Cegah Penularan Covid-19, Dilarang Makan dan Minum Saat Rapat Kantor

Memasuki adaptasi kebiasaan baru, aktivitas perkantoran sudah dibuka kembali. Tempat kerja atau kantor merupakan salah satu tempat sumber penularan Covid-19. Oleh karena itu, protokol kesehatan pencegahan Covid-19 ketat wajib diberlakukan di kantor. Salah satunya tidak menyajikan makanan dan minuman saat menggelar rapat atau pertemuan di kantor.

Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 sekaligus Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Achmad Yurianto, mengatakan, diupayakan tidak ada makan dan minum selama rapat di kantor. Pasalnya, kata dia, ruang rapat dengan kapasitas terbatas di kantor memungkinkan untuk tidak menjaga jarak fisik.

Selain itu, ketika disediakan hidangan makan dan minuman memberikan kesempatan kepada semua yang hadir untuk membuka masker, juga berbicara satu sama lain. Di situlah risiko untuk terjadi penularan dalam ruangan sangat tinggi.

“Hilangkan kebiasaan untuk menyajikan minuman dan makanan di ruang rapat dalam bentuk apapun, sehingga semua tetap bisa gunakan masker tanpa ada kesempatan membukanya,” kata Yurianto di Graha BNPB, Jakarta, Minggu (19/7/2020).

Baca juga:  Jumlah Sembuh dari Covid-19 di Indonesia Catat Rekor 2.133

Kajian terakhir menunjukkan bahwa mikro droplet atau droplet berukuran kecil bisa berada di udara relatif lebih lama. Droplet dari orang yang sudah terinfeksi tetapi tidak menunjukkan gejala, dan kebetulan tengah berada di ruangan rapat tersebut bisa berada di udara lebih lama, dan berpotensi menularkan ke orang lain di sekitarnya.

Selain ruang yang terbatas, menurut Yurianto, sirkulasi udara di ruang rapat tentu tertutup dan menggunakan pendingin. Ini meningkatan risiko untuk tertular Covid-19 apabila di antara orang kantor tersebut ada yang sudah terinfeksi Covid-19 tetapi tidak menunjukkan gejala.

Oleh karena itu, menurut dia, rapat harus benar-benar direncanakan dengan baik, sehingga berjalan efektif dan efisien. Selain tidak menyajikan makanan dan minuman, pastikan kapasitas ruangannya memungkinkan untuk menjaga jarak tidak kurang dari satu meter.

Sedapat mungkin rapat hanya berlangsung tidak lebih dari 30 menit. Batasi lamanya rapat dengan membicarakan hal-hal pokok. Kalau topik yang akan dibicarakan banyak, maka rapat bisa digelar dalam beberapa kali.

Jika peserta rapat yang harus terlibat cukup banyak, jumlah orang yang hadir langsung dalam ruangan dibatasi sehingga memungkinkan untuk jaga jarak. Peserta lainnya boleh mengikuti rapat secara virtual.

“Selama rapat semua wajib pakai masker. Kalau pun pembicara atau pemimpin rapat harus berbicara, maka boleh melepas maskernya, tetapi tetap berada di tempatnya atau tidak bergerak mendekati peserta rapat,” kata Yurianto.

Yurianto menambahkan, tidak hanya saat rapat, sejak berangkat dari rumah sudah harus melaksanakan protokol kesehatan. Gunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan sesering mungkin.

Bagi yang menggunakan transportasi publik ke kantor, pemerintah sudah mengaturnya dalam dua gelombang masuk kantor. Gelombang pertama adalah di jam 07.00-07.30 WIB, dan gelombang kedua jam 10.00-10.300 WIB.

Pembagian ini dimaksudkan agar tidak terjadi penumpukkan di sarana transportasi umum. Selain itu, memastikan ketersediaan kapasitas sarana transportasi massal bisa memberikan ruang untuk menjaga jarak fisik.

Baca juga:  Ini Tip Aman dari Penularan Covid-19 di Pusat Kebugaran

Yurianto juga mengingatkan, sepanjang perjalanan menuju kantor dengan transpotasi umum misalnya kereta atau bus, tetap gunakan masker dan diupayakan tidak melakukan pembicaraan sama sekali. Apalagi makan dan minum.

Menurut Yurianto, kasus konfirmasi positif tanpa gejala (asimtomatik) menjadi sumber penularan. Oleh karena itu tak henti-hentinya Yurianto mengingatkan untuk menggunakan masker dan jaga jarak selama berada di transportasi umum.

Saat di kantor, perhatikan fasilitas umum yang dipakai bersama, seperti lift, tangga, dan tempat lainnya. Semua ini menjadi sumber penularan tanpa disadari.

Manakala dilakukan pertemuan secara langsung, maka pastikan orang lain di luar kantor yang diundang sedang tidak sakit. Untuk aktivitas sehari-hari, pastikan hanya orang sehat yang boleh masuk kantor, sedangkan yang kurang sehat cukup bekerja dari rumah.

Positif
Dalam kesempatan ini, Yurianto melaporkan per hari ini dilakukan pemeriksaan spesimen sebanyak 20.504, sehingga total kumulatifnya adalah 1.221.518. Dari pemeriksaan ini ditemukan kasus konfrmasi positif sebanyak 1639, sehingga totalnya menjadi 86.521 orang.

Kalau dilihat sebarannya, DKI Jakarta hari ini melaporkan penambahan kasus positif baru terbanyak yaitu 313, disusul Jawa Tengah 300, Jawa Timur 275, Sulawesi Selatan 158, Kalimantan Selatan 109, Kalimantan Tengah 75, dan Bali 55 kasus.

Sementara ada 15 provinsi yang melaporkan penambahan kasus baru di bawah 10, dan 5 provinsi sama sekali tidak ada kasus baru. Lima provinsi tersebut, Bangka Belitung, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Urata, dan Nusa Tenggara Timur.

Sementara kasus sembuh secara nasional hari ini dilaporkan bertambah 2.133, sehingga total sembuh menjadi 45.401 orang. Sedangkan kasus meninggal total sebanyak 4143 orang setelah ada penambahan hari ini 127 orang.

Jumlah kasus ini dilaporkan dari 34 provinsi dan 464 kabupaten/kota terdampak. Sementara saat ini pemerintah dan pemerintah daerah melakukan pemantauan ketat terhadap 37.505 kasus suspect , dan 20.504 kasus spesimen atau dulunya disebut pasien dalam pengawasan. 

 

Berita terkait: