Hari Bumi, KLHK Ajak Masyarakat Kontribusi dalam Penurunan Emisi Karbon

Dalam rangka Hari Bumi sedunia yang jatuh pada hari ini, Kamis (22/4/2021), Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ( KLHK ), Laksmi Dhewanthi, mengajak semua masyarakat melakukan upaya bersama dalam penurunan emisi gas rumah kaca.

Isu pemanasan global dan perubahan iklim sudah menjadi perhatian global sejak Rio Summit pada 1992 dan Paris Agreement pada 2015 yang bertujuan untuk mencegah kenaikan suhu global kurang dari 2 derajat celcius dari angka sebelum masa Revolusi Industri, dan membatasi perubahan temperatur hingga setidaknya 1,5 derajat.

Intergovernmental Panel of Climate Change (IPCC) juga merekomendasikan pentingnya global net zero emission atau bebas emisi pada tahun 2050. Berbagai negara termasuk Indonesia sudah melakukan upaya menuju arah tersebut dengan cara yang berbeda tergantung dengan kondisi dan kapasitas nasional masing-masing.

BACA JUGA

Hari Bumi Jadi Momentum Apresiasi Masyarakat Adat dalam Mengelola SDA Indonesia

“Di tingkat nasional, belakangan ini Indonesia menghadapi bencana hidrometeorologis yang sangat terkait dengan perubahan iklim seperti banjir, longsor, kenaikan muka air laut,” ujar Laksmi dalam webinar Berita Satu Media Holdings “Mengurangi Emisi Karbon, Menyelamatkan Bumi” hari ini, Kamis (22/4/2021).

Laksmi mengatakan bencana tersebut sangat merugikan dari aspek ekonomi, aspek lingkungan hidup dan kesehatan, maka dari itu, bagi Indonesia, adaptasi perubahan iklim sama pentingnya dengan mitigasi perubahan iklim dan merupakan elemen yang tidak bisa dipisahkan dalam konteks pengendalian perubahan iklim.

Dalam Nationally Determined Contributions (NDC), Indonesia berkomitmen untuk melaksanakan dan mitigasi perubahan iklim dengan target penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 29% dengan upaya sendiri dan 41% dengan dukungan internasional.

Sebagai gambaran, penurunan gas emisi rumah kaca nasional yang sudah dipublikasikan pada tahun 2019 adalah sebesar 241,72 juta ton CO2 dengan kontribusi sektor kehutanan sebesar 68% dari total penurunan emisi gas rumah kaca tersebut.

BACA JUGA

Ketua IFCC: Isu Perubahan Iklim dan Kelestarian Akan Menentukan Masa Depan Ekonomi Indonesia

Indonesia memperkirakan target net zero emission terjadi pada 2060 atau lebih cepat melalui upaya penurunan emisi gas rumah kaca pada 2030, peningkatan energi terbarukan, dan menerapkan secara luas upaya pengelolaan sampah seperti pemanfaatan sampah sebagai sumber energi listrik.

Dalam kesempatan perayaan Hari Bumi, KLHK mengajak semua masyarakat untuk secara bersama melakukan upaya bersama dalam penurunan emisi gas rumah kaca baik secara individu seperti menghemat penggunaan air, memilah sampah, menggunakan transportasi umum.

Moderator diskusi, Direktur Pemberitaan Berita Satu Media Holdings Primus Dorimulu, mengatakan bumi yang sehat bukan pilihan melainkan sebuah kebutuhan. Pandemi Covid-19, badai, hujan dan longsor yang terus terjadi menyadarkan manusia untuk menjaga bumi, saat ini di dunia sedang menghadapi ancaman global yang membutuhkan respon semua pihak.

“Bagi Indonesia sendiri, dalam memperingati Hari Bumi perlu diikuti langkah detail memulihkan bumi, perlu ada target atau langkah konkret untuk menurunan emisi karbon, di antaranya korporasi yang lalai perlu dihukum, perlu percepatan penggunaan energi terbarukan dan berikan insentif kepada energi terbarukan, inovasi dalam energi terbarukan harus didukung, mengatasi dan mengolah sampah menjadi energi, kampanye massif aksi reduced, reused, replant dan recycle , kemudian pendidikan lingkungan bagi generasi muda dan percepatan pembahasan RUU energi terbarukan,” kata Primus dalam sambutannya.

Berita terkait: