Bitcoin Anjlok 11%, Itu Sudah Biasa

Harga bitcoin kembali anjlok 11% ke kisaran US$ 48.000 setelah Menteri Keuangan AS Janet Yellen memperingatkan investor akan bahaya bitcoin, Selasa waktu setempat (23/2/2021). CEO Tesla Elon Musk yang juga salah satu investor bitcoin besar menyebut mata uang digital itu sudah terlalu mahal.

Pergerakan bitcoin berfluktuasi di kisaran US$ 45.000-US$ 48.000. Cryptocurrency lainnya juga tertekan, seperti Ether yang turun 11% ke US$ 1.573 dan XRP turun 17% ke 47 sen.

Bagi bitcoin, volatilitas seperti ini sudah biasa. Bitcoin menguat 360% dalam setahun terakhir, atau 60% sejak awal tahun. Bitcoin juga pernah anjlok 80% dalam setahun.

Yellen memperingatkan investor akan ketidakstabilan dan legitimasi bitcoin yang masih diragukan.

“Menurut saya, bitcoin tidak digunakan sebagai mekanisme transaksi yang luas. Saya khawatir kalau bitcoin lebih sering digunakan untuk mendanai transaksi ilegal. Bitcoin juga sangat tidak efisien sebagai alat transaksi, belum lagi jumlah energi yang digunakan untuk memproses transaksi tersebut,” kata Yellen kepada CNBC .

BACA JUGA

Menkeu AS Peringatkan Investor akan Bahaya Bitcoin

Proses menambang bitcoin yang dilakukan para miners di seluruh dunia menggunakan jaringan komputer dan menghabiskan energi yang sangat besar, setara dengan emisi karbon Selandia Baru, atau lebih besar dari konsumsi listrik Pakistan.

Elon Musk pada 8 Februari mengumumkan perusahaannya telah membeli bitcoin senilai US$ 1,5 miliar dan akan mulai menerima pembayaran dalam bentuk bitcoin. Hal ini mendorong bitcoin melesat dan meningkatkan eksposur Tesla akan volatilitas bitcoin. Pada perdagangan saham Selasa, Tesla sempat anjlok 13% sebelum memangkas sebagian koreksi dan akhirnya ditutup melemah 2,2%.

Pada 20 Februari lalu, Musk mengatakan lewat Twitternya bahwa harga bitcoin dan ethereum tampaknya sudah mahal. Pernyataan ini menimbulkan sentimen negatif terhadap bitcoin, dan secara tidak langsung terhadap pergerakan saham Tesla.

An email saying you have gold is not the same as having gold. You might as well have crypto.

Money is just data that allows us to avoid the inconvenience of barter.

That data, like all data, is subject to latency & error. The system will evolve to that which minimizes both.

— Elon Musk (@elonmusk) February 20, 2021

Harga bitcoin sempat menembus kisaran US$55.000 pada Jumat (19/2/2021) sehingga mengukir rekor kapitalisasi pasar US$ 1 triliun atau setara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Bitcoin sering dibanding-bandingkan dengan emas karena persediannya yang terbatas. Produksi atau penambangan bitcoin mentok di 21 juta unit, sedangkan saat ini yang sudah ditambang sekitar 18,5 juta unit.

BACA JUGA

JPMorgan: Bitcoin Cuma “Selingan”, Bintang Sebenarnya adalah…

Berita terkait: