800 Orang Dilaporkan Tewas karena Pembantaian di Ethiopia

Sebanyak 800 orang dilaporkan tewas dalam sebuah pembantaian di gereja Kristen di Axum, Ethiopia, di mana para jemaat meyakini Tabut Perjanjian disimpan. Tabut Perjanjian atau Ark of Covenant merupakan peti berisi dua keping batu yang bertatahkan Sepuluh Perintah Tuhan yang difirmankan kepada Nabi Musa di Gurun Sinai.

Gereja St Mary of Zion menjadi tempat mengungsi bagi warga Ethiopia di wilayah Tigray yang melarikan diri karena perang sipil di negara tersebut.

Tempat itu dikepung tahun lalu di tengah bentrokan antara pasukan pemerintah dan milisi pemberontak, yang mengakibatkan jatuhnya ratusan korban jiwa yang baru diketahui publik sekarang. Karena saluran telepon Tigray terputus dan jurnalis dilarang memasuki wilayah tersebut, perkiraan jumlah korban tewas bervariasi.

Saat wilayah itu mulai terhubung dengan dunia luar, seorang pelayan gereja atau diaken mengakui menyaksikan kekejaman tersebut dan melaporkan apa yang terjadi selama akhir pekan terakhir pada November 2020. Demikian dikutip dari The Independent, Selasa (23/2).

Dia mengatakan, dia mengumpulkan kartu identitas korban dan membantu pemakaman massal. Pelayan gereja tersebut, yang berbicara kepada AP dalam kondisi anonim karena masih berada di Axum, mengatakan 800 orang dibunuh.

“Jika kita pergi ke wilayah pinggiran, situasinya jauh lebih buruk,” tambahnya.

Di antara korban adalah jemaat lokal yang berlari ke gereja untuk menyelamatkan tabut perjanjian tersebut.

Kekejaman konflik Tigray sebagian besar terjadi dalam bayang-bayang karena terisolasi dari wilayah Afrika lainnya dan dunia.

Perdana Menteri Ethiopia, Abiy Ahmed, yang memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian pada 2019 karena berdamai dengan tetangganya Eritrea, mengumumkan pertempuran itu ketika dunia fokus pada pemilu AS.

Ahmed menuduh pasukan regional Tigray, yang para pemimpinnya mendominasi Ethiopia selama hampir tiga dekade sebelum dia menjabat, menyerang militer Ethiopia. Pemimpin Tigray menyebutnya pertahanan diri setelah berbulan-bulan ketegangan.

Sementara dunia menuntut akses ke Tigray untuk menyelidiki dugaan kekejaman di semua sisi dan mengirimkan bantuan kepada jutaan orang yang kelaparan, PM Ahmed menolak “campur tangan” dari luar.

Dia menyatakan kemenangan pada akhir November dan mengatakan tidak ada warga sipil yang terbunuh. Pemerintahnya menyangkal kehadiran ribuan tentara dari Eritrea, musuh lama para pemimpin Tigray.

Pelayan gereja itu mengatakan pembunuhan terus berlanjut. Pekan lalu, dia mengatakan membantu menguburkan tiga orang lainnya.

Baca juga:
Kelompok Bersenjata Bantai Ratusan Warga Ethiopia dalam Semalam
Nestapa Anak-Anak Korban Konflik Tigray Belajar di Tempat Seadanya
Pecahkan Rekor, Ethiopia Tanam 353 Juta Pohon dalam 12 Jam

Berita terkait: