Fokus Pasar: Rupiah Terdepresiasi Seiring Penurunan Cadangan Devisa

— Rilis cadangan devisa bulan Maret yang lebih rendah dari perkiraan memberikan dampak pada fluktuasi IHSG di hari Rabu. Cadangan devisa Maret tercatat sebesar US$ 137,1 miliar atau turun 1,2% dari periode Februari yang sebesar US$ 138 miliar.

Riset harian Pilarmas Sekuritas, Kamis (8/4/2021), menyebutkan, penurunan posisi cadangan devisa tersebut dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah yang telah jatuh tempo pembayarannya. Penurunan cadangan devisa tersebut juga sejalan dengan keluarnya arus modal asing sepanjang bulan Maret 2021 di mana spread antara obligasi pemerintah Amerika dan Surat Berharga Negara (SBN) yang mengecil.

“Hal tersebut berdampak pada depresiasi rupiah sepanjang bulan Maret sebesar 1,54% dari Rp 14.225 menjadi Rp 14.443,” jelas Pilarmas Sekuritas.

BACA JUGA

Maret, Cadangan Devisa Turun Jadi US$ 137,1 Miliar

Pada bulan Maret Rupiah menyentuh level tertingginya di Rp 14.567, di mana depresiasi tersebut juga ikut memberikan antisipasi pada pelaku usaha khususnya importir. Kenaikan biaya produksi yang berasal dari depresiasi rupiah dinilai menjadi kekhawatiran terhadap naiknya biaya tetap.

Ke depan, cadangan devisa berpotensi masih turun di mana minat investasi para investor asing di negara berkembang sejalan dengan ekspektasi pemulihan ekonomi di Amerika yang lebih cepat, sehingga investasi di negara berkembang mungkin akan kurang mendapatkan perhatian.

“Namun akan cukup menarik untuk ditunggu apabila Biden nanti akan benar-benar menaikkan pajak untuk perusahaan di Amerika, yang di mana tentu saja hal tersebut akan mendorong kenaikkan tingkat probabilitas adanya capital inflow dari luar,” jelas Pilarmas Sekuritas.

Berita terkait: