tes kembali. Bahkan, kata Dd, petugas Puskemas memastikan akan mengeluarkan surat menyatakan bebas covid-19 kepada dirinya dan sang adik.

Mendapat pernyataan demikian, Dd bertanya lagi apa yang menjadi landasan surat sehat yang akan dikeluarkan nanti. Pihak puskesmas menjelaskan soal angka dalam hasil pemeriksaan Dd. Dari hasil tes sendiri, hasil tes E Gene CT tertulis 33,09.

“Berdasarkan angka itu. Dia (petugas Puskesmas) bilang kalau angkanya sudah di bawah 45 ini sudah menuju baik,” ungkap dia.

GSI Laboratorium mengakui di tempatnya memang ada tiga kategori hasil tes. Tiga kategori tersebut, yakni hasil tes negatif, hasil tes positif, dan hasil tes presumtif positif. Salah seorang petugas GSI Laboratorium, Didi menjelaskan, untuk presumtif positif artinya ini bisa terjadi apabila sakit pada tahap awal atau akhir. Sehingga kadar virus terlalu rendah terbaca mesin atau infeksi corona lain.

Jika menilik hasil yang didapat Dd maka hasil presumtif positif dapat dikatakan merupakan peralihan menuju negatif. Hasil tes itu menunjukkan kemungkinan besar bahwa seseorang terinfeksi Covid-19 segera sembuh. Meskipun untuk memastikan hasil harus kembali menjalani tes usap.

“Kalau presumtif ini bisa jadi dikatakan peralihan menuju negatif. Karena untuk presumtif ini tidak dipastikan 100 persen, jadi bisa jadi masa peralihan sebelumnya positif kemudian sekarang presumtif bisa menuju negatif,” kata dia saat dihubungi

CT-Value (Cycle Threshold Value) merupakan nilai yang digunakan untuk menentukan rendah/tingginya kadar virus SARS-CoV-2 dalam tubuh manusia. Pihak penyelenggara tes sudah punya nilai rujukan tertentu (cut off).

Nilai tersebut menjadi patokan untuk menyatakan apakah orang yang melakukan tes sedang dalam kondisi menuju kesembuhan atau sebaliknya. Untuk di GSI Laboratorium, nilai rujukan atau nilai cut off itu di atas 38,7.

Hasil presumtif sama sekali bukan tanda bahwa alat tes yang dipakai rusak atau kurang berkualitas. Lagipula hasil presumtif bukanlah sebuah kasus baru bagi GSI Laboratorium. Beberapa peserta tes usap memang mendapat hasil presumtif setelah tes kedua.

Kepada orang yang mendapatkan hasil presumtif diminta untuk melakukan isolasi mandiri dan menjaga imunitas tubuh. Mereka juga dianjurkan untuk kembali melakukan tes PCR Swab. “Jadi bisa dikatakan untuk masa peralihan dari. Kalau peserta tidak jaga kesehatan tidak mematuhi protokol kesehatan tidak distancing bisa jadi hasilnya positif kembali,” dia menerangkan.

Dd mengaku agak ragu untuk kembali melakukan tes PCR Swab mandiri. Dia khawatir jika hasilnya kembali menunjukkan presumtif. Kemudian dia harus tes kembali hingga dinyatakan negatif. Apalagi harga tes usap mandiri dirasa masih cukup mahal. Kemampuan finansialnya patut dipertimbangkan.

Untuk pengecekan pertama, dia sekeluarga harus membayar Rp 1.288.000. Biaya itu hanya untuk satu orang. Jika ditotal, biaya tes pertama untuk ibu, adik, dan dirinya sudah mendekati Rp 4 juta rupiah . Sementara untuk biaya tes untuk melakukan tes kedua sekitar Rp 900.000 per orang. “Kita sudah tes, mau bayar mahal mandiri, berharap hasilnya jelas, positif atau negatif. Bukan abu-abu begini,” tegas dia.

Belajar dari pengalaman tersebut, Dd mengaku ogah kembali melakukan tes PCR Swan mandiri. Dia lebih memilih untuk melakukan tes di Puskesmas saja setelah menjalani isolasi mandiri. Apalagi surat rekomendasi sehat akan diberikan. Karena sudah banyak biaya dikeluarkan.

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra, berpendapat bahwa pada kasus tertentu tes usap bisa saja ada sensitivitas yang berubah karena beda cara mengambil. Mungkin juga terkait dengan kualitas spesimennya dan juga cara melakukan pemeriksaan.

Untuk hasil presumtif, kata dia, tidak menutup kemungkinan bisa terjadi. Sebab hasil ini menunjukkan asumsi. Sehingga seseorang belum bisa dipastikan positif maupun negatif covid-19.

Harus disadari pula bahwa hasil presumtif memang menimbulkan masalah tersendiri. “Hal-hal ini bisa menimbulkan kegamangan di tengah masyarakat,” kata Hermawan mengungkapkan.

Berita terkait: