Harlah Ke-98 NU, Anies: Sulit Bangun Persatuan dalam Kondisi Ketimpangan

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menekankan tentang salah satu pekerjaan rumah yang besar bangsa Indonesia yakni mengatasi ketimpangan. Menurut Anies, persatuan tidak bisa dibangun dalam situasi ketimpangan.

Hal ini disampaikan Anies dalam sambutannya di acara Harlah ke-98 Nahdlatul Ulama (NU), Sabtu (27/2/2021) malam. Sambutan ini kemudian diunggah Anies dalam akun twitter @aniesbaswedan, Minggu (28/2/2021).

“Hari ini ketimpangan masih menjadi salah satu pekerjaan rumah yang besar untuk bangsa kita ke depan. Kemarin, NU mengambil peran menjadi pilar, pengaman, dan pembentuk perasaan keindonesiaan. Ke depan, NU terus menambahkan dengan menjaga peran mempersatukan atau menjaga persatuan. Sulit membangun persatuan dalam kondisi ketimpangan,” ujar Anies.

Persatuan, kata Anies, harus dibangun dalam perasaan kesetaraan. Menurut Anies, persatuan membutuhkan perasaan keadilan, karenanya, gerakan zakat, infak, sedekah yang dilakukan NU mampu menjadi penggerak yang efektif untuk membereskan ketimpangan.

BACA JUGA

Hashim: Lupakan Perselisihan, Rajut Persatuan dan Kesatuan

“Mengangkat yang di bawah. Bukan mengecilkan yang besar, melainkan membesarkan yang kecil. Persis seperti ketika Hadlratusyaikh Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Chasbullah mendirikan Nahdlatut Tujjar pada 1918, yang menjadi penopang dakwah dan kemandirian ekonomi. Sekaligus menciptakan harmoni sosial. Menghadirkan suasana kesetaraan,” ungkap dia.

Begitu pula, kata Anies, peran NU di bidang pendidikan. Anies berharap NU terus menjadi sokoguru seperti perjalanan 100 tahun pertama. Menurut dia, dalam perjalanan seratus tahun kedua nanti, NU bersiap menjadi lokomotif penumbuhan pengusaha di pondok pesantren seluruh Indonesia. “Di dalam tubuh NU, harus dimunculkan pribadi-pribadi yang kreatif dan inovatif,” ungkap Anies.

Saat ini, lanjut Anies, bangsa Indonesia termasuk Jakarta berada dalam suasana pandemi Covid-19. Dia pun mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada NU yang telah menjadi salah satu garda terdepan di dalam mencegah penyebaran Covid-19.

“Saat masyarakat sulit NU hadir membantu, dan penyalurannya begitu masif. Sering sekali hal ini luput dari sorotan media, tapi dijamin terlihat di mata Allah dan dicatat di dalam sejarah kontribusi bangsa kita,” tutur Anies.

BACA JUGA

Survei: NU dan Muhammadiyah Puas dengan Kinerja Presiden Jokowi

NU, lanjut Anies, telah hadir menjadi salah satu pilar penjaga utama republik ini dan sabuk pengaman perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Hal tersebut tidak bisa dilepaskan dari peran para ulama NU sampai usia ke-98 tahun (16 Rajab 1344-16 Rajab 1442).

“Ini yang kita syukuri dengan rasa bangga. Ini di antara keberkahan para muassis (pendiri) NU, dari Hadlratusyaikh Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Sansuri. Ini akan menjadi inspirasi yang menggerakkan bagi kita semua. Selamat Harlah ke-98 NU. Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat dan rida-Nya atas semua ikhtiar kemajuan yang NU lakukan,” pungkas Anies.

Berita terkait: