Hari Keempat Puluhan Ribu Massa di Bangkok Berunjuk Rasa, Langgar Larangan Berkumpul

Puluhan ribu pengunjuk rasa menentang larangan berkumpul lebih dari empat orang dan berkumpul di Bangkok pada Minggu, hari keempat unjuk rasa anti pemerintah. Para pengunjuk rasa membawa poster aktivis yang ditangkap.

Gerakan yang dipimpin anak muda mengalami pukulan pekan ini. Sejumlah orang ditangkap setelah para pengunjuk rasa mengepung iring-iringan mobil kerajaan dan memberikan “hormat demokrasi” kepada Ratu Suthida.

Pemerintah bereaksi dengan tindakan darurat – termasuk melarang pertemuan lebih dari empat orang di Bangkok – dan penangkapan para pemimpin unjuk rasa yang menyerukan pencopotan Perdana Menteri Prayut Chan-ocha, mantan panglima militer yang dibawa ke tampuk kekuasaan dalam kudeta 2014.

Polisi juga menggunakan meriam air untuk membubarkan para pengunjuk rasa di distrik perbelanjaan pusat Bangkok pada Jumat.

Juru bicara Ke polisi an Nasional Yingyos Thepjumnong memperingatkan pengunjuk rasa Minggu pagi, tidak ada aksi unjuk rasa yang “menyebabkan kerusuhan dan kekacauan” akan diizinkan.

“Jika mereka menentang, polisi akan melakukan apapun yang diperlukan untuk penegakan hukum,” ujarnya, dikutip dari France 24, Senin (19/10).

Tetapi polisi tetap tidak terlihat pada Minggu ketika media lokal mengatakan lebih dari 20.000 massa turun ke jalan dari sore hari sambil meneriakkan “Bebaskan teman-teman kami” sambil membawa poster mereka yang ditangkap.

Melanggar Tabu

hari keempat puluhan ribu massa di bangkok berunjuk rasa, langgar larangan berkumpul

Di antara mereka yang ditangkap termasuk pengacara HAM Anon Numpa, Parit “Penguin” Chiwarak, dan Panusaya “Rung” Sithijirawattanakul – tiga sosok paling dikenal dalam gerakan tersebut dan yang secara konsisten menyerukan reformasi monarki.

Di antara tuntutan mereka adalah penghapusan undang-undang pencemaran nama baik kerajaan yang kejam – yang melindungi Raja Maha Vajiralongkorn dari kritik – dan seruan agar raja tidak ikut campur dalam politik negara yang bergejolak.

Tuntutan reformasi kerajaan yang pernah menjadi tabu di Thailand adalah salah satu tantangan terbesar yang dihadapi pemerintah konservatif yang berpihak pada militer kerajaan.

“Ada kelompok orang yang mengklaim monarki untuk keuntungan mereka sendiri dan untuk menyingkirkan lawan politik mereka,” kata lulusan berusia 24 tahun yang meminta untuk tidak disebutkan namanya.

“Kami tidak akan mendapatkan demokrasi sejati jika tidak ada reformasi monarki,” katanya kepada AFP.

Monumen Kemenangan, salah satu jalan raya tersibuk di Bangkok, diblokir pengunjuk rasa, tetapi mereka memberi jalan bagi kendaraan darurat dan yang mengirim pasokan ke orang-orang yang memadati sepanjang jalan menuju bundaran.

hari keempat puluhan ribu massa di bangkok berunjuk rasa, langgar larangan berkumpul

Sejak gerakan dimulai pada Juli, pengunjuk rasa yang paham media sosial memanfaatkannya untuk menyebarkan pesan mereka, mengirimkan peringatan melalui kelompok-kelompok yang baru dibentuk di Telegram – aplikasi pesan yang aman – dan mengadopsi tips dari pengunjuk rasa pro-demokrasi Hong Kong.

Tempat protes lain di Asok, distrik perbelanjaan dan restoran populer, menarik sekelompok kecil pengunjuk rasa.

Pertemuan direncanakan di seluruh negeri – dari Phuket di selatan hingga Khon Khaen di timur laut, di mana mahasiswa memegang potret Prayut dengan tulisan “Keluar” tertulis di atasnya.

Kelompok Pengacara HAM Thailand melaporkan setidaknya 80 orang ditangkap sejak Selasa

Sejauh ini, dakwaan terhadap pengunjuk rasa berkisar dari melanggar tindakan darurat hingga hasutan.

Namun, pada Jumat, dua aktivis didakwa di bawah undang-undang yang jarang digunakan yang melarang “kekerasan terhadap ratu” – dengan hukuman maksimal seumur hidup di penjara jika terbukti bersalah.

Pihak berwenang mempertahankan penggunaan kekuatan mereka pada Jumat, dengan mengatakan itu sesuai dengan “standar internasional”.

Baca juga:
Rakyat Versus Raja, Gemuruh Revolusi di Thailand
Lautan Massa Pro-Demokrasi Thailand Sesaki Jalanan di Tengah Dekrit Darurat
Massa Thailand Bermalam di Jalan Saat Gelar Aksi Protes Pemerintah
Thailand Keadaan Darurat, Unjuk Rasa Memanas dan Massa Dilarang Berkumpul
Ribuan Demonstran Tuntut Reformasi Kerajaan Thailand dan Perdana Menteri Mundur
Serukan Reformasi, Mahasiswa Thailand Pasang Plakat ‘Negara Milik Rakyat’

Berita terkait: