7 Jawaban dari Berbagai Pertanyaan Umum seputar Isu COVID-19

Sekalipun pemberitaan mengenai COVID-19 bisa dibilang nonstop, tapi masih banyak orang yang masih tidak tahu, kurang paham, atau mempertanyakan penyakit ini dan cara penanganannya.

Lewat live Instagram Story pada hari Kamis lalu (20/8) pukul 19.30 WIB, dr. Dirga Sakti Rambe, M.Sc, Sp.PD, dari Omni Hospital Pulomas, Jakarta, dan dr. Adam Prabata, seorang kandidat PhD Medical Science di Universitas Kobe, Jepang, membahas isu-isu seputar COVID-19.

Ada beragam pertanyaan yang dilontarkan pada malam itu yang dijawab langsung oleh para ahli.

1. Apakah benar virus COVID-19 sekarang menyebar lewat udara?

7 Jawaban dari Berbagai Pertanyaan Umum seputar Isu COVID-19noticierodelllano.com

Dalam informasi resmi dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) dan Badan Kesehatan Dunia (WHO), COVID-19 ditularkan lewat cairan tubuh manusia ( droplet ) ketika bersin, batuk, bahkan saat berbicara.

Beberapa waktu lalu cukup banyak peneliti yang mengatakan bahwa SARS-CoV-2, virus corona strain baru penyebab COVID-19 bisa menyebar lewat udara ( airborne ). Namun, ini masih belum benar-benar terbukti. WHO mengatakan bahwa COVID-19 memang berpotensi menyebar lewat udara di beberapa kondisi, khususnya di ruangan tertutup yang tidak memiliki ventilasi yang memadai.

2. Apakah penggunaan masker bisa mengatasi penyebaran COVID-19?

7 Jawaban dari Berbagai Pertanyaan Umum seputar Isu COVID-19pixabay.com

Hal ini masih dipertanyakan. Ada beberapa catatan jurnal medis yang kontradiktif atau berlawanan. Ada yang bilang efektif, ada juga yang menemukan sebaliknya.

Oleh karena itu, jika ditanya apakah masker bisa mengatasi penyebaran COVID-19, maka jawabannya belum tentu. Namun, kita tetap disarankan untuk pakai masker saat di luar rumah, saat sakit, atau berada di sekitar orang yang sakit maupun suspect  untuk mengurangi risiko penyebaran.

Selain itu, jaga jarak aman dengan orang lain. Walaupun jarak yang disarankan adalah 2 meter, tetapi kalau tidak mungkin usahakan minimal 1 meter.

Selain itu, biasakan untuk mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir. Hand sanitizer berbahan alkohol minimal 60 persen bisa jadi alternatif jika tidak ada air dan sabun, tetapi jangan melakukannya terus-terusan setidaknya setelah penggunaan kelima kalinya. Tetap prioritaskan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir karena cara ini lebih efektif dalam membasmi kuman.

3. Apakah rapid test efektif untuk mendeteksi infeksi COVID-19?

7 Jawaban dari Berbagai Pertanyaan Umum seputar Isu COVID-19cadenaser.com

Rapid test ada dua macam, yaitu rapid test antigen dan rapid test antibodi. Rapid test antigen mencoba mengenali genetik tubuh manusia yang mana akan sedikit bermutasi apabila ada virus yang bersarang di sana. Sementara itu, rapid test antibodi melihat antibodi orang tersebut, apakah kuat menahan infeksi virus atau tidak.

Umumnya, rapid test yang diberlakukan adalah rapid test antibodi dan ini tidak efektif mengingat tes tersebut dinilai sangat terlambat dalam mendeteksi. Saat seseorang sudah bergejala, itu artinya infeksi sudah terlanjur menyebar dan mengindikasikan kemungkinan sang pasien sudah menyebarkan virus tersebut.

Tes yang paling bagus adalah swab atau PCR test , karena tes ini mengecek RNA seseorang yang sudah berubah ketika ada virus bersarang walaupun belum ada gejala sekalipun. Jadi, jika ada kerabat yang mau datang dari luar kota, baiknya mereka melakukan tes PCR atau minimal rapid test antigen.

Baca Juga: Kuatkan Tubuhmu, Ini Cara Kerja Sistem Imun Lawan Infeksi Virus Corona

4. Berapa lama perlu melakukan isolasi jika hasil tes PCR menunjukkan hasil positif?

7 Jawaban dari Berbagai Pertanyaan Umum seputar Isu COVID-19theglobeandmail.com Lanjutkan membaca artikel di bawah Editor’s picks

  • Kamu Lebih Mungkin Tertular COVID-19 di Rumah, Ini Penjelasannya
  • Cara-cara untuk Tidur dalam 10 Detik, 1 Menit, dan 2 Menit
  • Perut Begah dan Kembung? Hindari 9 Makanan Pemicu Gastroparesis Ini!

Paling amannya adalah 2 minggu atau 14 hari. Dalam infeksi COVID-19, ada masa inkubasi yang berlangsung selama 14 hari. Selama masa tersebut, kamu mungkin tidak menunjukkan gejala apa pun, tetapi sebenarnya sudah terinfeksi. Baru, nanti setelah hari kelima atau keenam, gejala mulai muncul. Umumnya, kamu akan dicurigai telah menularkan virus ke orang lain pada saat 2 hari sebelum muncul gejala. Ini dinamakan pra-simtomatik.

Karena penularan COVID-19 diperkirakan makan waktu 7-9 hari, dibuatlah kebijakan untuk melakukan isolasi diri selama 10 hari. Namun, untuk kasus dengan gejala infeksi yang berat, pasien tersebut perlu isolasi diri selama 10 hari, dan tambah 3 hari bila kondisinya tanpa gejala.

Oleh sebab itu, kalau kamu menjalani perawatan rumah sakit selama 10 hari dan merasa sehat, petugas kesehatan akan tetap menganjurkan untuk isolasi diri selama 3 hari.

5. Bila sudah dinyatakan sembuh, lalu melakukan tes PCR lagi dan hasilnya positif, apakah itu tandanya terinfeksi lagi?

7 Jawaban dari Berbagai Pertanyaan Umum seputar Isu COVID-19gruene.at

Contoh skenarionya seperti ini: kamu tes PCR, hasilnya positif. Lalu, setelah menjalani perawatan dan isolasi, dilakukan tes PCR lagi dan hasilnya negatif. Setelah beberapa waktu, dicoba lagi tes PCR dan hasilnya positif kembali. Apa artinya?

Itu adalah fenomena yang dinamakan persistent viral shedding dan hal ini tidak mengindikasikan kamu kembali terinfeksi virus tersebut.

Pada dasarnya, setelah kamu terinfeksi COVID-19 dan berhasil sembuh setelah 10 hari lebih, virus tidak mungkin menginfeksi kembali dan kamu pun tidak akan menularkannya. Pernyataan ini didasari oleh temuan atau laporan yang dipublikasikan di jurnal medis.

Hasil tes PCR yang positif lagi bisa terjadi karena umumnya masih ada sisa virus di tubuh, tetapi sudah mati atau tak berfungsi. Itulah yang terdeteksi tes tersebut. Jadi, kalau kamu sudah dinyatakan sembuh dari COVID-19, tak perlu lagi melakukan tes PCR.

Kalaupun kamu melakukan rapid test antibodi dan dinilai positif, sedangkan hasil tes swab negatif, besar kemungkinannya tubuhmu memiliki jejak virus yang terpasang di antibodi. Akan tetapi, untuk virusnya sendiri sudah tidak ada atau mati.

6. Apakah benar masih ada yang mengalami gejala COVID-19 walau sudah dinyatakan sembuh?

7 Jawaban dari Berbagai Pertanyaan Umum seputar Isu COVID-19de.reuters.com

Isu ini benar. Ada fenomena bernama long COVID.  Ini adalah fenomena yang mana dampak dari penyakit tersebut masih terasa walau sudah dinyatakan sembuh. Kondisi ini dirasakan hingga 80 persen pasien.

Yang paling sering terjadi adalah penurunan fungsi paru-paru. COVID-19 yang menyerang paru-paru mengakibatkan kesulitan dalam bernapas, pasien akan merasakan gejala mudah lelah dan sering terengah-engah.

Dikatakan bahwa COVID-19 menyebabkan fungsi paru-parumu menurun hingga 40 persen. Namun, hal ini bisa diperbaiki dengan cara olahraga dan melatih pernapasan.

7. Sudah adakah obat untuk COVID-19?

7 Jawaban dari Berbagai Pertanyaan Umum seputar Isu COVID-19globaltimes.cn

Hingga sekarang masih belum ada. Obat yang dipakai selama ini adalah  repurposed drugs , dalam artian dipakai untuk mengobati pasien tetapi sebetulnya fungsi utamanya adalah bukan untuk wabah ini.

Bagaimana dengan perkembangan tentang vaksin?

Kebanyakan vaksin masih dalam tahap satu dan tahap dua, yang mana itu masih proses pengembangan awal. Memang ada negara yang mengatakan sudah punya vaksin, seperti Tiongkok dan Rusia. Namun, setelah dilihat-lihat, mereka melewati beberapa tahapan pengujian. Artinya, vaksin tersebut dipertanyakan efektivitasnya.

Apa pun yang bisa kamu lakukan saat ini untuk mengurangi angka penyebaran wabah, lakukanlah. Dengan disiplin pakai masker, jaga jarak, serta rajin cuci tangan, menerapkan pola hidup sehat, dan mematuhi protokol kesehatan yang berlaku, risiko penularan COVID-19 bisa diminimalkan. Bukan hanya untukmu, tapi juga untuk orang-orang di sekitarmu.

Baca Juga: Penyataan WHO: Merokok Bisa Memperparah Infeksi COVID-19

Berita terkait: