Antusiasme Pilpres Melonjak, Sudah 22 Juta Warga AS Berikan Suara

Para pejabat pemilihan umum negara bagian di seluruh Amerika Serikat melaporkan rekor baru dalam jumlah pemilih yang sudah memberikan suara mereka sebelum pemilihan presiden resmi digelar pada 3 November.

Lebih dari 22 juta rakyat Amerika sudah memberikan suara sampai dengan Jumat (16/10/2020) waktu setempat, baik langsung di TPS maupun melalui pos, menurut lembaga pemantau US Election Project.

Pada periode yang sama pilpres 2016 lalu, hanya sekitar 6 juta suara yang telah dikumpulkan.

Menurut para pakar, pemberian suara secara dini itu ada kaitannya dengan pandemik virus corona , di mana banyak orang memilih hari alternatif untuk “mencoblos” guna menghindari kerumunan.

Hari Selasa lalu, negara bagian Texas yang menerapkan persyaratan ketat untuk pemberian suara via pos sudah mencatat rekor jumlah suara yang masuk di hari pertama pemungutan suara di sana.

Pada Senin, bertepatan libur nasional Columbus Day, Georgia melaporkan 126.876 suara masuk, juga rekor baru di negara bagian itu.

Ohio, negara bagian yang dianggap imbang antara kandidat Partai Demokrat dan Partai Republik, menerima permintaan 2,3 juta kertas suara via pos, dua kali lipat dari permintaan pada 2016.

Menurut pemberitaan, terindikasi bahwa anggota terdaftar Demokrat mengalahkan suara kubu Republik karena jumlah pemilih via pos mereka dua kali lipat lebih.

Di kalangan pemilih dini tersebut, kaum perempuan dan kulit hitam mencatat lonjakan jumlah. Sebagian termotivasi oleh ketidaksukaan kepada Donald Trump, sementara yang lain dipicu oleh gelombang protes atas ketidakadilan rasial menyusul pembunuhan pria kulit hitam George Floyd oleh polisi di Minnesota.

Namun, bukan berarti Demokrat bisa cepat-cepat mengklaim kemenangan. Kubu Republik, yang menuduh pemungutan suara via pos rawan dicurangi, mengatakan Demokrat boleh saja unggul di pemilihan dini, tetapi para pemilih Republik akan muncul besar-besaran pada hari pemilihan yang sebenarnya.

Menurut penelitian Brennan Center for Justice pada 2017, potensi kecurangan pemungutan suara di seluruh AS hanya antara 0,00004% sampai 0,0009%.

Anti-Trump
Melonjaknya jumlah pemilih dini itu mengakibatkan antrean panjang di berbagai tempat, dalam sejumlah kasus bahkan ada yang menunggu 11 jam sebelum tiba gilirannya.

Kaum muda, yang biasanya susah digiring ke TPS, tampaknya mulai antusias memberikan suara tahun ini. Suara dari kelompok pemilih usia muda bisa memecahkan rekor baru sejak pilpres 2008 yang dimenangkan oleh Barack Obama – presiden kulit hitam pertama di Amerika.

Survei terakhir oleh Axios menyebutkan bahwa empat dari 10 mahasiswa mengatakan akan memprotes jika Trump menang. Enam dari 10 mengatakan akan mencela teman mereka yang punya hak memilih tetapi tidak melakukannya.

Sebaliknya, hanya 3% responden mahasiswa yang mengatakan akan mengajukan protes jika Joe Biden terpilih.

Berita terkait: