2022, Zimbabwe Akan Capai Ketahanan Pangan

Zimbabwe menargetkan pencapaian ketahanan pangan pada tahun 2022. Seperti dilaporkan Xinhua, Kamis (8/4/2021), negara ini akan meningkatkan pendapatan rumah tangga sebesar 100% pada tahun 2024.

Menurut Menteri Pertanian Anxious Masuka, selain menghapus impor pangan yang mengakibatkan tagihan impor membengkak, pemerintah juga menargetkan penambahan nilai 40%. Pemerintah juga akan menciptakan sekitar 1 juta lapangan kerja, dan meningkatkan total ekspor hingga 60% pada tahun 2024.

Selain itu, kata Masuka, pemerintah juga menargetkan untuk mengubah sekitar 18.000 petani skala kecil menjadi pengusaha pertanian pada tahun 2025.

Target ambisius tersebut menyusul peluncuran Strategi Transformatif Sistem Pertanian dan Ketahanan Pangan (AFTSTS) tahun lalu dengan tujuan untuk mempercepat produksi, produktivitas, dan pertumbuhan pertanian.

BACA JUGA

Wapres Zimbabwe Mengundurkan Diri

Berbicara pada peluncuran resmi musim pemasaran tembakau Zimbabwe 2021 di Harare, Masuka mengatakan sektor pertanian adalah salah satu sektor utama dalam upaya Zimbabwe mencapai status ekonomi berpenghasilan menengah ke atas pada tahun 2030.

Di sektor tembakau, yang merupakan penghasil devisa kedua setelah emas, Masuka mengatakan pemerintah telah mengembangkan strategi transformasi nilai tambah tembakau. Strategi ini dapat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi petani tembakau dan industri pada umumnya untuk meningkatkan produksi.

“Strategi transformasi rantai nilai tembakau ini memungkinkan intensifikasi produksi tembakau dengan meningkatkan transparansi dan pemasaran tembakau yang adil, reformasi, restrukturisasi dan pembangunan kembali kelembagaan yang ada guna mengoptimalkan pembiayaan rantai nilai tembakau,” ujarnya.

BACA JUGA

Zimbabwe Terima Sumbangan 200.000 Dosis Vaksin Covid-19 dari Tiongkok

Sementara itu, tahun 2021, Zimbabwe mengantisipasi rekor panen jagung sejak Program Reformasi Tanah pada awal 2000-an, dengan 2,8 juta ton diharapkan akan dikirim ke Grain Marketing Board ( GMB).

Produksi jagung menurun secara signifikan selama beberapa tahun terakhir karena gangguan yang disebabkan oleh program reformasi lahan, yang sangat mempengaruhi kapasitas negara untuk memenuhi kebutuhan biji-bijiannya.

Pada musim tanam 2020/2021, luas areal tanaman di dalam negeri meningkat 23% antara lain didorong oleh curah hujan yang melimpah yang diterima musim ini, distribusi input yang lebih awal dan dukungan dari pemerintah kepada petani.

Berita terkait: