Dibayangi Ancaman Korupsi, Kinerja Investasi BUMN Jadi Kurang Maksimal

– Pakar Hukum Bisnis Universitas Gadjah Mada, Paripurna P. Sugarda menegaskan, investasi menjadi elemen penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, termasuk di investasi pasar modal. Namun saat ini kinerjanya belum begitu optimal lantaran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) cenderung bermain “aman” untuk mencegah dugaan korupsi.

Contohnya adalah kasus yang saat ini tengah membelit Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJS-TK) atau BP Jamsostek.

“Untuk meningkatkan atau mempertahankan pertumbuhan ekonomi, ya dengan investasi. Tapi kalau iklim investasi kita ‘diganggu’ atau bahasa Jawanya diweden-wedeni tindakan korupsi, ya sudah akhirnya main safe saja. Jadi tidak bisa maksimal, sehingga secara makro institusi bisnis kita, terutama BUMN mengalami hambatan untuk mencapai kinerja maksimal,” kata Paripurna dalam webinar “Risiko Bisnis Vs Kerugian Negara” yang digelar Beritasatu Media Holdings, Kamis (8/4/2021).

BACA JUGA

Jika Risiko Bisnis Dianggap Kerugian Negara, Investor Institusi Bisa Takut Berinvestasi

Bila langkah investasi yang dilakukan BUMN terus dibayang-bayangi kekhawatiran dugaan korupsi, Paripurna mengatakan keleluasaan mereka dalam berinovasi atau berkreativitas untuk mencapai laba yang maksimal akan sangat terganggu.

“Jadi sekarang ini di BUMN saya amati manajemen itu cenderung menjadi safety player saja. Pokoknya ikutin , laba ya nggak usah tinggi-tinggi, yang penting selamat,” kata Paripurna.

Kondisi ini menurutnya tidak bisa dibiarkan. Apalagi investor institusi khususnya BUMN masih menjadi pelaku dominan di pasar modal. Belum lagi persaingan dengan dunia global.

“Jangan lupa, kita ini menghadapi persaingan global. Jadi kalau BUMN bersaing dengan swasta sudah kerepotan, apalagi BUMN yang harus bersaing di dunia global bisnis. Kemampuan untuk mengambil keputusan terutama di area bisnis tertentu terbatasi dengan ancaman Undang-Undang Tipikor. Ini yang harus kita selesaikan,” tutur Paripurna.

Berita terkait: