Bos OJK Beberkan PR Besar Indonesia untuk Jadi Pusat Keuangan Syariah Dunia

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso menyebut bahwa Indonesia berpotensi jadi pusat keuangan atau ekonomi syariah dunia. Beberapa modal sudah dimiliki, seperti populasi masyarakat muslim terbesar dunia, hingga produk-produk berbasis syariah yang kini marak bertebaran.

Namun, Wimboh menyatakan, cita-cita tersebut bisa terwujud jika ada beberapa hal. Pertama, bagaimana pelaku ekonomi di Tanah Air bisa menciptakan ekosistem syariah yang lengkap.

“Jadi kita selama ini memulai di sektor keuangan. Tapi sektor keuangan tidak cukup sehingga harus ada bagaimana ekosistem lain. Bagaimana nasabahnya dari segi demand. Bagaimana aktivitas ekonominya, supporting informasi, lembaga pendukung lain,” paparnya dalam sesi webinar, Kamis (17/9).

Menurut dia, Indonesia sebenarnya telah punya ekosistem syariah cukup lengkap, namun harus lebih diberdayakan. Seperti masjid, pesantren, lembaga keuangan, amil zakat, hingga market place syariah.

“Sehingga saya sebagai ketua MES (Masyarakat Ekonomi Syariah) mempunyai tanggung jawab moral bagaimana ini terhubung dengan baik, sehingga jadi ekosistem kuat untuk mendukung optimalisasi hadirnya keuangan syariah. Selama ini hanya bolak-balik lembaga yang diutek-utek, bolak-balik SDM di bank syariah, non-bank syariah, pasar modal syariah. Bolak-balik produknya, tapi sebenarnya ekosistemnya tidak pernah kita sentuh,” imbuhnya.

Hal Lain yang Disoroti

yang disoroti

Selain itu, hal lainnya yang dia soroti yakni ketiadaan sistem kredit dalam bisnis asuransi syariah. Wimboh mengatakan, bisnis syariah sulit bergerak jika tak didukung oleh sistem kredit.

Selanjutnya, Wimboh menyatakan industri keuangan syariah di Tanah Air masih minim permintaan (demand). Padahal, Indonesia saat ini memiliki 14 bank umum syariah, 20 unit usaha syariah, hingga 162 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) syariah.

“Sebenarnya dari jumlah ada, tapi ini dari segi demand sehingga pertumbuhannya tidak cepat apalagi dibandingkan konvensional. Apalagi di sektor pasar modal. Dari jumlah banyak, tapi size kecil,” ungkapnya.

“Ini tantangan kita. Hanya bisa kalau demandnya besar, kita create, dan ini potensinya besar. Banyak masyarakat di daerah yang bisa di-engage untuk jadi potential demand. Yang tadinya unbankable jadi bankable. Dan mereka kami yakin adalah orang-orang yang sangat syariah dan patuh,” tandas Wimboh.

Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana

Sumber: Liputan6.com

[idr]

Baca Selanjutnya: Hal Lain yang Disoroti…

Halaman

  • 1
  • 2