Published On: Rab, Sep 4th, 2019

Melek Indonesia: Jakarta, Dalam Kenangan Ibukota Oleh: Pramudya Adwin

Share This
Tags

Ibukota Indonesia akan pindah. Well. Dari sudut pandang masyarakat –khususnya etnis betawi– tidak akan menimbulkan masalah.

Baik secara ekonomi, sosial maupun politik. Entah bagi urban yang tinggal di Jakarta. Seperti pekerja ojek on line dan pedagang. Bagi urban yang bekerja di suatu perusahaan pun, mungkin tidak masalah sepanjang perusahaannya masih produktif dan tidak ikut pindah ke ibukota yang baru. Bila perusahaannya pindah, mungkin ada yang khawatir akan mengalami kesulitan dalam hal tempat tinggal.

Apakah di ibukota yang baru nanti, soal rumah –tempat tinggal– seperti di Jakarta? Ada kontrakan yang kisarannya Rp.500,000,- per bulan.Begitu pun dari sisi politik. Pindahnya ibukota tidak akan berdampak yang drastis bagi masyarakat betawi. Selama ini antusiasme masyararakat betawi dalam aktifitas politik di ibukota Jakarta tidak sampai membuat gejolak.

Seperti pada pemilihan gubernur (pilgub) DKI Jakarta. Antusiasme masyarakat betawi tidak menimbulkan tindakan brutal padahal mayoritas calon gubernurnya non betawi. Yang muncul ke permukaan ibukota Jakarta sebatas Forum Betawi Rempug (FBR) dan FPI (Front Pembela Islam).

Kedua Lembaga Swadaya Masyarkat (LSM) ini pun tidak diikuti oleh 100% masyarakat betawi. Bahkan FPI, kini, sedang memasuki fase pembekuan. Menanggapi hal ini, lagi-lagi suara masyarakat betawi terbilang landai saja. Nggak bising apalagi bergemuruh.Peristiwa demonstrasi 212 yang menghebohkan itu pun, yang massanya datang dari luar propinsi DKI Jakarta, orang betawi tidak memperlihatkan diri sebagai masyarakat yang brutal.

Keikut-sertaan masyarakat betawi pada peristiwa 212 lebih dimotivasi alasan agama. Ya. Fanatisme agama –terhadap agama Islam– di dalam masyarakat betawi memang kental.Dan ketika nanti ibukota telah pindah dari Jakarta ke Penajam, Kutainegara, Kalimantan Timur, sungguh tak akan ada sebutir airmata pun yang diteteskan oleh masyarakat betawi. Bahkan bisa sebaliknya.

KAMPUNG BETAWI Sebagian masyarakat betawi gembira karena mereka yang saat ini berada di pinggir akan berusaha masuk kembali. Ya. Tidak sedikit orang betawi yang terpaksa minggir. Umumnya mereka adalah korban “ganti rugi” – begitu bahasa rezim orde baru ketika menggusur lahan milik orang betawi untuk kepentingan umum. Saat itu, gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin menjadi pelaksana proses penggusuran. Dan dia, Ali Sadikin  luput, tidak menyiapkan perkampungan baru bagi orang-orang betawi yang digusur.

Pemindahan kampung orang betawi yang tersisa adalah di bilangan tebet, pindahan dari kompleks olahraga Gelora Bung Karno. Dan ini terjadi di bawah kontrol langsung Presiden Soekarno.Betapapun, secara sosiologis Jakarta sebagai Ibukota Negara telah berhasil dengan gemilang. Bumi Jakarta serta masyarakat betawi dengan lapang hati menerima etnis lain dari sabang sampai merauke. Bahkan tidak sedikit expatriat (pekerja bangsa asing) yang akhirnya menetap di Jakarta. Dan mereka dengan luwes berbahasa betawi.

Dan betapa tipisnya perbedaan bahasa Indonesia dengan bahasa betawi.Betapapun Jakarta sering dilanda banjir, tidak menjadikan mereka kapok, jera tinggal di Jakarta. Bahkan setelah peristiwa 1998 rubuhnya rezim orde baru yang diiringi dengan peristiwa tragis, pembakaran, penjarahan hingga pemerkosaan yang dialami oleh wanita etnis China, mereka yang meninggalkan Jakarta pun datang kembali. Peristiwa diturunkannya Soeharto sebagai presiden secara paksa itu, dengan meninggalkan kebrutalan kemanusian, hingga kini belum diketahui siapa aktor penggeraknya.

Seluruh peristiwa seolah usai dengan dicopotnya Let.Jend. Prabowo Subianto dari jabatannya sebagai komandan Kostrad – Komando Strategis Angkatan Darat, sekaligus dipecat sebagai anggota TNI (Tentara Nasional Indonesia).Setelah peristiwa 1998 itu, “magnit” Jakarta kembali memanggil masyarakat Indonesia datang ke Jakarta. Jadilah Jakarta sebagai The City Never Sleep – kota yang tak pernah tidur. Bisnis dan entertain (hiburan) berpadu membius, melenakan semua orang yang datang ke Jakarta.

Kini, tak lama lagi, Jakarta bukan lagi Ibukota Negara Indonesia. Jakarta akan menjadi megapolitan dengan identitas sebagai propinsi Daerah Khusus Jakarta. Dengan meninggalkan catatan sebagai Ibukota tiga jaman: orde lama, orde baru dan reformasi. Juga kota pusat pergerakan menuju Indonesia merdeka. Tentu, tak bisa dinafikan bahwa sejak merdeka hingga “dilepaskan” sebagai ibukota, Jakarta banyak “melahirkan” koruptor, menjadi kota pertama menyebarnya narkoba. Tak bisa menjadi kota (sebagai ibukota) yang melambangkan keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. 

Harapan menuju masyarakat yang adil makmur dan sejahtera sebagaimana butir sila ke-5 Pancasila yang merupakan tujuan Indonesia merdeka, HARUS menjadi motivasi utama pindahnya Ibukota Negara ke kota Penajam, Kutainegara, Kalimantan Timur.

Bukan hanya karena Jakarta sudah terlampau padat.Parameter keberhasilan pemerintah di dalam mewujudkan keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyatnya dari ibukota yang baru nanti, akan dapat dilihat dari menurunnya tingkat korupsi di sana. Juga bersihnya ibukota baru dari kejahatan narkoba serta kenyaman semua etnis Nusantara yang akan berumah di sana.Korupsi dan narkoba membuat Indonesia tak bisa mewujudkan  kemakmuran bagi rakyatnya.

Tak bisa menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa besar sebagaimana di awal-awal tahun kemerdekaannya. Bangsa yang memelopori Konferensi Negara Asia Afrika di Bandung tahun 1955. Bangsa yang melahirkan Ganefo, pesta olahraga dunia di Jakarta tahun 1964. Indonesia bangsa yang besar. Di mana pun ibukotanya. Itu saja. ***

Penulis adalah  pekerja broadcast, pemerhati sosial dan politik.