BNPT Waspadai Kelompok Radikal di Sekolah Kedinasan

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme ( BNPT ) mensinyalir, saat ini kelompok radikal sudah memasuki banyak ranah pendidikan. Mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Bahkan, saat ini kelompok radikal sudah memasuki ranah pendidikan kedinasan di seluruh Indonesia.

“Di sekolah kedinasan juga dimasuki kelompok-kelompok (radikal) itu. Mereka sudah bermain disitu,” kata Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme ( BNPT ) Brigjen Pol Hamli, dalam diskusi International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) “Pemetaan Program Pencegahan Ekstremisme-Kekerasan oleh Pemerintah dan Lembaga Non-Pemerintah di Indonesia (2014-2019)” di Jakarta, Senin (20/7/2020).

Kepala BNPT: Penanggulangan Terorisme Tak Bisa Dibebankan pada 1 Instansi

Dalam penelusuran yang dilakukan BNPT, selain sekolah kedinasan, kelompok radikal juga terus berupaya menguasai sekolah-sekolah menengah atas unggulan di seluruh Indonesia.

“Pendidikan, baik itu di Perguruan Tinggi, SMA, atau sampai Paud. Mereka memulainya dari tempat-tempat dasar. Kita melihat SMA-SMA unggulan juga menjadi sasaran tembak mencari orang,” ungkapnya.

Cegah Propaganda Terorisme, BNPT Akan Buat Satgas Ulama

Khusus untuk sekolah kedinasan, Hamli menuturkan, hanya ada beberapa sekolah kedinasan yang sampai saat ini belum berhasil dimasuki. Yakni sekolah kedinasan Akademi Kepolisian (Akpol) dan sekolah kedinasan Akademi Militer (Akmil).

Menurutnya, para kelompok radikal sengaja menargetkan melakukan penyebaran pahamnya di sekolah kedinasan agar bisa langsung berlanjut ke sendi-sendi pemerintahan seperti kementerian ataupun lembaga.

BNPT: Sinergi TNI-Polri Diperlukan dalam Penanggulangan Terorisme

“Mereka lakukan seperti itu karena di sekolah kedinasan langsung masuk menjadi pegawai dan bekerja. Di kementerian lembaga yang sumbernya dari sekolah kedinasan, isinya seperti itu. Kita juga berusaha masuk ke situ,” ujarnya.

Di samping berupaya menguasai sekolah kedinasan, kelompok radikal juga dalam beberapa tahun belakangan juga terus berupaya menguasai ruang di media sosial. Kondisi inilah yang juga patut menjadi perhatian bersama.

“Di medsos, yang menguasai juga kelompok-kelompok ini. Meskipun tiga tahun ini kita bisa mengimbangi, tetapi tidak leading ,” ucap Hamli.

Berita terkait: