Gerakan Berbagi Ponsel untuk Pelajar Tidak Mampu

Pandemi Covid-19 menunjukkan wajah dunia pendidikan Indonesia yang sesungguhnya. Banyak guru dan juga pelajar banyak dari kalangan kurang mampu kesulitan melaksanakan metode pembelajaran jarak jauh (PJJ) karena keterbatasan akses dan ketidakmampuan membeli gawai lengkap dengan paket internetnya.

Melihat fenomena pembelajaran daring yang tidak berjalan dengan mulus di Tanah Air, sejumlah wartawan yang tergabung dalam kelompok Wartawan Lintas Media menginisiasi gerakan donasi bernama Ponsel Pintar untuk Pelajar.

Salah satu inisiatornya, Margareth Aritonang dari Harian Jakarta Post mengatakan bahwa inisiasi ini berawal dari kumpulan keresahan masyarakat di kawasan kumuh.

Beberapa bulan sebelumnya, Margareth dan sembilan rekannya dari Wartawan Lintas Media mendapati sebuah keluarga yang hanya punya satu ponsel yang dipakai beramai-ramai untuk segala kebutuhan.

“Pada awal pandemi, kami memberikan bantuan sembako. Keluarga yang kami bantu ini sangat miskin. Mereka ingin mempertahankan agar anak bisa sekolah tetapi sulit,” terangnya saat dihubungi Suara Pembaruan, Selasa (28/7/2020).

Awalnya, program donasi ponsel ini memiliki target untuk dapat membantu 50 anak tak mampu di kawasan Jabodetabek. Namun di luar dugaan, partisipasi masyarakat dalam gerakan ini amatlah besar. Hingga Sabtu (25/7/2020), sudah terkumpul 88 gawai termasuk ponsel dan tab yang disumbangkan.

“Syarat donasi ponsel sederhana. Ponsel yang diberikan harus dalam keadaan menyala atau tidak rusak dan mampu menjalankan aplikasi Zoom ataupun media pembelajaran daring lainnya yang dibutuhkan oleh pelajar,” jelasnya.

Selain berdonasi ponsel, masyarakat juga bisa menyumbangkan dana di laman Kitabisa.com. Nantinya, dana tersebut akan digunakan untuk membeli aksesori ponsel seperti charger dan juga paket internet.

“Kami ingin gerakan ini berjalan sustainable . Kami memberikan donasi ponsel ini kepada orang yang sangat tidak mampu. Jangan sampai ketika mereka telah memiliki ponsel tetapi tetap tidak bisa sekolah karena tidak mampu membeli paket internet. Apabila mencukupi, kami akan gunakan untuk membeli ponsel bagi para siswa di daerah lain yang membutuhkan,” tuturnya.

Margareth bercerita, banyak sekali anak dari luar Jabodetabek yang mendaftarkan diri secara mandiri untuk mendapatkan donasi ini. Mulai dari Aceh, Surabaya, Tegal, Lampung, hingga Bajo di Sulawesi Selatan. Sedangkan para guru-guru di Nabire, Papua juga turut mendaftarkan murid-muridnya untuk mendapatkan bantuan ponsel ini.

“Kami juga berupaya untuk menyeleksi pelajar yang benar-benar membutuhkan. Untuk itu, kami lakukan verifikasi ke pihak sekolah dan juga orang tua serta meminta foto rapor terakhir. Kemudian, kami melakukan video call juga dengan calon penerima donasi. Kami bertanya mengenai diri mereka, dan apa keinginan besar mereka setelah bisa kembali bersekolah nanti,” jelasnya.

Tidak lepas dari donasi, Wartawan Lintas Media juga mengajak partisipasi masyarakat untuk menjadi relawan bagi penerima donasi. Relawan ini nantinya bertugas untuk memastikan penerima donasi menggunakan ponsel sesuai tujuan awal, yaitu belajar.

“Lebih dari itu, relawan juga bisa menjadi teman curhat atau konseling sederhana, serta menjadi mentor pelajaran jarak jauh apabila memungkinkan. Pasalnya, tidak sedikit relawan yang mendaftar adalah para pekerja,” ungkapnya.

Harapannya, gerakan ini akan terus berlanjut dan membantu para pelajar yang dalam lima bulan terakhir ini kesulitan menerima pelajaran dari gurunya di sekolah. Untuk itu, donasi ponsel bekas akan terus dibuka hingga semakin banyak masyarakat yang menerima manfaatnya.

Berita terkait: