Bunuh Diri Bukan Solusi

Bunuh diri. Kata yang terdengar mengerikan. Beragam alasan orang nekat melakukannya. Mereka merasa ini menjadi pilihan untuk menghilangkan banyak beban dan tekanan. Tapi nyatanya bunuh diri bukan solusi. Justru membuat masalah semakin bermasalah.

Di Indonesia, kasus bunuh diri menjadi salah satu sorotan penting. Diawali dari masalah kesehatan mental. Sudah banyak korban. Angkanya bahkan mengalami fluktuasi.

Benny Prawira Siauw, seorang suicidolog, menyebut Indonesia tidak bisa melihat 10 tahun ke belakang data naik atau turunnya kasus bunuh diri. Sejauh ini Indonesia tidak memiliki database untuk bunuh diri nasional, yang ada hanyalah data-data riset ilmiah dari tiap kelompok khusus seperti remaja atau mahasiswa. Sehingga tidak bisa menyimpulkan adanya peningkatan atau penurunan.

Menurut pendiri dan kepala koordinator dari komunitas Into The Light Indonesia, yang berfokus pencegahan bunuh diri, melihat bahwa kesadaran dan pembicaraan mengenai bunuh diri ini memang sudah semakin banyak diangkat. Banyak influencer media sosial juga sudah banyak mengakui status kesehatan jiwa dan upaya bunuh dirinya.

“Jika kita bicara mengenai faktor, tentunya kompleks, ada faktor biologis psikologis dan sosialnya. Tiap kelompok saja akan beda kerentanannya misalnya riset di kelompok umum, kelompok mahasiswa dan siswa saja beda-beda faktor risiko, apalagi di level individu, pastinya akan ada cerita dan dinamika sendiri sepanjang hidupnya,” katanya kepada Rabu pekan lalu.

Dia menjelaskan, saat niat bunuh diri muncul banyak faktor. Di antaranya faktornya biologis, meliputi gen, hormone, cara kerja otak, dan sebagainya. Kemudian faktor psikologis, yakni pemrosesan informasi terkait diri, bias negatif ke masa depan dan diri sendiri, kepribadian, cara atasi stress dan impulsivitas.

Faktor terakhir adalah sosial, yaitu masalah diskriminasi, harmoni sosial, konflik sosial politik, akses sosial ekonomi ke fasilitas kesehatan dan sebagainya. Semua faktor itu lalu menumpuk dan berkembang secara dinamis sepanjang masa kehidupan dimulai dari rahim hingga titik kematian.

Catatan dari Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), menyebut jumlah angka kematian akibat bunuh diri di dunia mendekati 800.000 per tahun atau hampir 1 kematian setiap 40 detik. Bahkan ketika ada satu orang meninggal karena bunuh diri diperkirakan terdapat 20 kasus percobaan bunuh diri.

Dalam kasus ini, penyebab kematian kedua pada kelompok umur 15-29 tahun, dan 79 persen terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah. Setiap kasus bunuh diri merupakan tragedi yang memengaruhi keluarga, teman, dan masyarakat serta berakibat jangka panjang bagi orang-orang yang ditinggalkan.

Tak hanya itu, data Kemenkes kembali mencatat keinginan untuk bunuh diri telah menyasar anak pada kisaran SMP sampai SMA. Hasil survei 10.837 responden, sebanyak 4,3 persen laki-laki dan 5,9 persen perempuan memiliki keinginan untuk bunuh diri.

Sebagai komunitas berfokus mencegah bunuh diri, Into The Light mengungkapkan sedikitnya ada delapan tanda peringatan seseorang ingin melakukan bunuh diri. Pertama membicarakan keinginan bunuh diri. Kedua, membenci dan menghujat diri sendiri. Ketiga, mencari cara memastikan untuk bunuh diri. Keempat, mengatur segala hal untuk ditinggalkan.

Selanjutnya kelima, seseorang kerap mengucapkan perpisahan. Kemudian keenam, mereka biasanya menarik diri dari orang lain. Ketujuh, orang tersebut kerap merusak diri sendiri, dan terakhir terjadinya perubahan fisik dan mood yang drastis.

“Semakin banyak tandanya, semakin kuat indikasi bahwa ia memiliki risiko bunuh diri,” Benny mengungkapkan.

WHO Global Health Estimates sebenarnya mengajak seluruh negara di dunia berkomitmen untuk menurunkan 10 persen angka kematian karena bunuh diri. Ini bahkan disepakati pada 2020 sebagaimana terdapat di dalam WHO Mental Health Action Plan 2013-2020.

Selain itu angka kematian karena bunuh diri merupakan salah satu indikator target 3,4 dari Sustainable Development Goals (SDGs), di mana pada tahun 2030 angka kematian karena bunuh diri harus diturunkan sepertiganya.

Bunuh diri juga merupakan penyebab dari 1,4 persen kematian seluruh dunia dan merupakan ranking ke 18 penyebab kematian terbanyak. Angka kematian akibat bunuh diri tertinggi adalah di Eropa dan Asia Tenggara, terendah di Mediterania Timur. Angka kematian lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan.

Negara dengan angka kematian akibat bunuh diri tertinggi adalah Lithuania (31,9), Russian Federation (31,0), dan Guyana (29,2), sedangkan terendah adalah Antigua and Barbuda (0,5), Barbados (0,8), dan Grenada (1,7). Jumlah kematian akibat bunuh diri banyak terjadi pada kelompok umur produktif yaitu 25-29 tahun, 20-24 tahun dan 30-34 tahun dan 79 persen terjadi di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah (low-and-middle income countries).

WHO Globall Health Estimates juga mencatat angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia tahun 2016 sebesar 3,4 orang per 100.000 penduduk. Untuk laki-laki sebanyak 4,8 persen per 100.000 penduduk. Ini lebih tinggi dibandingkan
perempuan sebesar 2,0 orang per 100.000 penduduk.

Secara umum, angka kejadian semakin tinggi pada kelompok umur yang lebih tua, kecuali kelompok umur 20-29 tahun sebesar 5,1 orang per 100.000 penduduk yang lebih tinggi dibandingkan pada kelompok umur 30-39, 40-49, dan 50-59 tahun.

Seperti dialami Ar. Pekerja berusia 30 tahun ini sempat mencoba melakukan bunuh diri. Beragam obat kimia dan tali bahkan disiapkan. Semua informasi tentang bunuh diri didapat dari situs luar negeri.

Upaya bunuh diri itu beruntung gagal. Seketika dia menangis dan menyadari bahwa tindakan dilakukannya salah besar. Bukannya menyelesaikan masalah, justru membuat semua semakin parah. Pilihan bunuh diri pun dia urungkan.

Memang selama ini Ar lebih suka memendam masalahnya. Dia tidak pernah bercerita kepada siapa pun. Termasuk sang istri. Semua dipendam hingga timbul perasaan bahwa dirinya orang paling bodoh sedunia. Ini dikarenakan tiap proyek yang tengah dikerjakan selalu gagal.

“Aku ini sudah sakit banget. Aku ingin hilangin rasa sakitnya itu,” kata Ar menceritakan pengalaman buruknya kepada

Sebenarnya orang yang pernah mencoba bunuh diri berisiko lebih tinggi untuk memiliki pemikiran bunuh diri. Terlebih apabila dia mengalami kembali peristiwa yang memicu pemikiran bunuh diri sebelumnya.

Menurut Benny, para penyintas ini sangat membutuhkan dukungan dari orang sekitarnya untuk menuju proses pemulihan yang maksimum. “Tunjukkan bahwa kamu khawatir dan peduli dengan kondisi mereka, dan ajaklah mereka untuk membicarakan dengan baik-baik,” sarannya.

Kata Benny, berdasarkan data alat swaperiksa yang disediakan di website PDSKJI, sebanyak 68 persen dari 5.661 orang dari 31 provinsi yang melakukan swaperiksa kondisi kesehatan jiwa ditemukan memiliki masalah psikologis. Sebanyak 48 persen di antaranya berpikir lebih baik mati atau ingin melukai diri sendiri.

Sementara itu, data WHO Global Health Estimates mencatat angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia tahun 2016 sebesar 3,4 orang per 100.000 penduduk. Untuk laki-laki sebanyak 4,8 persen per 100.000 penduduk. Ini lebih tinggi dibandingkan perempuan sebesar 2,0 orang per 100.000 penduduk.

Secara umum, angka kejadian semakin tinggi pada kelompok umur yang lebih tua, kecuali kelompok umur 20-29 tahun sebesar 5,1 orang per 100.000 penduduk yang lebih tinggi dibandingkan pada kelompok umur 30-39, 40-49, dan 50-59 tahun.

Berita terkait: