GPBSI: Sebagian Besar Pengelola Bioskop Belum Siap Buka

Setelah melakukan rapat anggota pada Rabu (14/10/2020), Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) memutuskan bahwa tidak semua bioskop akan dibuka bersamaan atau serentak. Mengingat, sebagian besar pengelola bioskop tidak bersedia menerima keputusan Pemprov DKI Jakarta yang membatasi kapasitas maksimal 25% di setiap ruang studio.

Ketua GPBSI Djonny Syafruddin saat dihubungi Suara Pembaruan, Jumat (16/10/2020) malam, menjelaskan saat ini terdapat dua jaringan bioskop besar yaitu CGV dan Cinepolis yang telah mengajukan asesmen oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dan Gugus Tugas Penanganan Covid- 19 DKI Jakarta. Setelah bioskop itu lulus asesmen, baru dibolehkan buka.

“CGV akan asesmen pada Senin (19/10/2020). Kalau lulus CGV langsung buka di Jakarta keesokan harinya. Konten yang akan digunakan adalah film-film Korea, salah satunya Peninsula. Kalau Cinepolis sudah asesmen kemarin, Kamis (15/10/2020), tetapi belum menentukan sikap apakah buka setelah lulus asesmen, atau belum,” terang Djonny.

BACA JUGA

Bioskop di Semarang Siap Dibuka Kembali

Sedangkan jaringan bioskop terbesar di Indonesia, yaitu Cinema XXI rupanya masih mengurungkan niat untuk membuka lebih dari 1.100 layarnya yang tersebar di 50 kota di Indonesia. Hanya dua bioskop di lokasi Ternate dan Jayapura, yang sudah mulai dibuka minggu ini.

Alasannya, batas pengunjung 25% tak layak secara ekonomis, baik bagi pengelola, maupun produser film yang akan menayangkan film-nya. Alhasil, para pemilik atau pun distributor film pun enggan mengirimkan karya-karya mereka untuk ditayangkan di bioskop.

“Tidak ada film, bagaimana mau dibuka bioskopnya? Bahkan, pemasok film impor atau Hollywood sudah menunda penayangan film-film mereka di Indonesia, mulai dari November hingga awal tahun nanti. Kita kalah dari Singapura, Malaysia, dan Hong Kong,” terangnya.

Terdampak UMKM
Djonny pun mengatakan, penundaan pembukaan jaringan bioskop besar seperti Cinema XXI di Jakarta rupanya memiliki dampak yang besar bagi bioskop daerah, maupun usaha mikro kecil menengah (UMKM) terkait. Seperti pengusaha bahan pangan, atau pun souvenir yang biasa dijual di bioskop.

“Jika bioskop besar di Jakarta tidak buka, otomatis tidak ada film baru yang bisa disalurkan ke daerah. Bisa saja di daerah juga tutup lagi karena tidak ada film. Dari sini, dampaknya sangat besar, tidak hanya pada pemilik bioskop, pembuat film, tetapi juga UMKM. Kuliner dan segala macam itu mati. Mal juga akan sepi,” ungkapnya.

BACA JUGA

Bioskop yang Langgar Protokol Kesehatan Langsung Ditutup

Saat ini pihak bioskop selalu memastikan untuk menjaga fasilitas dan kebersihan bioskop selama tutup berbulan-bulan. Hal ini dilakukan untuk mengembalikan kepercayaan pasar. Ia pun juga berpesan, agar pihak-pihak lainnya tak menebarkan ketakutan pada masyarakat untuk berkunjung ke bioskop.

“Belum ada laporan bioskop yang menjadi klaster di negara-negara yang sudah beroperasi kembali. Kita selalu patuh terhadap semua yang diperintahkan, terutama untuk menjaga kebersihan dan menjalankan protokol kesehatan yang ketat. Padahal kalau kafe atau restoran dibuka, tidak ada yang menegur,” pungkasnya.

Berita terkait: