Asuransi, Teruslah Berinovasi, Bertransformasi, dan Jaga Reputasi

“Mungkin industri asuransi tidak sejelek yang digembar-gemborkan. Kita punya ratusan perusahaan asuransi yang bisnisnya mulia, menjaga keselamatan dan membantu masyarakat pada saat susah,” ucap Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia (DAI) sekaligus ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) HSM Widodo saat menjadi pembicara di BeritaSatu News Channel, belum lama ini.

Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Peribahasa itu menggambarkan nasib industri asuransi belakangan ini. Permasalahan yang terjadi pada beberapa perusahaan asuransi justru menutupi capaian dan kontribusi perusahaan asuransi lainnya. Perusahaan asuransi yang bermasalah bisa dihitung dengan jari. Masih ada ratusan perusahaan asuransi lainnya yang menjalankan bisnisnya dengan baik.

Buktinya, sampai Agustus 2020, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa perusahaan asuransi jiwa telah membayarkan klaim dan manfaat mencapai Rp 92,97 triliun, sedangkan pendapatan premi sebesar Rp 109,60 triliun. Perusahaan asuransi umum mencatatkan klaim dibayar Rp 23,80 triliun dengan premi yang dihimpun pada saat yang sama Rp 43,99 triliun.

Namun demikian, permasalahan di beberapa perusahaan asuransi telah mendorong dan membuka mata pemangku kepentingan agar memberi perhatian lebih terhadap industri ini. Sedikit demi sedikit, aturan pro bisnis diterbitkan dengan tetap memastikan perlindungan nasabah. Saat ini telah muncul kesadaran bahwa masalah pada satu atau dua perusahaan asuransi bisa berdampak sistemis.

Risiko
Widodo menyampaikan Covid-19 adalah penyakit yang tidak diduga dan memberi dampak signifikan di berbagai sisi kehidupan. Banyak pihak yang tidak siap atas risiko yang kini terjadi. Kondisi ini memberi peringatan bahwa semua pihak harus siap berubah, termasuk bagi industri asuransi. Pasalnya, situasi sulit seperti saat ini sangat mungkin kembali terjadi di masa mendatang.

“Kita perlu jaga kenyataan bahwa apa yang terjadi di masa depan itu mendorong kita mau berubah. Misalnya untuk going online. DAI dan asosiasi yang ada bersama mendorong semua pelaku di industri asuransi untuk mentransformasikan diri dan memenuhi keseluruhan janji-janji yang kita berikan, bahkan kalau bisa lebih,” tegas Widodo.

Hal senada disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) merangkap Dewan Komisioner OJK Riswinandi. Menurutnya, kondisi pandemi saat ini merupakan momentum yang tepat bagi pelaku industri asuransi untuk beradaptasi dalam hal pemanfaatan teknologi guna mendukung proses bisnis perusahaan, baik dalam menjangkau nasabah baru atau berinteraksi dengan nasabah.

“Adaptasi dalam hal pemanfaatan teknologi menjadi hal penting bagi perusahaan asuransi untuk tetap bertahan dan guna mengantisipasi tren perilaku konsumen di masa akan datang,” ujarnya.

Ris menegaskan OJK senantiasa mendorong perusahaan asuransi terus beradaptasi dengan perubahan ekosistem di industri jasa keuangan, termasuk melakukan inovasi dalam pemasaran produk asuransi. Pemasaran produk asuransi harus dilakukan dengan perhitungan matang dan didukung prinsip kehati-hatian. Artinya, perusahaan asuransi mesti mengelola manajemen risiko sebagai langkah mitigasi terhadap risiko yang mungkin timbul dan berdampak negatif terhadap kinerja perusahaan.

Dia menuturkan dalam konteks pengelolaan risiko yang dimaksud, perusahan asuransi perlu mengambil hikmah dari kasus-kasus yang sering terjadi dalam industri asuransi nasional. OJK berpendapat salah satu mitigasi risiko yang perlu dilakukan secara optimal adalah proses pemasaran yang dikaitkan dengan platform digital. Pasalnya, saat ini Indonesia masih dihadapkan pada tingkat literasi keuangan yang relatif rendah.

“Saat ini OJK, khususnya IKNB sedang mempersiapkan dan merampungkan peraturan OJK terkait dengan manajemen risiko teknologi informasi. Ini diharapkan akan selesai dalam waktu yang tidak terlalu lama untuk mendukung kegiatan yang berbasis teknologi informasi di sektor IKNB,” ucapnya.

Dengan demikian, pelaku usaha perlu melakukan berbagai penyesuaian strategi bisnis untuk bisa bertahan di tengah kondisi krisis saat ini. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan teknologi informasi (TI) dalam rangka mendukung kegiatan usaha. Dengan pemanfaatan teknologi secara maksimal, penyelenggaraan usaha dapat dilakukan secara efektif dan efisien.

Solusi
Ketika masyarakat Indonesia didera pandemi Covid-19, asuransi mesti tampil memberikan solusi. Risiko sakit dan kematian saat pandemi perlu di- cover asuransi. Selain tetap menunjukkan komitmen terhadap nasabah, seyogyanya perusahaan asuransi menunjukkan bukti tidak hanya berorientasi pada bisnis semata.

Chief Distribution Officer PT Zurich Topas Life Budi Darmawan menyatakan dengan ikut memproteksi nasabah atas penyakit Covid-19 menjadi keputusan terbaik yang diambil para pelaku bisnis asuransi. Keputusan itu secara serentak disepakati, meskipun terdapat opsi bahwa industri asuransi bisa saja tidak mengikutsertakan manfaat itu karena pemerintah telah menanggung seluruh biaya.

“Kita sangat bangga bahwa Covid-19 itu turut kita cover. Kita membuktikan telah membayarkan miliaran rupiah untuk Covid-19 di seluruh Indonesia. Kita juga berupaya aktif membayarkan secara cepat untuk membuktikan janji kita kepada konsumen bahwa saat mereka kesulitan, kita dapat membantu mereka,” kata Budi.

Sampai saat ini Zurich Topas Life telah membayarkan klaim Rp 4 miliar kepada nasabah terjangkit Covid-19. Nilai itu memang relatif kecil untuk skala Indonesia, lantaran nilai klaim Covid-19 hingga ratusan juta dolar dicatatkan grup perseroan pada tingkat global.

Budi juga menyatakan sebenarnya tidak banyak ketentuan yang disyaratkan kepada nasabah yang ingin mendapatkan proteksi atas Covid-19. Perseroan bersama industri asuransi jiwa terus mengusung pesan bahwa berasuransi sangatlah penting. Terlepas dari Covid-19, masih banyak risiko yang perlu diproteksi. Asuransi berperan untuk membagi risiko di masa mendatang.

Hal itu perlu dipahami betul masyarakat melalui berbagai upaya edukasi dan literasi dari perusahaan asuransi, termasuk pemerintah. Biasanya manfaat asuransi baru disadari pada saat seseorang mengalami masalah. Saat normal dan punya pendapatan, banyak yang tidak memedulikan asuransi.

Selain asuransi Covid-19, bencana banjir yang terjadi di Jabodetabek pada awal tahun ini bisa menjadi contoh. AAUI memperkirakan bahwa potensi klaim atas bencana tersebut mencapai Rp 1,22 triliun. Nilai tersebut merupakan hasil kompilasi dari 3.335 polis asuransi kendaraan bermotor dan 2.799 polis asuransi harta benda. Nilai itu pun baru mencakup laporan dari 40 perusahaan asuransi dan masih terbuka untuk klaim yang dibayarkan lebih rendah, bahkan lebih tinggi.

Nasabah asuransi juga perlu diberi pemahaman untuk menahan diri menarik nilai tunai dan tidak melanjutkan polis. Hal itu akan menjadi kerugian karena nilai tunai belum besar dan bisa jadi manfaat polis pun akan ikut terhenti. Ada pilihan bagi nasabah yang tidak memiliki likuiditas untuk cuti membayar premi beberapa waktu.

Data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menunjukkan sampai semester I 2020 klaim nilai tebus ( surrender ) mencapai Rp 37,87 triliun. Nilai tersebut menjadi kontributor klaim terbesar atau mencakup 58,7% dari total klaim pada asuransi jiwa yang mencapai Rp 64,22 triliun.

Kendati demikian, Ketua Bidang Komunikasi dan Marketing AAJI Wiroyo Karsono menyampaikan ada fenomena menarik yang dicatatkan oleh nasabah asuransi jiwa. Nasabah melakukan klaim akhir kontrak ( maturity ) sebesar Rp 7,26 triliun atau mencakup 11,2% dari total klaim. AAJI mendorong klaim hingga akhir kontrak karena nasabah bisa terproteksi sampai akhir polisnya.

Wiroyo mengungkapkan jumlah klaim asuransi jiwa terus meningkat dari tahun ke tahun. Kondisi itu menjadi penting sebagai bentuk komitmen industri asuransi. Tahun ini diprediksi klaim dan manfaat yang dibayarkan akan meningkat tipis, karena klaim di sektor kesehatan diperkirakan menurun dipengaruhi berkurangnya aktivitas masyarakat.

Di samping itu, asuransi jiwa juga telah membayarkan klaim Covid-19 sebesar Rp 216,03 miliar terhadap 1.642 polis sampai akhir Juni 2020. Klaim tersebut dicatatkan oleh 56 perusahaan asuransi jiwa sejak Maret sampai Juni 2020. “Pembayaran klaim tetap dilaksanakan meskipun pemerintah telah menyatakan bahwa penyakit Covid-19 merupakan pandemi. Artinya, biaya pengobatan ditanggung oleh pemerintah,” ujar Wiroyo.

Dia menyatakan besaran klaim di suatu daerah dinilai sejalan dengan tingkat penyebaran penyakit Covid-19 di daerah tersebut. Sekitar 93% pembayaran klaim berasal dari produk asuransi jiwa dan kesehatan, serta 7% oleh produk asuransi jiwa kredit.

Dalam praktiknya, AAJI menyadari pandemi Covid-19 memaksa industri asuransi jiwa dan berbagai industri lain mendapati sejumlah tantangan baru. Meski begitu, industri mesti terus bergerak dan terus berproduksi.

Pada industri asuransi umum, pembayaran klaim dan manfaat asuransi barang milik negara (ABMN) dapat menjadi gambaran tersendiri. Data administrator konsorsium ABMN PT Reasuransi Maipark Indonesia menunjukkan jumlah klaim dibayarkan sampai Agustus 2020 mencapai Rp 161,70 juta. Klaim menuju proses bayar sambil melengkapi dokumen sebesar Rp 451,63 juta. Klaim yang sedang dalam proses banding mencapai Rp 232,17 juta. Dengan penamnbaha jumlah survei dan laporan lainnya, volume pengajuan klaim mencapai Rp 845,51 juta.

Pilot project ABMN telah dijalankan Kementerian Keuangan sejak 2019. Tahun ini cakupannya diperluas ke 10 kementerian/lembaga (K/L). Seluruh K/L ditargetkan ikut dalam program ABMN terkait proteksi gedung-gedung pada 2021. Proteksi itu belum termasuk aset infrastruktur, seperti jalan, jembatan, pelabuhan, dan bandara, yang rencananya turut diasuransikan.

Walaupun terdapat berbagai tantangan, industri asuransi dipercaya bisa terus tumbuh, berkembang, dan berkontribusi lebih pada perekonomian nasional. Situasi sulit saat pandemi Covid-19 dapat menjadi momentum tersendiri bagi perusahaan asuransi. Perusahan dan pelaku industri asuransi menyambut Insurance Day pada Minggu,18 Oktober 2020. Inilah hari istimewa bagi industri asuransi, sekaligus pengingat bagi kita semua. Bisnis asuransi memproteksi risiko, tetapi tak boleh dilupakan bahwa perusahaan asuransi pun perlu diproteksi lantaran bisnis mulia ini pun dapat salah langkah. Proteksi dimaksud bisa datang dari luar maupun dalam perusahaan asuransi sendiri. Dukungan dan keterlibatan berbagai pihak menjadi faktor penting bagi kelangsungan industri asuransi. Asuransi, teruslah berinovasi, segera bertransformasi, dan jaga reputasi. Mari berasuransi!

TAG:  Insurance Day 2020 Insurance Day Asuransi

Berita terkait: