20.000 Warteg Jabodetabek Terancam Tutup, Kemenkop UKM Minta Kepastian Data

Ketua Koordinator Komunitas Warung Tegal Nusantara (Kowantara) Mukroni mengatakan, 20.000 usaha warung tegal (warteg) di Jabodetabek terancam tutup akibat pandemi covid-19. Ini dipicu adanya gagal bayar dari pelaku usaha untuk memperpanjang sewa tempat.

Menyikapi hal itu, Staf Ahli Bidang Hubungan Antar Lembaga, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Luhur Pradjarto meminta asosiasi memberikan kepastian dari data tersebut.

“Ini perlu diklarifikasi betul apalagi datanya sampai 20 ribu. Ini bukan angka yang sedikit,” kata Luhur dalam Mini Talkshow bertajuk Inovasi Warung Makan Menghadapi Pandemi, Jakarta , Jumat (22/1).

Menurutnya, angka 20.000 bukan jumlah yang sedikit. Sehingga bila data tersebut benar, maka perlu mendapat perhatian lebih.

Dia menilai kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di akhir tahun 2020 menjadi salah satu pemicunya. Apalagi sejak akhir tahun lalu sampai sekarang, pemerintah melakukan pembatasan kegiatan masyarakat.

“Mungkin ada yang tutup ini karena pembatasan pergerakan. Kita sebagai masyarakat diminta untuk stay di rumah,” kata dia.

Namun, bagi penjual warteg yang juga menjajakan dagangannya di platform digital tidak akan bernasib serupa. Sebab mereka tidak kehilangan pelanggan karena memasarkan produknya secara online.

“Saya yakin anggota Wahyoo tidak kesulitan karena dagangannya dipasarkan secara online,” kata luhur.

Untuk itu, kondisi ini harus dicermati dan dikoordinasikan dengan Dinas Koperasi setempat agar bisa segera diatasi, sehingga tidak menjadi bumerang yang bisa menambah jumlah pengangguran. “Jangan sampai ini menjadi bumerang atau menambah pengangguran yang biasa,” tandasnya.

Gabung ke Wahyoo

Sementara itu, CEO Wahyoo, Peter Shearer menilai, data 20.000 tersebut bukan berasal dari data akurat, melainkan berdasarkan taksiran saja. “Buat kami itu angka tidak benar, dan bukan dari data yang pasti,” kata Peter.

Peter pun mengaku sedang mencari tahu kebenaran data tersebut. Dia ingin mengetahui secara pasti, siapa saja pelaku usaha kuliner yang terancam menutup usahanya.

“Kami beruasaha menggali informasi ini. Siapa saja yang kena imbasnya,” kata dia.

Namun bila benar adanya, dia bermaksud ingin menggandeng para pelaku usaha untuk bergabung dengan Wahyoo. Sehingga tidak perlu perlu gulung tikar. “Ini angka yang penting buat bantu mereka. Sehingga 20 ribu pelaku usaha ini bisa ikut program Wahyoo dan bisa survive,” kata dia.

Wahyoo dengan tangan terbuka akan berupaya memberikan solusi lewat berbagai program yang dimiliki. Tak terkecuali soal pembiayaan. “Ini bisa dirangkul kami dan bisa bersama-sama mempunyai semangat warung makan bisa dengan program yang kami berikan,” kata dia mengakhiri.

Baca juga:
Pemerintah Targetkan 6 Juta UMKM Go Digital Tahun Ini
Pemerintah Tetap Lanjutkan Bantuan Permodalan UMKM di 2021
CEK FAKTA: Hoaks Tautan Pendaftaran Bansos UMKM Tahan II
Survei: UMKM Kesulitan Bayar Utang dan Sewa Tempat Selama Pandemi Covid-19
Cerita Mantan TKW Buka Usaha Kuliner di Banten, Raum Omzet Rp650.000 per Hari
Menengok Dampak Rencana Merger Gojek dan Tokopedia Bagi UMKM

Berita terkait: