Cerita Pasien COVID-19 Isolasi Mandiri 25 Hari, Semua Ikut Berperan

Jakarta, – Isolasi mandiri menjadi pilihan pemerintah bagi pasien terkonfirmasi positif COVID-19, namun tidak mengalami gejala atau gejala ringan untuk masa penyembuhan.

Seperti yang dialami Citra Dahlia Buana. Perempuan 41 tahun yang bekerja dan berdomisili di Jakarta itu membagikan ceritanya menjalani isolasi mandiri selama 25 hari.

Banyak suka dukanya menjalani isolasi mandiri di rumah. Dua kali dinyatakan positif COVID-19. Bagaimana kisahnya?

1. Citra mengalami gejala ringan dan dinyatakan positif COVID-19

Cerita Pasien COVID-19 Isolasi Mandiri 25 Hari, Semua Ikut BerperanIlustrasi corona. /Mardya Shakti

Citra pertama kali didiagnosa positif COVID-19 pada 14 Agustus 2020. Selama lebih kurang dua minggu sebelum melakukan tes swab, ia merasa tubuhnya kurang prima.

Dia memutuskan melakukan tes swab dengan jasa drive thru di salah satu Rumah Sakit di Jakarta. Dia mengalami gejala sakit kepala, pilek, indra penciuman hilang, dan merasa nyeri di sekujur tubuhnya. Namun dia tidak mengalami demam dan batuk. 

“Saya sudah menduga bahwa ada kemungkinan positif sejak mulai tiba-tiba indra penciuman hilang,” kata Citra kepada , Senin , 14 September 2020.

Gejala lain yang dialami Citra sebelum melakukan swab adalah pembengkakan di bagian mata. “Kayak habis kemarin kita nangis, terus pagi-pagi mata sembab, kayak gitu,” kata dia.

“Jadi kayak bengkak itu, terus berair, gatal, terus tapi gak merah,” sambung dia, lagi.

Citra masih sempat mengobati sendiri matanya dengan obat tetes mata, yang biasa digunakannya saat matanya mengalami iritasi.

Citra kemudian melakukan tes usap. Dia memilih melakukan secara drive thru meski kantor tempatnya bekerja juga tengah menyediakan tes swab massal untuk karyawan kantornya.

Untuk tes drive thru, Citra hanya perlu mendaftar melalui WhatsApp ke nomor hotline yang disediakan rumah sakit sebelum datang ke lokasi swab. Pada pertengahan Agustus itu, juga ia tak harus mengantre panjang untuk melakukan tes swab.

Mengambil program same day dengan hasil yang bisa keluar di hari yang sama, Citra dijanjikan menerima hasil selambat-lambatnya keluar pukul 23.00 WIB. Namun, pada pukul 18.40, dia sudah mendapat informasi via email bahwa dia terkonfirmasi COVID-19.

“Yang pasti saya langsung isolasi mandiri kan. Saya langsung terpisah dari keluarga gitu. Kamar mandi terpisah,” kata Citra.

Baca Juga: Viral, Kisah Pilu Dokter Muda di Riau Meninggal Akibat COVID-19

2. Citra memutuskan melakukan isolasi mandiri

Cerita Pasien COVID-19 Isolasi Mandiri 25 Hari, Semua Ikut BerperanIlustrasi Ruang Isolasi Mandiri COVID-19 di Gresik, Jawa Timur. ANTARA FOTO/Zabur Karuru

Begitu mengetahui dirinya positif COVID-19, Citra langsung berbagi tugas dengan suami. Dia meminta suaminya mengabari ketua RT setempat.

“Karena setahu saya harus lapor ke tingkatan terbawah gitu kan,” kata dia.

Selain itu, Citra juga aktif berkomunikasi dengan kenalannya yang merupakan seorang dokter yang memahami kondisi kesehatannya.

Menjalani isolasi mandiri dan memilih tidak dirawat di rumah sakit atau Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet, atau tempat rujukan bagi pasien COVID-19 lainnya, merupakan keputusan Citra setelah berkonsultasi dengan dokternya.

“Waktu saya konsultasi dengan dokter, dia nanya gimana kondisi badan dan apakah memungkinkan untuk terpisah dari yang lain,” kata Citra, menirukan pertanyaan dokternya.

“Dan saya bilang saya sangat bisa mengusahakan isolasi mandiri. Akhirnya saya maupun keluarga komitmen penuh untuk saya tidak keluar kamar sama sekali, tidak berkontak sama sekali,” lanjut Citra.

Citra juga sempat ditawari temannya menjalani pengobatan di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet. “Saya kalau ke rumah sakit atau ke Wisma Atlet, saya malah merasa sakit beneran, secara mental. Jadinya memilih untuk isolasi di rumah,” kata dia.

Sehari berselang, suami, dan kedua anak, serta asisten rumah tangganya melakukan tes swab, namun hasilnya negatif.

Citra terakhir keluar dari rumah pada 29 Juli 2020. Setelahnya, hingga dinyatakan terkonfirmasi COVID-19, ia bahkan tak pernah keluar rumah sama sekali, kecuali menjalani tes swab.

Dua hari setelah Citra menjalani isolasi, petugas puskesmas terdekat dari tempatnya tinggal juga menghubunginya dan menanyakan kondisi kesehatannya. “Dan meng-ACC untuk isolasi mandiri,” kata dia.

3. Muncul rasa pesimis, battle dance , hingga membuat catatan harian

Cerita Pasien COVID-19 Isolasi Mandiri 25 Hari, Semua Ikut BerperanIlustrasi. Ruang isolasi RSUD Kabupaten Tangerang. ANTARA FOTO/Fauzan

Selama 25 hari menjalani isolasi mandiri, Citra tak beranjak sama sekali dari kamar seluas 3 x 3 meter. Seluruh aktivitasnya selama lebih dari tiga pekan, hanya dijalani di dalam kamar.

Di bagian pintu kamarnya, Citra memberi sekat plastik. “Supaya saya aman buka pintu, artinya ketika saya buka pintu, saya masih melihat kehidupan orang-orang rumah kan,” kata dia.

Sering kali, selepas maghrib, Citra dan putrinya melakukan battle dance yang dibatasi sekat plastik itu. “Kita muter musik, terus anaknya jauh di ujung, saya di dalam kamar, terus saya bisa melihat saya dari tempat saya. Plastik itu gunanya sih,” kenang dia.

Lanjutkan membaca artikel di bawah Editor’s picks

  • Syekh Ali Jaber Ditusuk, UU Perlindungan Tokoh Agama Belum Jelas?
  • Ini Jam Operasional KRL, MRT, LRT, dan TransJakarta saat PSBB
  • Viral Balap Lari Liar Malam Hari, Polisi Ancam Hukuman Pidananya

Persis di depan sekat plastik itu, Citra meletakkan sebuah meja yang biasanya untuk meletakkan makanan atau paket yang dikirimkan teman dan koleganya. Di bagian bawah meja disediakan plastik sebagai tempat untuk meletakkan baju kotor, agar dicuci terpisah dengan baju anggota keluarga lainnya.

Untuk mengambil makanan saja, Citra selalu mengenakan sarung tangan plastik, agar piring bisa lebih aman kondisinya saat dikembalikan keluar kamar, setelah ia selesai makan.

Namun, 25 hari menjalani isolasi, tak semua berjalan baik-baik saja. Mulai muncul rasa pesimis. Faktor penyebabnya beragam. Mulai dari rasa cemas karena gejala yang masih suka hilang-timbul selama Citra menjalani masa isolasi, hingga masa-masa transisi dari siang menuju malam yang tak jarang memantik untuk over thinking .

“Jujur aja karena banyak sekali yang support , banyak sekali yang mendukung, pertemanan dari seluruh penjuru mata angin itu tiba-tiba memberi kekuatan, gitu. Tapi di sisi lain juga banyak sekali yang kemudian menyarankan berbagai hal dari mulai yang rasional maupun yang irasional. Itu cukup mengganggu kan,” kata Citra.

“Butuh waktu untuk membiasakan dengan semuanya,” lanjut dia.

Menjalani hari-hari isolasi mandiri, Citra berusaha mencari hiburan sendiri. Mulai dari menonton film, latihan pernapasan untuk memastikan kadar oksigen di dalam tubuhnya tetap berada di takaran yang baik, memulai bekerja sebisanya, hingga berolahraga ringan seperti stretching di kamarnya.

Citra juga membantu melawan virus mematikan tersebut dengan mengonsumsi sejumlah obat dan vitamin, sesuai dengan rekomendasi dokter untuk memastikan tubuhnya tetap fit.

“Disyukuri aja kita tidak bergejala berat dan obatnya itu benar-benar makan dengan baik dan tidur dengan berkualitas sebetulnya itu aja,” kata dia.

Citra juga rajin mencatat kondisi kesehatannya setiap harinya. “Karena saya berpikir, saya harus punya catatan sendiri untuk sewaktu-waktu terjadi gejala-gejala atau hal-hal yang tidak terduga, dokter itu punya cukup bahan untuk menganalisa kondisi badan saya,” tutur dia.

Catatan Citra selama menjalani isolasi mandiri selama dua pekan, yang akhirnya dibagikan di unggahan Instagram storiesnya. Tujuannya untuk berbagi informasi mengenai apa saja yang sekiranya perlu dilakukan masyarakat saat terpapar COVID-19.

4. Suka duka menjalani isolasi mandiri melawan COVID-19

Cerita Pasien COVID-19 Isolasi Mandiri 25 Hari, Semua Ikut BerperanIlustrasi (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)

Menjalani masa isolasi mandiri selama 25 hari, Citra merasa mendapat sejumlah hal positif. Pertama, yang paling terasa adalah secara mental, dia tidak merasa seperti pasien yang berada di rumah sakit.

“Terus kemudian merasa masih bisa dekat dengan keluarga, meskipun tidak bertatap muka,” ujar Citra. “Bebas aja gitu di dalam kamar,” lanjut dia.

Citra merasa dengan menjalani isolasi mandiri, lebih bisa membuat nyaman dirinya sendiri untuk masa pemulihannya.

Sedangkan, hal negatif yang ia rasakan adalah gejala yang kerap hilang-timbul di tiap harinya. “Yang susahnya adalah kalau di rumah sakit kan kita di kontrol dokter secara rutin, nah ini kan tidak bisa,” kata dia.

Citra juga menyebutkan pentingnya menjalin relasi dan komunikasi aktif, baik dengan dokter pribadi atau mungkin kenalan yang berprofesi sebagai dokter, serta petugas puskesmas selama menjalani isolasi mandiri. Konsultasi itu dijalankan secara daring.

Menurut pengalaman Citra, puskesmas di kecamatan ternyata menyediakan dokter sebagai surveilans yang akan membantu memantau pasien yang memilih melakukan isolasi mandiri.

“Tapi jangan berharap dia setiap hari WhatsApp kita, tapi justru kita yang setiap ada keluhan harus ke dia. Makanya itu sih kalau karena di rumah kita harus mengusahakan sendiri,” ucap Citra.

“Termasuk menyediakan tensimeter, oximeter . Itu kan kalau di rumah sakit kan kita enggak harus sediakan,” lanjut dia.

5. Menjalani dua kali tes usap sebelum akhirnya dinyatakan negatif COVID-19

Cerita Pasien COVID-19 Isolasi Mandiri 25 Hari, Semua Ikut BerperanIlustrasi Tes Usap/PCR Test (/Irfan Fathurohman)

Dua pekan setelah menjalani isolasi mandiri, Citra sempat kembali melakukan swab untuk memantau kondisinya. Sayangnya, hasil tes swab masih menunjukkan positif COVID-19. Masa isolasi mandiri terpaksa diperpanjang.

Delapan hari setelahnya, Citra kembali melakukan swab, seperti arahan petugas kesehatan. Kali ini, hasil swab menunjukkan negatif COVID-19. Masa perjuangan Citra menjalani isolasi mandiri berakhir sudah.

Perihal menjalani isolasi mandiri, Citra merekomendasikan agar setiap pasien yang menjalani isolasi mandiri sebisa mungkin tidak keluar dari kamar, dan tidak berinteraksi dengan anggota keluarga di rumah. Hal ini untuk menghindari agar penyebaran virus corona dengan klaster keluarga tidak semakin besar.

6. Stigma dan pesan untuk mereka yang masih dalam proses pemulihan

Cerita Pasien COVID-19 Isolasi Mandiri 25 Hari, Semua Ikut BerperanIlustrasi rapid test COVID-19 (ANTARA FOTO/Jojon)

Citra berpesan kepada semua masyarakat bahwa perjuangan tiap pasien melawan COVID-19 tidak bisa dilakukan sendirian. Termasuk bagi mereka yang menjalani isolasi mandiri. Dibutuhkan berbagi peran masyarakat.

Jangan ada stigma pada mereka yang terkonfirmasi positif COVID-19. Selain itu, penting juga untuk menumbuhkan rasa saling empati.

Kepada masyarakat yang masih dalam proses penyembuhan dari COVID-19, baik dalam perawatan dan dalam masa isolasi mandiri, Citra punya pesan khusus.

“Tidak perlu terlalu mengkhawatirkan banyak hal yang belum terjadi. Jalani dengan baik proses penyembuhan ini dengan makan yang lebih bergizi, istirahat dan tidur yang lebih berkualitas dan siapkan support system, ” kata dia.

“Kita hidup gak sendirian, perlu untuk mencari memang dan menyiapkan support system . Entah itu dari keluarga, dari pertemanan, dari lingkungan pekerjaan dan sebagainya. Dan tidak perlu over thinking gitu. Karena over thinking kills your happiness ,” ucap Citra.

Baca Juga: Cerita 8 Hari Isolasi di Wisma Atlet

Berita terkait: