Bekuk Pengedar, Polisi Sita 20.500 Butir Ekstasi dan Happy Five di Kalibata City

 

Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, membekuk seorang perempuan berinisial II lantaran menyimpan 15.000 butir ekstasi dan 5.500 butir happy five , di Unit G Tower Gaharu Apartemen Kalibata City, Rawajati Pancoran, Jakarta Selatan.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus mengatakan, pengungkapan kasus ini bermula dari informasi masyarakat terkait adanya peredaran narkotika jenis ekstasi dan happy five, di Apartemen Kalibata City. Selanjutnya, tim Subdit 2 Ditresnarkoba Polda Metro Jaya melakukan penyelidikan dan penangkapan, Senin (6/7/2020).

“Berhasil mengamankan tersangka II, dan dilakukan penggeledahan di dalam kamar atau unit tower Kalibata City, ditemukan ekstasi sebanyak 15.000 butir, kemudian happy five 5.500 butir,” ujar Yusri, Rabu (15/7/2020). 

 

Dikatakan Yusri, berdasarkan hasil pemeriksaan tersangka, puluhan ribuan narkotika yang disimpan di dalam koper itu rencananya hendak diedarkan dengan harga jual Rp 250.000 per butir ekstasi dan Rp 200.000 per butir happy five , di tempat hiburan di Jakarta. Namun karena selama pandemi tempat hiburan tutup, maka barang haram itu untuk sementara disimpan di apartemennya.

“Memang karena di situasi Covid-19, barang haram ini digudangkan sementara, karena memang peredarannya yang biasa diedarkan di tempat-tempat hiburan ini tutup seluruhnya. Ini pengakuannya tapi kita masih mendalami terus,” ungkapnya.

Yusri menyampaikan, tersangka mengaku hanya mendapatkan perintah dari seseorang berinisial HMC yang masih buron atau masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Dia mendapatkan upah Rp 10 juta per bulan.

“Jadi barang itu milik HMC pengakuan dari pada tersangka ini, dan dia juga mengaku memang digaji sekitar Rp 10 juta per bulan. Jadi selama dia pegang barang ini, sudah hampir sekitar 3 bulan, pengakuannya itu sekitar Rp 30 juta upah yang sudah diterima untuk menyimpan barang ini sementara,” katanya.

Menurut Yusri, penyidik saat ini masih melakukan pengembangan untuk menangkap tersangka HMC yang masih buron. “HMC sementara masih dalam pengejaran oleh Ditnarkoba, kita masih melakukan pengejaran terhadap DPO. Kemudian, kita masih terus mengembangkan apakah nanti kemungkinan masih ada lagi pelaku-pelaku yang lain, ini masih pendalaman dari Ditresnarkoba Polda Metro Jaya,” jelasnya.

Menyoal di tempat hiburan mana rencananya pelaku akan mengedarkannya, Yusri mengatakan, penyidik masih mendalaminya.

“Kita ketahui bersama bahwa memang tempat hiburan semuanya tutup di masa pandemi ini, tidak dibuka. Ini masih kita dalami semua tempat-tempat yang sering dijual, kemudian juga kemungkinan kaki kanan itu masih kita dalami, belum sampai sini, kita masih dalami semuanya. Pengakuannya memang barang ini didapat dari HMC, milik HMC yang sekarang jadi DPO. Dia (II) diperintahkan untuk menjual, tetapi karena situasi sekarang ini pandemi Covid-19 penjualan ini agak sulit sehingga digudangkan sementara. Tetapi dia tetap disubsidi oleh HMC,” tandasnya.

Akibat perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 114 ayat (2) subsider Pasal 112 ayat (2) juncto Pasal 132 ayat (1) Undang-undang Republik Indonesia No 35 tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 20 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 800 juta atau paling banyak Rp 8 miliar.

Berita terkait: