Facebook Anggap Dokumenter ‘The Social Dilemma’ Menyimpang

beberapa waktu lalu, aplikasi streamng Netflix merilis sebuah dokumenter baru tentang media sosial, berjudul ‘The Social Dilemma’. Dokumenter ini mengungkap algoritma media sosial yang membentuk perilaku bersosial media pengguna.

Terbaru, jejaring sosial terbesar di dunia, Facebook , memberikan tanggapan negatif atas film dokumenter besutan Jeff Orlowski itu.

Dalam tanggapannya, Facebook mengatakan film tersebut secara tidak adil telah menuding Facebook sebagai biang kerok atas masalah-masalah yang sebelumnya sudah ada di masyarakat. Bahkan Facebook beranggapan film itu bergantung pada berbagai sensasi untuk membuktikan argumennya.

“Alih-alih menawarkan pandangan yang berbeda pada teknologi, film ini memberikan pandangan menyimpang tentang bagaimana platform media sosial bekerja untuk menciptakan kambing hitam atas masalah masyarakat yang sulit dan kompleks,” demikian respons Facebook, seperti tertulis di lamannya yang dimuat Tekno Liputan6.com.

Facebook lebih lanjut mengatakan, pembuat film tidak memasukkan wawasan dari mereka yang saat ini masih bekerja atau pakar yang memiliki pandangan berbeda atas narasi yang dikemukakan.

“Mereka (pembuat film) juga tidak mengakui secara kritis upaya yang diambil perusahaan untuk mengatasi berbagai masalah yang mereka angkat. Sebaliknya, mereka mengandalkan komentar dari orang-orang yang tidak berada di dalam (perusahaan) selama bertahun-tahun,” tulis Facebook.

Facebook menyajikan bantahan atas film ‘The Social Dilemma’ dalam dua lembar pdf. Ada tujuh butir hal yang disoroti Facebook sebagai respons atas film dokumenter itu.

7 Bantahan Facebook

Pertama, Facebook menekankan bahwa perusahaan membangun produknya untuk membuat nilai, bukan dengan tujuan membuat pengguna ketagihan.

Hal ini ditekankan dengan perubahan algoritma News Feed, menampilkan hal yang lebih berarti bagi interaksi pengguna. Menurut Facebook, perubahan ini berhasil mengurangi waktu aktif pengguna di platform hingga 50 jam.

Bantahan kedua adalah, Facebook berdalih pengguna bukanlah produk. “Facebook merupakan platform yang didukung iklan, artinya menjual iklan membuat kami menawarkan kemampuan untuk terhubung secara gratis,” kata Facebook.

Pada film ‘The Social Dilemma’, memang secara eksplisit disebutkan bahwa pengguna menjadi produk yang dijual kepada pihak pengiklan agar perusahaan mendapatkan keuntungan.

Ketiga, Facebook mengklaim bahwa algoritma Facebook tidaklah gila. Menurut Facebook justru algoritma mereka membuat platform tetap relevan.

“Algoritma dan machine learning meningkatkan layanan kami, misalnya kami memperlihatkan ke pengguna apa yang relevan bagi mereka,” kata Facebook.

Keempat, perusahaan juga menyebut Facebook telah meningkatkan keamanan atas privasi pengguna.

“Terlepas apa yang disebutkan dalam film, kami memiliki kebijakan yang melarang bisnis mengirimi data sensitif tentang orang-orang, termasuk kesehatan pengguna, informasi atau nomor jaminan sosial melalui SDK. Kami tidak menginginkan data ini. Kami mengambil langkah-langkah untuk mencegah data sensitif dipakai,” kata Facebook.

Kelima, Facebook menyebut pihaknya mengambil langkah untuk mengurangi konten yang bisa mengarah pada polarisasi (dan perpecahan).

“Kami mengurangi jumlah konten di platform kami yang bisa mengarah pada polarisasi. Misalnya tautan headline yang clickbait atau disinformasi,” kata Facebook.

Keenam adalah klarifikasi atas netralitas pemilu. Facebook menolak disebut sebagai platform yang turut mempengaruhi pemilu. Perusahaan mengklaim pihaknya berinvestasi untuk melindungi integritas pemilu.

Facebook mengakui pihaknya membuat kesalahan pada 2016. Untuk itu, Facebook menyebut, pihaknya membuat pertahanan yang kuat guna menghentikan penggunaan platform untuk mengintervensi pemilu.

Salah satunya dengan bekerja sama dengan lebih dari 100 jaringan untuk menentukan interaksi yang tidak autentik di platformnya. Facebook juga menciptakan Ad Library berisi keterangan mengenai iklan di Facebook bisa dilihat semua orang.

Ketujuh, tentang disinformasi, Facebook mengatakan, pihaknya berupaya memerangi kabar palsu, disinformasi, dan konten berbahaya dengan bantuan jaringan cek fakta global.

Sumber: Liputan6.com
Reporter: Agustin Setyo Wardani

Baca juga:
Didatangi Ade Londok Minta Maaf, Sikap Pria Bonceng Anak yang Dicibir Tuai Pujian
Mantan Pacar Foto Prewed di Tempat Kerjanya, Pria Ini Menangis Sesenggukan
Bikin Miris, Anak-anak Ini Lebih Kenal para Influencer daripada Tokoh Nasional
Dirjen APTIKA: Pasal 27 Ayat 3 UU ITE Itu Permasalahan Antar Masyarakat
Medsos Punya Sejumlah Kelebihan untuk Bertukar Informasi, Ini Kata Diskominfo Jatim
Facebook Kenalkan Fitur Klaim Foto, Ancam Kreator Meme?

Berita terkait: