Demi Kebebasan Mereka Turun ke Jalan Meski Kematian Sudah di Depan Mata

Pengunjuk rasa tumpah di jalan-jalan di Myanmar kemarin, kendati mereka tahu risikonya nyawa bisa melayang. Jumlahnya bisa sampai jutaan orang, dalam unjuk rasa terbesar sejak kudeta militer tiga pekan lalu. Alat pelindung yang mereka pakai hanya sejenis penutup kepala, jimat suci, dan kekuatan bersama.

Aparat mencoba menghentikan aksi massa terbesar pada Senin itu dengan memasang barikade dan armada kendaraan militer yang diparkir di sejumlah lokasi strategis perkotaan. Kendaraan lapis baja berpatroli, sementara para penembak jitu mengambil posisi di atap-atap bangunan.

Peringatan keras diterbitkan beberapa jam sebelumnya di televisi pemerintah, berbunyi: “Para pengunjuk rasa sekarang menghasut orang-orang, khususnya remaja dan anak muda yang emosional, menuju jalur konfrontasi di mana mereka bisa kehilangan nyawa.”

Tapi ancaman militer itu tak begitu mempengaruhi pemogokan massal hari Senin, yang berlangsung secara damai di ratusan kota dan daerah di seluruh negeri.
Barisan orang-orang meluas dan semakin besar seperti terlihat di dekat lampu merah persimpangan dan sebuah pagoda di Yangon, kota terbesar di Myanmar, dan di stasiun kereta api di Mandalay, kota terbesar kedua. Mereka berkerumun di Jalan Martir di Dawei, kota pesisir, dan dekat menara jam di Monywa dan Hpa-An, di wilayah tengah dan timur negara itu.

“Saya akan mengorbankan hidup saya demi generasi masa depan kami,” ujar Ko Bhone Nay Thit (19), seorang mahasiswa di sebuah universitas di Mandalay yang meninggalkan rumahnya pada Senin pagi diiringi doa ibunya dan ritual air suci.

“Kita harus menang,” tegasnya, dikutip dari The New York Times, Selasa (23/2).

Pada akhir pekan kemarin, terjadi insiden berdarah saat demonstrasi menentang kudeta. Pada Sabtu sore, dua demonstran tak bersenjata dibunuh pasukan keamanan di Mandalay; salah satu korban merupakan remaja 16 tahun.

Sementara pada Sabtu malam, seorang anggota pasukan penjaga malam lingkungan ditembak mati di Yangon. Sehari sebelumnya, perempuan 20 tahun yang ditembak di kepala pada 9 Februari meninggal dunia. Perempuan muda ini ditembak pasukan keamanan saat ikut berunjuk rasa di Naypyidaw, ibu kota negara. Dia diyakini menjadi demonstran pertama yang dibunuh pihak berwenang.

Mogok massal

demi kebebasan mereka turun ke jalan meski kematian sudah di depan mata

Mogok massal pada Senin diikuti oleh PNS, pegawai bank, dokter, kasir supermarket, operator telekomunikasi, dan operator pengebor minyak. Petugas pengantar pizza, karyawan KFC, dan pedagang minuman boba juga bergabung dalam gerakan ini.

Boikot nasional memperluas gerakan pembangkangan sipil yang telah melumpuhkan sistem perbankan dan mempersulit militer, yang menggulingkan kekuasaan pemerintahan terpilih pada 1 Februari, menyelesaikan berbagai urusan.

Pemogokan ini memicu boikot massal lainnya pada 8 Agustus 1988, ketika para pekerja turun ke jalan memprotes kepemimpinan militer yang telah menghancurkan ekonomi negara itu. Junta merespons dengan peluru, menjadikannya salah satu sejarah berdarah dalam ingatan bangsa Myanmar. Namun memori berdarah tersebut, bersama memori kekejaman lainnya pada 2007, tidak menyurutkan massa pada Senin.
Di Mandalay, seorang pemilik restoran, Daw Htay Shwe mengatakan dia telah menuliskan janjinya sebelum ikut demo di stasiun kereta api.

“Saya akan melindungi demokrasi negara kita dengan nyawa saya,” ujarnya.

Poster penembak jitu

Di Yangon, para pengunjuk rasa menginjak poster seorang penembak jitu yang diyakini menargetkan pengunjuk rasa di Mandalay pada Sabtu.
Sebuah kelompok yang mewakili perguruan tinggi teknik militer bergabung dengan massa pengunjuk rasa.

“Saya tak bisa hidup di bawah kediktatoran militer,” kata Daw Myint Myint, seorang ibu rumah tangga di Yangon.

“Pemimpin kami, yang kami pilih, percaya dan hormati, ditangkap. Saya di sini untuk mengungkapkan pendapat saya bahwa saya ingin mereka dibebaskan.”

Kudeta menggulingkan pemerintahan sipil partai Liga Nasional untuk Demokrasti (NLD), yang berbagi kekuasaan dengan militer selama lima tahun. Pemimpin terpilih digulingkan tentara, termasuk ketua NLD Aung San Suu Kyi, yang kini didakwa terkait kepemilikan alat komunikasi impor ilegal. Sebelum percobaan singkat dengan pemerintahan sipil-militer, militer telah berkuasa selama hampir setengah abad.

Sampai Senin pagi, lebih dari 560 orang telah ditangkap karena melawan kudeta, menurut AAPP (Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik), kelompok lokal yang menelusuri tahanan politik. Sampai Senin sore, sedikitnya 150 pengunjuk rasa ditangkap di daerah Pyinmana, tak jauh dari Naypyidaw, di mana dilaporkan juga penangkapan massal.

Dewan Administrasi Negara, pengganti pemerintah sipil terpilih Myanmar yang dibentuk militer, membatasi kebebasan sipil, memungkinkan penahanan tanpa batas dan penangkapan polisi tanpa surat perintah.

Sanksi Amerika Serikat

serikat

Pada Senin pagi waktu Myanmar, Menteri Luar Negeri AS, Antony J Blinken, mengunggah kicauan di Twitter mendukung pengunjuk rasa di Myanmar, yang sebelumnya dikenal sebagai Burma.

“AS akan terus mengambil tindakan tegas terhadap mereka yang melakukan kekerasan terhadap rakyat Birma karena mereka menuntut pemulihan pemerintah yang dipilih secara demokratis,” tulisnya.

“Kami mendukung rakyat Birma,” lanjutnya.

Pemerintah AS telah menerapkan sanksi keuangan terhadap pelaku kudeta dan jaringannya. Sanksi lain juga telah diterapkan karena persekusi terhadap etnis minoritas, termasuk Muslim Rohingnya, yang melarikan diri ke Bangladesh.

Penderitaan Rohingya dan etnis minoritas

Badan pengungsi PBB, UNHCR memperingatkan dalam sebuah pernyataan, sebuah kapal berpenumpang warga Rohingya mencoba menuju Malaysia berada dalam bahaya. Ratusan warga Rohingya meninggal di laut dalam beberapa tahun terakhir, mencoba meninggalkan Myanmar dan Bangladesh.

“Banyak yang berada dalam kondisi sangat rentan dan tampaknya mengalami dehidrasi parah,” jelas pernyataan PBB.

“Kami memahami bahwa sejumlah pengungsi telah kehilangan nyawa mereka, dan kematian meningkat selama 24 jam terakhir.”

Pemerintah sipil Aung San Suu Kyi berulang kali membela militer dalam kampanyenya melawan Rohingya, yang oleh banyak orang di Myanmar dianggap sebagai penyusup muslim di negara mayoritas Buddha itu. Pengusiran dengan kekerasan terhadap 750.000 Rohingya dari negara itu pada 2017 gagal memicu protes atau kecaman yang meluas di dalam negeri.

Tapi salah satu kelompok yang berunjuk rasa di Yangon pada Senin membawa spanduk berisi permintaan maaf terhadap Rohingya dan etnis minoritas lainnya, yang terdiri dari sepertiga populasi Myanmar.

Dalam beberapa tahun terakhir, perselisihan antara militer dan berbagai kelompok pemberontak etnis telah menyebabkan ratusan orang tewas dan puluhan ribu lainnya mengungsi. Pada Jumat, seorang warga sipil tewas di Negara Bagian Shan selama pertikaian baru.

Salah satu dari dua pengunjuk rasa yang ditembak di Mandalay pada Sabtu adalah Ko Wai Yan Tun, seorang anak laki-laki berusia 16 tahun yang merantau ke kota untuk bekerja. Untuk bertahan hidup, dia mendorong gerobak di pasar lokal, di mana para pemilik kios memanggilnya “anak kecil”.

Saat unjuk rasa meningkat di dekat pasar, Wai Yan Tun ikut bergabung. Menurut temannya, Ko Myo Zaw, dia ikut unjuk rasa demi masa depannya.

“Dia selalu mengatakan hidupnya akan sempurna jika dia memiliki ponsel dan sepeda motor,” ujar Myo Zaw.

“Dia anak yang baik.”

Baca juga:
Demo Memanas, Toko & Restoran di Myanmar Tutup karena Mogok Massal Menentang Kudeta
Demonstran Myanmar Iringi Pemakaman Perempuan yang Tewas karena Tertembak di Kepala
Buntut Tewasnya Dua Demonstran, Facebook Hapus Akun Berita Resmi Militer Myanmar
Polisi Myanmar Tangkap Artis Pendukung Oposisi Setelah Dua Demonstran Tewas Tertembak
Kapal Angkatan Laut Myanmar Tiba di Malaysia Jemput 1.200 Warga yang Dideportasi
Demonstran Myanmar yang Pekan Lalu Tertembak di Kepala Akhirnya Tewas
Lukisan, Puisi, & Lagu Jadi Senjata Baru Perlawanan Rakyat Myanmar Terhadap Militer

Berita terkait: