BMKG: 30 Provinsi Berpotensi Dilanda Cuaca Ekstrem Pekan Ini

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan cuaca ekstrem yang ditandai hujan dengan intensitas lebat akan melanda 30 provinsi di Indonesia pekan ini (21-27 November 2020).

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto mengatakan, saat ini terpantau sirkulasi siklonik di Samudera Hindia barat Bengkulu dan di Laut Jawa selatan Kalimantan yang membentuk daerah pertemuan atau perlambatan kecepatan angin (konvergensi).

Pelambatan kecepatan angin ini memanjang di perairan utara Aceh, mulai dari Sumatera Utara hingga perairan barat Bengkulu. Kemudian di Selat Karimata bagian utara, Papua bagian barat hingga Maluku bagian selatan, serta dari Kalimantan Tengah hingga Selat Karimata bagian selatan.

BACA JUGA

Tak Butuh Suhu Ekstrem, Vaksin Moderna Jadi Solusi Negara-negara Miskin

Lebih lanjut Guswanto mengatakan, kondisi tersebut dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi tersebut.

“Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa kondisi dinamika atmosfer yang tidak stabil dalam sepekan ke depan dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia,” kata Guswanto melalui keterangan di Jakarta, Minggu (22/11/2020).

Adanya pelambatan kecepatan angin juga diperkuat oleh aktifnya fenomena madden julian oscillation (MJO) dan gelombang rossby ekuatorial di wilayah Indonesia dalam periode sepekan ke depan.

Berdasarkan kondisi tersebut, BMKG memprakirakan dalam periode sepekan ke depan potensi cuaca ekstrem dan hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat, petir dan angin kencang akan terjadibdi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan dan Lampung.

Hujan intensitas lebat juga akan terjadi di Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Gorontalo.

Selain itu cuaca ekstrem juga berpotensi terjadi di Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua Barat dan Papua.

“Masyarakat diimbau tetap waspada dan berhati-hati terhadap potensi cuaca ekstrem,” imbuhnya.

Potensi cuaca ekstrem antara lain puting beliung, hujan lebat disertai kilat petir, hujan es, dan dampak yang dapat ditimbulkannya seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga meminta masyarakat untuk mewaspadai bencana hidrometeorologi dampak cuaca ekstrem.

“Kita mengenal jargon kenali bahaya, kurangi risiko, sehingga masyarakat diharapkan dapat mengantisipasi dan meminimalkan dampak bencana,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati.

Menyikapi potensi bahaya lanjutnya, masyarakat dapat memanfaatkan informasi cuaca, salah satunya aplikasi teknologi berbasis telepon pintar Info BMKG untuk mengakses informasi cuaca hingga tingkat kecamatan.

BACA JUGA

BMKG: Hujan Ekstrem Berpotensi Terjadi di Jawa Tengah Bagian Selatan

“Melalui aplikasi yang disediakan oleh BMKG warga dapat mempersiapkan diri dan keluarga dalam menghadapi cuaca,” ucapnya.

Terkait bencana banjir sejumlah daerah telah dilanda banjir yakni Cilacap Jawa Tengah, Kabupaten Aceh Singkil dan Kabupaten Padang Pariaman.

Untuk banjir Cilacap, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BNPB) setempat mencatat enam kecamatan terdampak, yakni Kecamatan Kroya, Sampang, Sidereja, Bantarsari, Kedungreja dan Cipari. Sebanyak 2.187 kepala keluarga(5.677 jiwa) mengungsi.

BPBD menginformasikan warga yang meninggal dunia 2 orang, sedangkan kerugian materiil mencakup sektor pemukiman, 4 unit rumah roboh, 12 rusak berat, 5 rusak sedang. dan 44 rusak ringan. Banjir juga menyebabkan 24 unit tanggul jebol.

Banjir masih menggenangi beberapa wilayah dengan tinggi muka air hingga 60 cm. Saat ini, kebutuhan mendesak berupa logistik permakanan dan non-permakananan serta masker.

Sedangkan banjir di Kabupaten Aceh Singkil, Provinis Aceh, menyebabkan ratusan keluarga terdampak. Hingga Sabtu (21/11/2020) dua kecamatan, yakni Simpang Kanan dan Gunung Meriah terdampak dengan total jumlah desa mencapai 10 desa.

Banjir ini dipicu hujan intensitas tinggi dan meluapnya Sungai Lae Cinendang pada Jumat pukul 22.00 WIB.

Banjir masih mengenangi wilayah di Kecamatan Simpang Kanan, Desa Ujung Limus, Silatong, Tanjung Mas, Lae Riman, Cibubukan dan Serasah. Sedangkan di Kecamatan Gunung Meriah antara lain Desa Rimo, Cingkam, Penjahitan dan Tanah Merah.

BPBD masih terus melakukan pendataan untuk korban terdampak maupun kerusakan di dua kecamatan tadi.

Sementara itu, masih di kawasan Sumatera, banjir melanda Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat. Saat kejadian, tinggi muka air antara 100-150 cm. Namun, genangan telah surut dan warga yang mengungsi telah kembali ke rumahnya masing-masing. Banjir ini menggenangi 25 hektare sawah di Kabupaten Padang dan 10 hektare ladang tergenang.

Berdasarkan data BNPB sejak 1 Januari hingga 22 November sudah terjadi 2.599 kejadian bencana. Dari total kejadian bencana tersebut, banjir mencapai 921 kejadian, puting beliung 776 dan tanah longsor 498 kejadian.

BACA JUGA

Curah Hujan Ekstrem di Puncak, Penyebab Katulampa Siaga I

Berita terkait: