BPBD DIY Siapkan Skema Mitigasi Merapi

Menyikapi kondisi Gunung Merapi, Tim Respons Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DI Yogyakarta, telah mempersiapkan rencana kontigensi terkait evakuasi warga, bersamaan dengan kesiap-siagaan pada pandemi Covid-19.

Kepala Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD DIY, Danang Samsurizal mengatakan, upaya kontigensi berupa kesiapan mitigasi dan aturan juga telah disiapkan.

Khususnya bagaimana menentukan lokasi pengungsian dan penerapan protokol kesehatan dalam pencegah penularan Covid-19.

Dikatakan, BPBD DIY menyiapkan langkah berupa pengurangan kapasitas isi dari tenda barak, misalnya kapasitas 50 orang, hanya diisi maksimal 20 orang, termasuk barak pengungsian permanen yang dimiliki Pemkab Sleman.

Selain itu, ia juga meminta kepada pemerintah desa apabila level status Merapi meningkat menjadi awas, para lansia, difabel, serta ibu hamil yang berada di desa tersebut wajib menjadi fokus evakuasi.

“Tahun 2018 terdata lebih dari 200 lansia yang membutuhkan penanganan khusus, namun saat ini, sedang didata lagi,” ujarnya.

Selain itu, kondisi jalur utama evakuasi juga mengalami kerusakan, namun harus didiskusikan dengan Pemerintah Jateng, sebab beberapa ruas jalan, masuk ke wilayah Jateng, sehingga penanganannya harus melibatkan lintas sektoral.

Tim Respons Cepat (TRC) BPBD DIY dan Kabupaten Sleman sudah meninjau dan menentukan titik-titik kerusakan dan salah satu penyebabnya adalah intensitas kendaraan penambang pasir di Kali Gendol yang tinggi.

Terpisah, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta melaporkan terjadinya guguran Gunung Merapi pada Rabu (15/7/2020) malam, pukul 18.29 WIB dan 19.13 WIB.

Guguran yang disertai dentuman suara, terdengar cukup keras hingga Pos Babadan pada pukul 18.29 WIB dengan durasi 86 detik dan pukul 19.13 WIB dengan durasi 87 detik.

Kepala BPPTKG Yogyakarta, Hanik Humaida, menjelaskan lokasi pasti terjadinya guguran belum terlihat karena kendala cuaca. Secara visual guguran tidak terlihat sama sekali dari setiap pos pemantauan Gunung Merapi.

Sementara itu, dalam laporan aktivitas Gunung Merapi periode pengamatan Kamis (16/7-2020) sejak pukul 06:00-12:00 WIB, puncak Merapi teramati jelas dengan hembusan asap kawah berwarna putih dengan intensitas tebal dan tinggi 150 m di atas puncak kawah.

Angin bertiup lemah ke arah timur laut. Suhu udara 20-25 °C, kelembaban udara 53-80 %, dan tekanan udara 626,65-687,6 mmHg.

Terekam gempa fase banyak (hibrid) dua kali, dengan amplitudo : 2-3 mm, S-P : 0,3-0,4 detik, dengan durasi : 7,76-7,94 detik, gempa tektonik jauh, satu kali.

Pada periode pengamatan, Kamis pukul 00.00-06.00 WIB tidak terjadi aktivitas kegempaan. Hingga saat ini tingkat aktivitas Gunung Merapi Level II (waspada), dengan potensi bahaya ini berupa luncuran awan panas dari runtuhnya kubah lava dan jatuhan material vulkanik dari letusan eksplosif.