Afifah Sindir Pelayanan di Depok Lamban, Idris Sebut Berkas Tak Lengkap

Calon Wakil Wali Kota Depok nomor urut satu Afifah Alia mempertanyakan lambatnya pembuatan izin di Kota Depok. Hal ini diungkapkan dalam Debat Publik Pilwalkot Depok 2020 yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Depok dan disiarkan live di stasiun televisi swasta, Minggu (22/11/2020).

Afifah menanyakan mengapa tidak ada penulisan berapa lama pelayanan pembuatan sebuah dokumen. Padahal layanan perizinan, harus memiliki standar tertulis.

Hal ini ditanggapi Calon Wali Kota Depok nomor urut dua Mohammad Idris. Dikatakan Idris, jika berkasnya lengkap makan perizinan akan selesai dalam waktu 14 hari. “Jika tidak selesai dalam 14 hari, pasti ada dokumen yang mungkin tidak dilengkapi,” jawab Idris dalam debat.

Dalam debat yang dihadiri panelis Ferry Rizky Kurniansyah, Reni Suwarso, JJ Rizal ini, pembangunan kawasan Margonda juga menjadi sorotan. Depok dinilai hanya menitikberatkan pembangunan di kawasan tersebut dan melupakan kawasan lainnya.

BACA JUGA

Persiapan Debat Perdana, Imam Budi Fokus Jaga Kesehatan

Menjawab pertanyaan panelis, Mohammad Idris mengatakan bahwa saat ini Depok juga telah membangun wilayah Bojongsari dan Cinere. Maraknya pembangunan di dua kawasan yang berlokasi di Depok Barat ini, kata Idris di antaranya ditandai dengan banyaknya investor yang melirik kawasan tersebut. Mereka membangun perumahan baru, pusat perbelanjaan, sekolah, rumah sakit dan sebagainya. “Wah kalau hanya dibilang hanya mengutamakan Margonda maka jelas salah. Coba paslon 01 jalan-jalan ke Bojongsari dan Cinere. Lihat seperti apa pembangunan di sana,” tutur Idris.

Hal lain yang juga menjadi sorotan panelis terkait transportasi. Depok dinilai belum memiliki transportasi massal publik yang terintegrasi guna mengurangi kemacetan yang selama terjadi di dua ruas jalan utama yakni Jalan Margonda Raya dan di Jalan Raya Sawangan.

Calon Wali Kota Depok nomor urut satu Pradi Supriatna menyayangkan tidak terealisasikannya pembangunan jalan tembus non-tol mulai Jalan Juanda dilanjutkan ke Beji dan Cinere. Sehingga bisa memecah kemacetan di di Jalan Margonda dan Jalan Raya Sawangan. “Padahal kalau bisa terlaksana ini akan sangat maksimal mengatasi kemacetan,” ujar Pradi.

Afifah Alia menambahkan bahwa Depok harus membuat anggaran untuk pengadaan lahan. Jika pengadaan lahan maksimal, maka Depok bisa memiliki banyak ruas jalan baru.

Menyoal transportasi, Idris mengatakan bahwa pihaknya telah mengajukan desain transportasi bermoda rel kepada Badan Pengelolaan Transportasi Jabodetabek (BPTJ) dan juga Kementerian Perhubungan. “Ini direspons baik dan Insyaallah bisa terencana jika saya dan Pak Imam terpilih,” kata Idris.

Dalam debat tersebut, para paslon juga memaparkan program utama yang menjadi andalan. Pasangan Pradi Supriatna-Afifah Alia menjanjikan berobat gratis hanya dengan KTP Depok bagi warga tak mampu, mengalokasikan dana bantuan bagi keluarga terdampak Covid-19, membangun ruang budaya dan olahraga, membangun sekolah Madrasah Aliyah (MA) di Depok serta memperbanyak madrasah ibtidaiyah dan madrasah tsanawiyah.

Sedangkan Mohammad Idris-Imam Budi Hartono mengusung Kartu Depok Sejahtera (KDS) yang memiliki tujuh layanan dan manfaat. “Dengan KDS ini ada pelayanan kesehatan gratis bagi keluarga tidak mampu, bantuan pendidikan bagi siswa dan mahasiswa berprestasi, jaminan ketersediaan pangan bagi rumah tangga kurang mampu, bantuan renovasi rumah tidak layak huni, santunan kematian bagi keluarga tidak mampu, bantuan dana bagi para lanjut usia dari keluarga kurang mampu, bantuan keterampilan soft skills dan penyaluran kerja bagi warga kurang mampu,” papar Idris.

Berita terkait: