Air Hujan Diserap Tanah atau Dibuang ke Laut untuk Cegah Banjir DKI?

Banjir kembali melanda Jakarta akhir pekan lalu. Konsep Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menangani banjir pun menjadi sorotan publik.

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto bahkan mengungkit konsep penanganan banjir Anies. Anies pernah mengatakan, air hujan baiknya diserap masuk ke tanah bukan dialirkan ke laut.

“Kalau bicara banjir Jakarta, kan saya juga sebagai sebuah kritik, karena asumsi yang salah bahwa air itu akan masuk ke bumi. Itu kan yang disampaikan pada saat kampanye,” katanya dalam diskusi virtual bertajuk Politik Hijau PDI Perjuangan pada Sabtu (20/2).

Mengenai konsep Anies ini, Direktur Rujak Center for Urban Studies, Elisa Sutanudjaja, setuju dengan konsep air hujan diserap ke tanah.

Dia mengatakan, sumur resapan di Jakarta sudah menjadi kewajiban untuk menekan dampak banjir setiap kali memasuki puncak musim hujan.

“Sudah seharusnya begitu (membangun sumur resapan),” kata Elisa, Senin (22/2).

Sebagai dataran rendah, Elisa menilai, sumur resapan memiliki kontribusi signifikan dalam pengendalian banjir. Sayangnya, jumlah sumur resapan di Jakarta dinilai masih minim.

Dia memahami, tidak semua wilayah Jakarta bisa dibuat sumur resapan. Seperti Jakarta Utara yang dianggap tidak tepat lagi membuat sumur resapan. Namun, untuk wilayah Jakarta Pusat, Timur, Selatan menurutnya masih bisa ditambah unit-unit sumur resapan.

Meskipun, Elisa menegaskan, mengalirkan air hujan ke laut juga tetap dilakukan, kendati sumur-sumur resapan terus ditambah. Dengan kombinasi dua cara tersebut, Elisa meyakini dampak banjir akan bisa ditekan.

“Untuk yang dialirkan ke laut, tentu tetap ada yang perlu dialirkan, karena sebagian wilayah Jakarta ada yang sudah terdesain dengan sistem polder,” katanya.

Dia menambahkan, genangan dan banjir itu terjadi ketika jumlah air yang ada di permukaan lebih banyak dari pada yang diserapkan atau dialirkan.

warga ciledug indah bersihkan lumpur dan sampah sisa banjir©2021 Liputan6.com/Angga Yuniar

Elisa berujar, selama ini upaya Pemprov DKI adalah selalu mengalirkan air ke drainase. Sementara instrumen penyerapan berkurang banyak dan tidak pernah ditingkatkan.

“Ruang biru kita itu hanya 3 persen dari seluruh wilayah Jakarta, mau sebesar apapun tidak akan cukup untuk catch up hujan yang makin lama makin ekstrem,” tandasnya.

Sementara itu, Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Sekretariat Daerah DKI Jakarta Yusmada Faizal mengatakan, kapasitas drainase di ibu kota yang terbatas mengakibatkan tidak mampu menampung debit air hujan akibat cuaca ekstrem beberapa hari ini.

Sistem drainase yang dibuat Pemda DKI hanya dapat menampung air hujan 50 sampai 100 mililiter (mm) per hari.

“Makanya, kalau terjadi hujan ekstrem 130 sampai 160 mm maka terjadilah luapan,” tutur Yusmada.

Dia kemudian menjelaskan hujan di Jakarta dalam dua hari ini di wilayah Halim Perdanakusuma mencapai 160 mm per hari, di kawasan Manggarai 130 mm per hari, Pasar Minggu 130 mm per hari dan wilayah Sunter Hulu sampai 107 mm.

“Intinya area yang terdampak sangat besar dan hujan dua hari ini itu Jakarta Timur dan Selatan,” tutur dia.

Konsep Anies Baswedan

baswedan

Anies Baswedan membuat prinsip sederhana soal solusi banjir Ibu Kota. Menurut dia, mengentaskan masalah tersebut hanya cukup dengan mengembalikan air hujan masuk kembali ke tanah, atau membuat resapan.

“Jika setiap kita memasukkan air hujan ke dalam lubang di rumah kita, tanah kita, maka kita tak mengirimkan air hujan keluar dan Insyaallah tak menghasilkan banjir,” kata Anies Baswedan di Monas, Jakarta Pusat, Selasa (20/11/2018).

Menurut Anies Baswedan, kontur jalan perkotaan yang ramai aspal, bangunan rumah, dan gedung-gedung, membuat air sulit meresap sehingga meluap di 13 titik sungai yang melintasi Jakarta. Minimnya resapan pun membuat setiap tahunnya tanah di Jakarta turun 7 cm, lantaran tak mendapat asupan air secara baik.

“Apa yang diturunkan ke bumi berupa air lalu air itu menghidupkan bumi (tanah) yang sesungguhnya kering dan mati, tapi karena perbuatan kita menghalangi air itu masuk ke bumi dampaknya hadirnya limpahan air yang kita sebut dengan banjir, efeknya tanah kita, bumi kita di Jakarta turun 7 cm per tahun, 10 tahun, 70 cm tanah kita turun,” kata mantan Menteri Pendidikan ini.

Karena itu, Anies siap berbenah. Dia berjanji untuk segera membuat tanah resapan dengan mengajak warga DKI di tiap wilayah bisa menyediakan tanah yang siap menyerap air hujan.

“Jika setiap kita memasukan air hujan ke dalam lubang di rumah tanah kita, maka kita tak mengirimkan air hujan keluar dan Insyaallah tak menghasilkan banjir. Maka itu saya mengajak semua ikut gerakan ini kita ingin membangun secara masif sumur sumur drainase vertikal di rumah rumah kita,” kata Anies.

Disindir Sekjen PDIP

pdip

Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto mengkritik penanganan banjir di DKI Jakarta. Dirinya lantas menyindir Anies tentang air hujan.

Saat kampanye Pilgub DKI 2017, Anies Baswedan memang pernah menyebut air turun dari langit harusnya dimasukkan ke tanah atau bumi. Bukan di alirkan ke laut atau gorong-gorong.

“Kalau bicara banjir Jakarta, kan saya juga sebagai sebuah kritik, karena asumsi yang salah bahwa air itu akan masuk ke bumi. Itu kan yang disampaikan pada saat kampanye,” katanya dalam diskusi virtual bertajuk Politik Hijau PDI Perjuangan pada Sabtu (20/2).

Menurutnya, solusi penanganan banjir di Ibu Kota bisa memperhatikan aspek cuaca. Dia pun mengingatkan pesan dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang meminta jajarannya agar sering bertemu dengan pihak BMKG untuk mengerti akan perubahan iklim yang terjadi.

“Itu harus betul-betul memperhatikan aspek cuaca tersebut. Ini yang kemudian kepala daerah PDI Perjuangan, karena mendapat kesempatan yang begitu luas untuk membahas aspek-aspek lingkungan, maka juga otomatis terbangun suatu kultur untuk merawat lingkungan dengan baik,” ujarnya.

Berita terkait: