Dosen UGM Temukan Radiografi Digital Pendeteksi Covid-19

Dosen Prodi Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UGM Dr Gede Bayu Suparta telah berhasil mengembangkan radiografi digital dengan tingkat akurasi yang tinggi dalam mendeteksi struktur tubuh pasien, termasuk paru-paru.

Bayu menuturkan penelitiaan riset radiografi digital sudah dilakukannya sejak 30 tahun lalu. Bahkan, sudah diluncurkan pada 15 tahun lalu dan dedikasikan sebagai produk unggulan UGM.

Namun, hingga sekarang belum masuk program dihilirisasi, hingga akhirnya diluncurkan oleh Presiden Joko Widodo bersama dengan puluhan produk inovasi lainnya yang digunakan untuk membantu penanggulangan wabah Covid-19 pada 20 Mei lalu di Istana Negara.

“Ketika diluncurkan, saya pikir ini tidak main-main. Saya bersama tim bekerja keras menyempurnakan alat ini,” katanya.

Hingga saat ini, kata Bayu, sudah ada tiga alat radiografi digital buatannya yang sudah diproduksi untuk keperluan mendapatkan izin produksi, izin edar dan uji coba ke pengguna.

“Merk –nya Madeena atau Made in Ina (Indonesia), alat ini sudah dipakai di rumah sakit Tabanan Bali. Selanjutnya dua alat yang lain digunakan sebagai syarat tahapan proses mendapatkan izin produksi massal,”ucapnya.

Bayu pun menyebutkan soal hilirisasi dan komersial sepenuhnya diserahkan ke pemerintah dan stakeholder bidang kesehatan. “Kita sudah mengajukan izin produksi dan izin edar. Apalagi, Presiden sudah meminta untuk produk inovasi monitoring covid dipermudah izinnya,” katanya.

Soal kemampuan deteksi virus Covid-19, Bayu berkeyakinan alat buatannya sangat mampu menentukan dan mengidentifikasi prognosis pasien yang Covid. Bahkan, dalam operasional alat tersebut menurutnya sangat adaptif dengan teknologi 4.0 dan sangat aman bagi pasien dan tenaga medis.

”Sangat aman bagi pasien karena dosis radiasi dibuat serendah mungkin. Alat ini dikontrol dengan komputer, lalu sinar X memancarkan ke tubuh pasien, terusan radiasi ditangkap detektor dan dihubungkan ke layar monitor, lalu diolah radiografer diberikan ke tenaga fisika medik. Setelah itu, akan transfer ke dokter secara digital sesuai permintaan,” katanya.

Jika tingkat akurasi rapid test 30 persen dan PCR 75 persen. Bayu mengklaim, teknologi radiografi digital lebih akurat.

“Alat radiografi digital bisa membuktikan tekena virus atau tidak jika dilihat dari struktur paru-parunya. Bila terkena virus corona maka paru-parunya menjadi rusak. Intinya lewat radiografi, signifikansinya sampai 95 persen,” katanya.

ini mengatakan meski teknologi bisa mendeteksi tingkat akurasi Covid-19 , namun tidak semua rumah sakit memiliki teknologi ini.

Menurutnya, dari 3000-an rumah sakit di Indonesia hanya rumah sakit tipe A yang mendapat bantuan alat ini dari pemerintah. “Hanya rumah sakit tipe A diberi alat radiografi digital. Sedangkan yang lain tidak ada. Bisa diprediksi alat radiografi digital sangat sedikit sehingga menjaadi motivasi besar saya sejak lama melakukan riset alat radiografi digital dengan harga bisa dijangkau,” katanya.

Mimpinya, radiografi digital ciptaan anak bangsa ini bisa terbagikan ke 9.000 Puskesmas di Indonesia, karena harganya terjangkau.

Salah satu keunggulan alat radiografi digital ini, menurut Bayu, bisa terhubung dengan big data. Sepanjang rumah sakit atau puskesmas memiliki akses internet maka ia bisa mengecek data hasil radiografi pasien dari jarak jauh bila terhubung dengan sistem kesehatan di setiap pusat layanan kesehatan.

Gede Bayu Suparta pun sempat meraih penghargaan sebagai inovator teknologi dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), berkat ketekunan dan dedikasi mengembangkan radiografi digital sejak tahun 1991. Pemberian penghargaan telah diberikan oleh Menristekdikti, Mohammad Nasir di Jakarta pada 2 Mei 2015 lalu.

Bayu Suparta telah mengembangkan radiografi digital ini sejak tahun 1991. Secara serius ia mengembangkan alat ini di tahun 2000. Selanjutnya, Bayu mendaftarkan alat tersebut untuk memperoleh hak paten tahun 2005, bahkan sertifikasi paten radiografi digital ini pun diperoleh di tahun 2009.

Tahun-tahun berikutnya Bayu juga mendapatkan berbagai dana riset dari Kemenristekdikti. Berkat konsistensinya mengembangkan penelitiannya ini Bayu juga mendapatkan penghargaan dari Businnes Innovation Center dan alatnya masuk sebagai salah satu teknologi paling prospektif.

Ia menegaskan kembali bahwa radiografi digital ini memiliki prospek cerah di masa depan. Alat ini dapat menggantikan radiografi yang selama ini masih menggunakan film. Alatnya praktis dan lebih murah dibanding produk luar.

“Tidak hanya diagnose medis, alat ini juga bisa dimanfaatkan di industri kreatif, otomotif, perminyakan hingga perkapalan,” tutur Bayu.

Berita terkait: