Buntut Pengesahan RAPBN Bermasalah, Pengunjuk Rasa Bakar Kantor Kongres Guatemala

Para pengunjuk rasa membakar gedung Kongres Republik Guatemala pada Sabtu, setelah pengesahan RAPBN kontroversial yang menimbulkan serangkaian krisis panjang, memicu unjuk rasa anti pemerintah.

Ratusan ribu orang turun ke alun-alun kota di seluruh negeri dengan sejumlah tuntutan mulai dari veto RAPBN oleh presiden, penuntutan kasus korupsi sampai pengunduran diri pejabat seluruh cabang pemerintahan dan anggota majelis konsititusional atau Kongres.

“Kami lelah dengan korupsi,” kata Karla Figueroa (51), seorang penerjemah kepada Aljazeera saat berunjuk rasa di plaza kota Guatemala, sembari membawa plakat yang menyerukan pengunduran diri 125 dari 160 anggota legislatif negara tersebut.

“Tak penting pemerintah yang mana, mereka semua sama saja,” lanjutnya, dikutip dari Aljazeera, Minggu (22/11).

Berjarak sekitar empat blok, para mahasiswa sebuah universitas yang berjalan menuju plaza di pusat kota berhenti dan menaruh alat pemenggal kepala di luar gedung Kongres.

Beberapa polisi dengan seragam berdiri dan memantau sejumlah anak muda memanjat bangunan Kongres, menendang jendela, dan melemparkan alat pembakar.

Api dan asap melambung ke luar jendela selama beberapa menit para pengunjuk rasa merusak foto para politikus. Polisi anti huru hara tiba, menembakkan gas air mata, dan kemudian muncul pemadam kebakaran untuk memadamkan api di sebagian gedung kongres.

Kenaikan Tunjangan Anggota Legislatif

Kongres Guatemala mengesahkan RAPBN pada Selama malam, di mana anggaran tersebut menaikkan tunjangan makan dan biaya lainnya para anggota parlemen dan memangkas anggaran untuk program HAM dan pengadilan.

Parlemen juga memangkas anggaran USD 25 juta untuk memerangi gizi buruk, memicu kemarahan di seluruh negeri. Guatemala salah satu negara dengan angka gizi buruk tertinggi dunia.

Saat Kongres mengesahkan APBN tersebut, hujan Badai Tropis melanda wilayah tersebut yang masih belum pulih setelah dihantam Topan Eta awal bulan ini. Ribuan orang masih berada di pengungsian dan beberapa orang dikonfirmasi terinfeksi Covid-19.

Seruan unjuk rasa meluas, termasuk meluasnya tuntutan agar Presiden Alejandro Giammattei memveto RPABN tersebut. Namun Presiden Giammattei menolak tuntutan tersebut, dan Wakil Presiden Guillermo Castillo menyampaikan pada Jumat, dia telah meminta agar Giammattei bersama-sama dengan dirinya mengundurkan diri demi kebaikan negara.

Sebelum unjuk rasa mulai pada Sabtu, Giammattei mengatakan akan bertemu dengan sejumlah pihak dan mengusulkan reformasi anggaran dalam beberapa hari ke depan. Tapi hal ini tak menghentikan unjuk rasa.

Salah seorang pengunjuk rasa, Flori Salguero (48) mengatakan ingin Giammattei dan para legislator yang meloloskan RAPBN tersebut mengundurkan diri.

“Kami lelah dengan begitu banyak pencurian. Saya tidak ingin anak cucu saya tinggal di negara penuh hutang ini,” ujarnya.

Berita terkait: