Ada Tiga Cara Gulingkan Trump, Dua Sedang Dicoba

DPR Amerika Serikat dengan dimotori Partai Demokrat tengah mengerahkan segala upaya untuk memberhentikan Presiden Donald Trump, yang dituduh sebagai dalang kerusuhan di Gedung Capitol, 6 Januari lalu.

Trump dituduh sebagai otak insurrection atau tindakan makar yang menggunakan aksi kekerasan terkait kerusuhan di Gedung Capitol. Pidana semacam ini memang bisa berisiko berat bagi seorang presiden.

Setidaknya ada tiga opsi di mana Trump berhenti dari jabatannya, yang sebetulnya juga tinggal tersisa sepekan lagi saat tulisan ini dibuat, Rabu (13/1/2021).

Pertama, menggunakan Amendemen ke-25.
Amendemen ke-25 memungkinkan wakil presiden untuk menggelar sidang kabinet dan menyatakan presiden tidak mampu lagi menjalankan tugasnya secara patut dan harus diberhentikan.

Selasa (12/1/2021) malam waktu setempat, atau Rabu WIB, Wakil Presiden Mike Pence menulis surat ke Ketua DPR Nancy Pelosi untuk menegaskan bahwa dia tidak akan menggunakan kewenangan tersebut.

“Dengan hanya delapan hari tersisa untuk masa jabatan Presiden, Anda dan kaukus Partai Demokrat menuntut agar kabinet dan saya menerapkan Amendemen ke-25. Saya tidak percaya bahwa tindakan seperti ini akan mewakili kepentingan terbesar negara kita atau akan konsisten dengan Konstitusi kita,” tulis Pence.

“Menurut Konstitusi kita, Amendemen ke-25 bukanlah alat untuk memberi hukuman atau mendongkel kekuasaan,” imbuhnya.

Meskipun demikian, Pelosi tetap memimpin sidang DPR untuk membahas masalah tersebut. Uniknya, meskipun Pence sudah jelas menolak, DPR berhasil mengesahkan resolusi yang memerintahkan wakil presiden untuk memimpin sidang kabinet dan memberhentikan Trump.

Resolusi tersebut disahkan dengan 223 suara berbanding 205.

Kedua, pemakzulan.
Trump sebelumnya pernah menghadapi pemakzulan yang diinisiasi Partai Demokrat terkait tuduhan dia pernah meminta bantuan pemerintah Ukraina untuk menyerang lawan politiknya, dan terkait dugaan campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden 2016 yang dimenangkan Trump.

Trump akhirnya dibebaskan dari segala tuduhan dalam sidang di Senat.

Demokrat kembali menyusun rencana untuk memakzulkan Trump yang kedua kalinya terikait kerusuhan di Gedung Capitol, menurut rencana pada Rabu malam ini waktu Washington.

Jika Trump kembali dimakzulkan, dia lagi-lagi akan disidang di Senat untuk menyatakan bersalah atau tidak.

Di sinilah masalahnya. Trump sudah berstatus warga negara biasa pada tanggal 20 Januari ketika Biden dilantik sebagai presiden ke-46. Sampai waktu itu, Senat tidak akan bersidang.

Meskipun demikian, Demokrat tetap memiliki harapan karena menurut The New York Times , 20 senator Partai Republik siap melawan Trump.

Untuk menyatakan presiden bersalah dan diberhentikan, butuh duapertiga suara di Senat. Demokrat butuh sedikitnya 17 suara dari Partai Republik di Senat guna menyingkirkan Trump.

Namun, lagi-lagi masalahnya kembali ke soal tenggat waktu yang tinggal sepekan.

Cara ketiga, Trump mengundurkan diri.
Satu-satunya presiden Amerika yang pernah mengundurkan diri adalah Richard Nixon, yaitu pada 1974 di pertengahan masa jabatannya yang kedua akibat skandal Watergate.

Sampai saat ini tidak ada tanda-tanda Trump akan menyerah. Dia juga menolak bertanggung jawab atas kerusuhan di Capitol, dan menolak mengakui kemenangan Biden.

“Apa yang saya katakan sepenuhnya benar. Saya tidak menghendaki terjadinya kekerasan,” kata Trump saat berkunjung di Texas, Selasa. Massa pendukung Trump menyerbu dan membuat rusuh di Gedung Capitol setelah mereka mengikuti aksi massa dan mendengar pidato Trump di depan pelataran Gedung Putih, tidak jauh dari Capitol.

Sebelum akun Twitter-nya dibekukan, Trump sempat bercuit dia tidak akan hadir dalam pelantikan Biden.

Tahu Bakal Gagal, Kenapa Demokrat Ngotot?
Dari tiga opsi tersebut, tidak satu pun yang memberi peluang besar untuk menyingkirkan Trump dari Gedung Putih dalam waktu tujuh hari sebelum dia pensiun.

Namun, Demokrat tetap punya alasan kuat untuk mengejar pemakzulan Trump Rabu ini.

Dalam sidang pemakzulan, Demokrat bisa mengusulkan pemungutan suara untuk menghabisi hak politik Trump agar tidak bisa mencalonkan diri.

Sebelumnya Trump pernah memberi sinyal dia akan maju lagi dalam pemilihan presiden 2024.

Yang kedua, terkait dendam pribadi. Jika Trump kembali dimakzulkan, dia akan mengukir sejarah sebagai satu-satunya presiden Amerika yang dimakzulkan dua kali, bukan torehan prestasi yang bagus untuk presiden ke-45 ini.

Berita terkait: